Trump Ungkap Taktik AS-Israel Bunuh Khamenei dalam Serangan Presisi di Teheran

VIVA Militer: Pemimpin revolusi Iran, Ayatollah Ali Khamenei
VIVA Militer: Pemimpin revolusi Iran, Ayatollah Ali Khamenei

 Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah tewas dalam serangan gabungan Amerika dan Israel.

Citra satelit menunjukkan kerusakan pada kompleks kediaman Khamenei di Teheran pada Sabtu pagi setelah serangan tersebut, dan Perdana Menteri Israel mengatakan ada tanda-tanda yang semakin jelas bahwa ia "telah tiada". 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Media pemerintah Iran telah mengkonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas di kantornya dalam serangan gabungan Israel-AS terhadap Iran, menyusul laporan sebelumnya tentang kematiannya oleh pejabat AS dan Israel. 

Awalnya, media pemerintah Iran membantah bahwa Khamenei telah meninggal, dengan kantor berita Tasnim dan Mehr mengatakan bahwa ia "teguh dan mantap dalam memimpin medan perang". 

Namun kemudian dikonfirmasi dalam pidato oleh seorang pembicara yang menangis, yang mengatakan bahwa negara itu akan memasuki masa berkabung selama 40 hari untuk pemimpin Iran yang telah lama berkuasa itu.  

"Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran gugur di tempat kerjanya di Beit Rahbari (kompleks kediamannya),” demikian bunyi akun Telegram kantor berita pemerintah IRIB.

"Beliau sedang menjalankan tugas yang diberikan dan berada di tempat kerjanya (kantornya) pada saat gugur, dan serangan ini terjadi pada dini hari Sabtu," lanjut unggahan tersebut.

Ratusan orang dilaporkan tewas di seluruh negeri. Sebagai tanggapan, Iran melancarkan serangan di seluruh Timur Tengah, dengan serangan dilaporkan di sejumlah negara dengan pangkalan AS atau sekutu AS. 

Presiden AS Donald Trump menulis dalam sebuah unggahan di platform Truth Social miliknya pada Sabtu, hari dimulainya serangan, dengan mengatakan bahwa Khamenei yang berusia 86 tahun tewas dalam serangan gabungan AS-Israel.

"Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah mati," tulis Trump di platform Truth Social miliknya. 

Trump mengatakan: "Ini bukan hanya keadilan bagi rakyat Iran, tetapi juga bagi semua warga Amerika yang hebat." 

Trump menegaskan bahwa Khamenei terlacak dalam sistem intelijen dan pelacakan canggih AS. Pihaknya telah menargetkan serangan secara presisi. 

"Dia [Khamenei] tidak dapat menghindari Sistem Intelijen dan Pelacakan Canggih kami dan, bekerja sama erat dengan Israel, tidak ada yang bisa dia, atau para pemimpin lain yang telah tewas bersamanya, lakukan," tegas Trump 

30 Bom Dijatuhkan

Menurut media Israel, Khamenei berada di ruang bawah tanah di kediamannya. AS dan Israel dilaporkan menjatuhkan sekitar 30 bom untuk menargetkan Khamenei dan beberapa pejabat terdekatnya di lokasi tersebut.

Media Israel tanpa sumber mengatakan Israel, setelah berkoordinasi dengan AS, menjatuhkan sekitar 30 bom di kompleks kediaman Khamenei, dan bahwa Khamenei berada di bawah tanah di lokasi tersebut, tetapi bukan di salah satu dari dua bunker terdalam yang hanya dapat ditembus oleh bom AS. 

Laporan ini juga mengklaim sekretaris militer Khamenei tewas, beserta anggota keluarga Khamenei yang tidak disebutkan namanya. Citra satelit menunjukkan kompleks tersebut sebagian besar hancur.

Sejumlah petinggi Iran dilaporkan media Israel telah tewas dalam serangan tersebut. Beberapa diantaranya sedang melangsungkan pertemuan dengan Khamenei pada hari serangan tersebut.

Sumber-sumber Israel mengatakan bahwa komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran, Jenderal Mohammad Pakpour, dan menteri pertahanan Iran Aziz Nasirzadeh tewas dalam serangan tersebut. Selain itu, kepala angkatan darat Iran, Sayyid Abdolrahim Mousavi, menjadi sasaran, begitu pula seorang calon penerus Khamenei yang terkemuka, Ali Larijani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

Ali Shamkhani, mantan kepala Angkatan Laut IRGC dan kepala angkatan darat Iran, juga menjadi sasaran. Namun demikian, laporan kematian tersebut  belum dikonfirmasi oleh Iran.  

Trump memperingatkan bahwa kematian Khamenei tidak berarti serangan AS-Israel berhenti. Ia memastikan serangan besar-besaran akan terus berlanjut tanpa henti. "Namun, pemboman besar-besaran dan tepat sasaran akan terus berlanjut, tanpa henti sepanjang minggu ini atau, selama diperlukan untuk mencapai tujuan kami," ungkapnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Ini adalah kesempatan terbesar bagi rakyat Iran untuk merebut kembali negara mereka," katanya."Semoga IRGC [Korps Garda Revolusi Islam] dan Kepolisian akan bergabung secara damai dengan para Patriot Iran."