Kisah Pilu Hisyam, Jadi Yatim Piatu Setelah Ayah, Ibu, dan Adiknya Tewas Kecelakaan Bus di Bromo

Jawa Timur, yatim piatu, kecelakaan bus di bromo, Muhammad Hisyam Al Azzam, korban kecelakaan bus bromo, Kisah Pilu Hisyam, Jadi Yatim Piatu Setelah Ayah, Ibu, dan Adiknya Tewas Kecelakaan Bus di Bromo, Tangis Hisyam di Desa Serut, Janji Pendidikan Ditanggung RSBS, Fakta Bus Pariwisata yang Celakai Rombongan Nakes, Dugaan Rem Blong, 8 Orang Tewas

Kesedihan mendalam masih terpancar dari wajah Muhammad Hisyam Al Azzam.

Tatapan bocah 10 tahun itu kosong ketika Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memeluk tubuh mungilnya.

Hisyam kini harus menanggung kenyataan pahit: kehilangan ayah, ibu, sekaligus adiknya dalam sekejap.

Orangtua Hisyam, Hendra Pratama dan Wardatus Soleha, bersama adiknya, Aiza Fahrani Agustin, meninggal dunia dalam kecelakaan bus di jalur Bromo pada Minggu (14/9/2025). Dunia bocah kelas 4 SD itu pun seketika runtuh.

Tangis Hisyam di Desa Serut

Kesedihan itu makin terasa ketika Hisyam melihat jenazah ayah, ibu, dan adiknya diturunkan dari ambulans di Desa Serut, Kecamatan Panti, Jember. Jenazah mereka kembali dishalatkan sebelum dimakamkan.

Tangisnya pecah, seolah ia masih tak percaya bahwa orang-orang terkasihnya telah tiada.

Lusiana Agustin, kakak kandung Hendra, mengungkapkan bahwa keponakannya itu sebenarnya sempat diajak ikut ke Bromo. Namun, Hisyam memilih untuk tidak berangkat.

“Ini diajak tapi dianya yang enggak mau,” kata Lusiana sambil menatap Hisyam.

Tinggal Bersama Kakek-Nenek

Kini, Hisyam akan tinggal bersama kakek dan nenek dari pihak ibunya di Desa Serut. Keputusan itu diambil berdasarkan permintaan Hisyam sendiri.

“Maunya ikut sama pihak Mbak Wardah karena sekolahnya ngajinya juga di situ,” ujar Lusiana, Senin (15/9/2025).

Sejak kecil, Hisyam memang tinggal bersama orangtuanya di desa tersebut. Kehilangan yang ia alami membuat keluarganya berusaha menjaga agar masa depannya tetap terjamin.

Janji Pendidikan Ditanggung RSBS

Lusiana berharap janji pihak Rumah Sakit Bina Sehat (RSBS), tempat Hendra bekerja, benar-benar ditepati. Direktur RSBS, dr Faida, sebelumnya menyatakan bahwa biaya pendidikan Hisyam akan ditanggung hingga perguruan tinggi.

Sebagai ahli waris, Hisyam telah menerima sejumlah santunan. Antara lain:

  • Rp 100 juta dari Jasa Raharja,
  • Rp 72,6 juta pesangon ayahnya dari RSBS,
  • Rp 10 juta dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur,
  • Rp 142,8 juta dari klaim BPJS Ketenagakerjaan atas nama Hendra.

Dukungan finansial itu diharapkan bisa membantu meringankan beban hidup bocah 10 tahun tersebut.

Fakta Bus Pariwisata yang Celakai Rombongan Nakes

Diberitakan sebelumnya, penyelidikan awal oleh Polda Jatim mengungkap bahwa bus pariwisata yang mengalami kecelakaan di jalur Gunung Bromo, Probolinggo, memiliki surat layak jalan.

Kecelakaan itu terjadi pada Minggu (14/9/2025) pukul 11.30 WIB. Bus yang mengangkut rombongan tenaga kesehatan (nakes) dari Rumah Sakit Bina Sehat, Jember, melintasi Jalan Raya Bromo, Desa Boto, Kecamatan Lumbang, sepulang dari wisata merayakan kelulusan.

Menurut Dirlantas Polda Jatim, Kombes Pol Iwan Saktiadi, hasil pemeriksaan sementara oleh tim Traffic Accident Analysis (TAA) Ditlantas Polda Jatim bersama Mabes Polri dan KNKT, menunjukkan bahwa bus tersebut dinyatakan layak jalan.

“Berdasarkan atas dikeluarkannya surat laik jalan, kondisi bus tersebut secara teknis dinyatakan layak jalan,” ujar Iwan, Selasa (16/9/2025).

Ia menambahkan, seluruh administrasi kendaraan dan pengemudi juga lengkap. “Artinya KIR dalam kondisi lengkap, kemudian administrasi lainnya, baik itu kendaraan maupun pengemudinya juga lengkap, STNK, pengemudi sendiri juga SIM-nya juga sesuai dengan klasifikasi, di mana membawa kendaraan yang mengambil penumpang atau bus umum,” jelasnya.

Dugaan Rem Blong, 8 Orang Tewas

Bus pariwisata bernomor polisi P 7221 UG tersebut terdaftar atas nama PT Indra Jaya Bersama dan masih memiliki izin angkutan hingga 3 Oktober 2025. Informasi surat laik jalannya bahkan tercatat di laman resmi mitradarat.dephub.go.id.

Meski begitu, penyebab kecelakaan masih dalam penyelidikan. Dugaan sementara, bus mengalami gagal fungsi rem saat melintasi jalan menurun dan menikung di Desa Boto, Lumbang.

Bus IND’S 88 Trans itu menabrak pembatas jalan di jalur kanan dan terseret sekitar 60 meter sebelum berhenti. Dalam perjalanannya, bus juga menabrak sepeda motor N 2856 OE yang dikendarai Abdul Malik. Beruntung, pengendara motor selamat tanpa mengalami luka serius.

Dari total 52 penumpang, delapan orang meninggal dunia dan 44 orang lainnya mengalami luka-luka. Sopir bus, Al Bahri, juga dilaporkan terluka. Hingga kini, belum ada penetapan tersangka dalam kasus tersebut.

Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.