Profil Denada, Penyanyi Era 90-an yang Digugat atas Dugaan Penelantaran Anak
Nama Denada menjadi sorotan publik setelah seorang pemuda berusia 24 tahun mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Banyuwangi dan mengaku sebagai anak kandungnya.
Gugatan tersebut dilayangkan dengan tuduhan penelantaran anak dan saat ini masih dalam tahap mediasi.
Di tengah proses hukum yang berjalan, sosok Denada dikenal luas sebagai penyanyi yang telah malang melintang di industri hiburan Indonesia sejak era 1990-an.
Ia merupakan figur publik dengan perjalanan karier panjang, mulai dari rapper papan atas, penyanyi dangdut, hingga pemain sinetron dan film.
Awal karier dan julukan ratu rap Indonesia
Denada Elizabeth Anggia Ayu Tambunan lahir dari pasangan Emilia Contessa dan Rio Tambunan.
Perempuan yang kini berusia 47 tahun itu mengawali kariernya di dunia musik pada 1994 sebagai penyanyi rap.
Namanya melesat dan ia dijuluki sebagai salah satu rapper perempuan terpopuler di Indonesia pada masanya.
Salah satu lagu yang paling melekat dari fase awal karier Denada adalah Kujelang Hari, yang membuat namanya dikenal luas di kalangan penikmat musik Tanah Air.
Seiring waktu, Denada terus mengembangkan kariernya dengan merilis sejumlah album dan menjajal berbagai genre musik.
Emilia Contessa dan Denada
Daftar album dan karya musik Denada
Sepanjang kariernya, Denada telah merilis sejumlah album, baik di genre rap maupun dangdut.
Album rap:
- Kujelang Hari (1994)
- Ini Album Gue (1997)
- Awal Baru (2000)
- Call Me Dena
Setelah sempat melanjutkan pendidikan ke Australia dan kembali ke Indonesia pada awal 2000-an, Denada beralih ke genre dangdut.
Ia sempat merilis beberapa album dangdut bertajuk:
- Matahari
- Dangdut Gaul
- Mae
- ST
- One Stop Dangdut
Sepanjang perjalanan karier musiknya, Denada juga pernah meraih Anugerah Musik Indonesia (AMI) 2005.
Penghargaan itu menegaskan posisinya sebagai salah satu musisi perempuan yang bertahan lintas generasi.
Aktivitas di dunia seni peran dan politik
Selain bermusik, Denada juga menjajal dunia seni peran baik sinetron maupun film.
Ia tercatat pernah bermain dalam sejumlah sinetron seperti Jumirah ke Hollywood, Rahasia Ilahi, Cahaya Surga.
Sementara untuk film layar lebar, ia pernah bermain di film seperti Kau & Aku Cinta Indonesia (2014) dan Bulan Darah (2025).
Denada juga sempat terjun ke dunia politik. Pada Pemilu Legislatif 2019, ia maju sebagai calon anggota DPR RI dari Partai Amanat Nasional (PAN) untuk daerah pemilihan Jawa Timur VIII.
Namun, langkah politik tersebut belum mengantarkannya ke Senayan.
Gugatan atas dugaan penelantaran anak
Denada kembali menjadi sorotan setelah Ressa, pemuda 24 tahun, menggugatnya dengan tuduhan penelantaran anak.
Kuasa hukum Ressa, Moh Firdaus Yuliantono, menyebut kliennya selama ini dibesarkan oleh bibi Denada dan baru mengetahui asal-usulnya setelah lulus SMA.
"Dia sering mendengar selentingan bahwa dirinya bukan anak bibinya Denada, melainkan anak Denada. Hal itu baru ia ketahui secara pasti setelah lulus SMA," ujar Firdaus, dikutip dari TribunJatim-Timur.com, Jumat (9/1/2026).
Sementara itu, Denada melalui kuasa hukumnya, Muhammad Iqbal, menyatakan siap menghadapi proses hukum yang berjalan, meski mengaku baru mengetahui isi gugatan secara lengkap setelah mediasi dilakukan.
"Jadi, terkait isi gugatan, konstruksi hukumnya, apa yang diminta, apa yang dimasukkan, masih belum jelas bagi kami," kata Iqbal.
Hingga kini, perkara tersebut masih bergulir di Pengadilan Negeri Banyuwangi dan menunggu kelanjutan proses hukum berikutnya.
Sebagian artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul "Denada Elizabeth Anggia Ayu Tambunan".
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang