Alarm Kesehatan! Kasus Penyakit Jantung di Indonesia Terus Meningkat
Penyakit kardiovaskular atau penyakit jantung dan pembuluh darah masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat global, termasuk di Indonesia. Data terbaru menunjukkan bahwa tren kasus penyakit ini terus mengalami peningkatan, sehingga memerlukan perhatian khusus dari berbagai pihak, baik tenaga medis maupun masyarakat umum.
Berdasarkan data World Health Organization (WHO), pada tahun 2022 penyakit kardiovaskular menyebabkan sekitar 19,8 juta kematian atau setara dengan 32 persen dari total kematian dunia. Angka ini menegaskan bahwa penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian tertinggi secara global. Scroll lebih lanjut yuk!
Di Indonesia sendiri, prevalensi penyakit jantung juga menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Pada tahun 2023, prevalensinya mencapai 1,08 persen atau sekitar 2,29 juta orang, meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 2013.
Kondisi ini mendorong pentingnya penguatan strategi pencegahan yang lebih efektif dan berbasis bukti ilmiah. Salah satu pendekatan yang kini mendapat perhatian adalah pemanfaatan kalsifikasi koroner sebagai indikator dini dalam mendeteksi risiko penyakit jantung. Hal ini menjadi fokus dalam orasi ilmiah Prof. Dr. dr. Antonia Anna Lukito, Sp.JP(K), FIHA, FAPSIC, FAsCC, FSCAI saat dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Jantung dan Pembuluh Darah di Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK UPH) pada 28 Maret 2026.
Dalam paparannya, Prof. Antonia menjelaskan bahwa kalsifikasi koroner merupakan kondisi penumpukan kalsium pada dinding pembuluh darah arteri koroner yang berfungsi menyuplai darah ke jantung. Kondisi ini umumnya terjadi akibat proses penuaan serta paparan faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, dan kadar kolesterol tinggi. Lebih dari sekadar temuan radiologis, kalsifikasi koroner mencerminkan proses biologis jangka panjang yang terjadi pada dinding arteri.
“Kalsifikasi koroner memberikan bukti anatomis nyata dari proses aterosklerosis, yaitu kondisi penyempitan dan pengerasan pembuluh darah akibat penumpukan plak. Semakin tinggi tingkat kalsifikasi, semakin besar kemungkinan adanya plak aterosklerotik yang luas dan bermakna secara klinis. Karena itu, kalsifikasi koroner menjadi parameter objektif yang mampu merepresentasikan berbagai proses biologis dalam pembuluh darah,” jelas Prof. Antonia.

Lebih lanjut, kalsifikasi koroner dapat berperan sebagai “jendela” bagi tenaga medis untuk melihat proses penuaan arteri atau arterial aging yang sering berlangsung tanpa gejala dalam waktu lama. Dengan kemajuan teknologi pencitraan kardiovaskular, kondisi ini kini dapat dideteksi lebih dini, sehingga memungkinkan dokter melakukan stratifikasi risiko secara lebih akurat.
Pendekatan ini juga membuka peluang untuk penerapan strategi pencegahan yang lebih personal dan tepat sasaran. Bagi individu dengan kalsifikasi koroner, intervensi medis dapat dilakukan lebih dini. Sementara itu, pada individu tanpa kalsifikasi, pendekatan dapat difokuskan pada perubahan gaya hidup dan pemantauan berkala.
“Pendekatan kalsifikasi koroner memberikan dimensi baru dalam pencegahan penyakit kardiovaskular, khususnya pada kelompok pasien dengan risiko menengah atau tidak pasti. Kita tidak lagi hanya bergantung pada faktor risiko konvensional, tetapi juga pada bukti langsung dari proses aterosklerosis untuk menentukan langkah terapi yang lebih tepat. Selain itu, pemahaman terbaru menunjukkan bahwa bukan hanya jumlah kalsium yang penting, tetapi juga karakteristiknya, seperti volume dan densitas, yang dapat mencerminkan stabilitas plak. Hal ini membuka peluang bagi pendekatan pencegahan yang lebih presisi, personal, dan berbasis dinamika penyakit,” papar Prof. Antonia.
Seiring dengan perkembangan teknologi, pemanfaatan kecerdasan buatan juga mulai diintegrasikan dalam analisis pencitraan kardiovaskular. Hal ini memungkinkan proses diagnosis menjadi lebih konsisten, efisien, dan terintegrasi, bahkan membuka peluang skrining oportunistik, terutama di negara dengan sumber daya terbatas seperti Indonesia.
“Pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, membuka peluang baru dalam menjadikan kalsifikasi koroner sebagai alat skrining yang lebih luas dan efisien. Namun, penerapannya harus tetap mempertimbangkan konteks lokal, agar dapat memberikan manfaat optimal dalam memperkuat pencegahan penyakit kardiovaskular, baik pada tingkat individu maupun populasi,” ujar Prof. Antonia.
Dengan meningkatnya angka kasus penyakit jantung di Indonesia, kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini dan menerapkan gaya hidup sehat menjadi semakin penting. Kolaborasi antara tenaga medis, pemerintah, dan masyarakat diharapkan mampu menekan laju peningkatan kasus serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.