Tren Penyakit Jantung Berubah, Dokter Ingatkan Bahaya Gaya Hidup Modern
Dalam beberapa tahun terakhir, pola penyakit jantung di Indonesia mengalami perubahan yang cukup signifikan. Jika dahulu penyakit jantung rematik lebih banyak ditemukan akibat infeksi bakteri yang menyerang katup jantung, kini kasus tersebut mulai berkurang.
Sebaliknya, penyakit jantung koroner justru meningkat pesat dan menjadi penyebab utama kematian di banyak rumah sakit. Scroll lebih lanjut yuk!
Penyakit jantung sendiri terbagi dalam beberapa jenis, antara lain jantung koroner, gagal jantung, aritmia (gangguan irama jantung), kardiomiopati (kelemahan otot jantung), hingga penyakit katup jantung. Dari seluruh jenis tersebut, jantung koroner kini menjadi yang paling dominan. Kondisi ini terjadi akibat penyempitan pembuluh darah jantung yang menghambat aliran oksigen ke otot jantung, sehingga dapat memicu serangan jantung mendadak.
Pola hidup masyarakat modern juga menjadi pemicu utama meningkatnya angka penderita jantung koroner.
"Penyakit jantung paling banyak sekarang koroner. Dulu banyak jantung rematik, sekarang agak berkurang atau masih belum terdeteksi semua. Yang pasti koroner meningkat pesat karena risikonya ada di sekitar kita, mulai dari diabetes, merokok, hingga obesitas, kebiasaan kurang gerak, dan sebagainya,” ujar Ketua Umum PIKI 2025, dr. Sodiqur Rifqi, Sp.Jp, dalam acara Konferensi Pers Tahunan ISICAM 2025 di Jakarta, Kamis 6 November 2025.
Ia juga mengingatkan pentingnya perubahan pola makan dan kebiasaan sehari-hari.
“Kebiasaan kita seperti makan gorengan juga harus dikurangi. Saya lihat di kantor-kantor banyak yang beli gorengan, makan sampai habis, terus merokok,” tambahnya.
ISICAM 2025
Perubahan gaya hidup sederhana seperti rutin berolahraga, mengurangi makanan berlemak, serta berhenti merokok dapat menekan risiko penyakit jantung. Dengan kesadaran yang meningkat, diharapkan tren penyakit jantung koroner yang terus naik ini dapat ditekan di masa mendatang.
Perhimpunan Intervensi Kardiologi Indonesia (PIKI) kembali menggelar Indonesian Society of Interventional Cardiology Annual Meeting (ISICAM) ke-17 pada 5–8 November 2025 di Hotel Shangri-La, Jakarta. Tahun ini, konferensi tahunan terbesar di bidang intervensi kardiovaskular di Indonesia ini mengusung semangat “Back to Fundamentals – Kembali ke Fondasi, Maju dengan Inovasi”, menegaskan pentingnya pemahaman dasar, pengembangan ilmu, dan penerapan teknologi intervensi jantung yang presisi untuk hasil terapi yang lebih aman, efektif, dan efisien.