Harga Emas Bisa Anjlok 99,9 Persen! Analis Ungkap Risiko Ekstrem yang Perlu Diketahui Investor

Harga Emas.
Harga Emas.

Emas selama ini dianggap sebagai aset aman, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global. Namun, analis Peter Berezin, kepala strategi global sekaligus direktur riset di BCA Research, mengingatkan bahwa reli emas yang kuat akhir-akhir ini mulai menunjukkan tanda-tanda spekulasi berlebihan. 

Menurutnya, harga emas bisa saja bergerak terlalu jauh, terlalu cepat. Dalam catatan terbaru untuk investor, Berezin memaparkan skenario jangka panjang di mana emas secara teoritis bisa kehilangan hampir seluruh nilainya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berezin menilai, reli emas saat ini didorong oleh kekhawatiran nyata terhadap pelemahan mata uang, dengan menyoroti defisit anggaran pemerintah AS yang meningkat, beban utang yang tumbuh, dan kepemilikan aset AS oleh pihak asing yang tinggi. Hal ini membuat dolar AS rentan ketika sebagian investor mengurangi eksposur mereka.

“Meski volume fisik pembelian emas menurun, nilai dolar tetap meningkat,” tulis Berezin dalam catatan tersebut, sebagaimana dikutip dari Investing, Kamis, 5 Februari 2026.

Meski begitu, Berezin mencatat sinyal inflasi utama belum mengkonfirmasi narasi pelemahan mata uang. Ekspektasi inflasi jangka panjang tetap relatif stabil, sementara Bitcoin, yang sering disebut sebagai “emas digital”, sama sekali tidak mengikuti tren tersebut.

Di sisi lain, penunjukan Kevin Warsh oleh Presiden AS Donald Trump pekan lalu menambah tekanan turun pada harga emas. Berezin mengingat, Warsh dikenal menentang QE pada 2010, terakhir kali emas berada di tengah bull market.

BCA saat ini masih mempertahankan posisi emas dalam portofolionya, meski mungkin akan merealisasikan sebagian keuntungan saat harga menguat.

Membahas kenaikan dan penurunan tajam perak, Berezin menilai pergerakan tersebut lebih dipengaruhi spekulasi daripada fundamental, dengan aktivitas perdagangan tinggi di China dan investor kripto yang beralih ke perak.

Lebih jauh, Berezin menyoroti risiko ekstrem jangka panjang untuk emas, di mana teknologi memungkinkan emas diproduksi dalam jumlah besar. Saat ini, collider partikel sudah bisa menghasilkan emas dalam jumlah sangat kecil, dan riset tentang transmutasi atom bisa, secara teori, mengubah merkuri menjadi emas.

“Emas-197 (79 proton plus 118 neutron) adalah satu-satunya isotop emas yang stabil. Intinya mirip dengan Merkuri-198, yang memiliki satu proton lebih banyak daripada emas,” jelas Berezin. “Secara teori, jika atom merkuri dibombardir dengan neutron, merkuri bisa berubah menjadi emas melalui proses yang dikenal sebagai beta-plus decay,” ujarnya. 

“Teknologi ini saat ini jauh dari komersialisasi, tapi penting untuk bertanya bagaimana menilai emas jika kemungkinan alkimia menjadi nyata di masa depan yang didukung AI,” tambahnya.

Jika emas diproduksi secara massal, teori ekonomi menunjukkan nilainya akan runtuh mendekati nol, karena emas tidak menghasilkan yield dan harganya bergantung pada kelangkaan dan nilai terminal.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berezin menekankan, bahwa ia tidak terlalu serius dengan argumen ini, karena kemungkinan produksi emas laboratorium tidak pernah tercapai. Namun, eksperimen pemikiran ini menunjukkan pentingnya memperhatikan literatur fisika sama seperti diskusi pelemahan mata uang. 

Bagi investor di 2026, pemilihan investasi yang tepat tetap dimulai dari data yang lebih baik. Analisis berbasis intuisi kadang menyesatkan, sedangkan data dan wawasan berbasis AI membantu menemukan peluang investasi yang lebih potensial.