Gejala Penyakit Jantung Bawaan pada Anak hingga Teknik Penanganan Terbaru yang Minim Radiasi
Penyakit jantung bawaan masih menjadi salah satu masalah kesehatan serius yang sering ditemukan pada bayi dan anak-anak. Kondisi ini terjadi karena adanya gangguan struktur atau fungsi jantung sejak bayi masih berada di dalam kandungan. Sayangnya, banyak orang tua tidak menyadari tanda-tandanya karena gejalanya kerap dianggap sebagai keluhan biasa.
Kini, perkembangan teknologi medis menghadirkan metode terbaru bernama zero fluoroscopy ASD & VSD closure, sebuah teknik penutupan kelainan jantung bawaan tanpa paparan sinar-X yang dinilai lebih aman, terutama bagi anak-anak.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan RS Pondok Indah – Pondok Indah, dr. Yovi Kurniawati, menjelaskan bahwa penyakit jantung bawaan sebenarnya sudah terbentuk sejak janin berada di dalam rahim.
“Penyakit jantung bawaan yaitu karena struktur jantung dan fungsi dari sirkulasi jantung yang sudah ada sejak lahir. Jadi sebenarnya sudah terjadi pada saat pembentukan jantung waktu bayi masih di dalam rahim,” jelas dr. Yovi di Jakarta pada Kamis, 7 Mei 2026.
Penyakit Jantung Bawaan Paling Sering Terjadi pada Anak
Secara global, penyakit jantung bawaan diperkirakan terjadi pada 8-10 bayi dari setiap 1.000 kelahiran hidup. Di Indonesia sendiri, jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 50 ribu bayi setiap tahun.
Salah satu jenis yang paling sering ditemukan adalah Ventricular Septal Defect (VSD), yakni adanya lubang pada sekat bilik jantung. Selain itu ada juga Atrial Septal Defect (ASD), yaitu lubang pada sekat serambi jantung.
Dokter Yovi menyebut bahwa kelainan jantung bawaan sangat beragam. Ada yang ringan, tetapi ada juga yang kompleks.
“Kelainan ini bisa terjadi pada semua struktur tersebut, baik struktur maupun fungsinya. Ada yang hanya satu lubang pada sekatnya saja, tapi ada juga kelainan yang kompleks,” ujarnya.
Gejala yang Sering Tidak Disadari Orang Tua
Banyak orang tua baru mengetahui anaknya mengalami penyakit jantung bawaan setelah kondisinya memburuk. Padahal, ada sejumlah tanda yang sebenarnya bisa dikenali lebih awal.
Menurut Dokter Yovi, salah satu gejala paling umum adalah berat badan anak sulit naik meski sudah diberi asupan yang cukup.
“Pada bayi dia sulit menyusui karena sesak, sementara-sementara dia berhenti, keringatan kalau dia menyusui. Jadi menyusui itu merupakan suatu effort bagi mereka,” katanya.
Selain itu, anak juga bisa mengalami napas cepat, mudah lelah, sering infeksi paru berulang, hingga bibir dan kuku tampak kebiruan.
“Kalau yang biru ini, kita bisa lihat pada kuku, bibir, lidah, dan jari-jari tangan atau kaki,” jelasnya lagi.
Pada anak yang lebih besar, gejala lain bisa berupa mudah capek saat bermain dibanding teman seusianya.
Faktor Risiko Penyakit Jantung Bawaan
Hingga kini belum ada satu penyebab pasti penyakit jantung bawaan. Namun, dokter menyebut kondisi ini bersifat multifaktorial atau dipengaruhi banyak faktor.
“Kalau saya ditanya penyebabnya apa, saya bilang saya enggak tahu pasti. Jadi memang tidak ada satu penyebab yang bisa dibilang pasti menyebabkan penyakit jantung bawaan,” ungkap Dokter Yovi.
Meski begitu, ada beberapa faktor risiko yang diketahui dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kelainan jantung bawaan, seperti infeksi rubella saat hamil, diabetes pada ibu, hipertensi, konsumsi alkohol, hingga faktor genetik tertentu.
Teknologi Baru Penanganan Jantung Bawaan Tanpa Sinar-X
Kabar baiknya, penanganan penyakit jantung bawaan kini semakin berkembang. Salah satu inovasi terbaru adalah zero fluoroscopy ASD & VSD closure.
Teknik ini memungkinkan dokter menutup lubang pada jantung tanpa menggunakan fluoroskopi atau sinar-X. Sebagai gantinya, prosedur dipandu menggunakan teknologi ekokardiografi real-time.
“Prosedur ini hanya menggunakan guiding dari echo saja, jadi tidak menggunakan fluoroscopy,” katanya menjelaskan.
Metode ini dinilai lebih aman karena mengurangi risiko paparan radiasi, baik untuk pasien maupun tenaga medis.
“Tujuannya untuk mengurangi dosis radiasi yang kita terima, bukan cuma buat pasien, tapi juga buat dokternya,” lanjutnya.
Teknik ini juga disebut memiliki tingkat keberhasilan tinggi dan komplikasi yang minimal. Saat ini, prosedur tersebut sudah banyak digunakan untuk kasus ASD, VSD, dan PDA yang termasuk penyakit jantung bawaan tidak biru.
Pentingnya Deteksi Dini
Dokter Yovi menekankan bahwa deteksi dini menjadi kunci penting agar anak dengan penyakit jantung bawaan bisa mendapatkan penanganan tepat waktu.
Kini, pemeriksaan bahkan bisa dilakukan sejak bayi masih di dalam kandungan melalui fetal echocardiography.
“Dengan fetal echo, penyakit jantung bawaan sudah bisa kita deteksi sebelum bayi lahir, paling cepat usia kehamilan 20 minggu,” jelasnya.
Karena itu, orang tua diimbau tidak mengabaikan gejala sekecil apa pun, terutama jika anak tampak mudah lelah, sulit menyusu, atau berat badannya sulit bertambah. Semakin cepat terdeteksi, peluang penanganan yang optimal pun akan semakin besar.