Jangan Lengah Hantavirus, Dokter Ungkap Gejala Awal yang Sering Diabaikan!

Ilustrasi tikus.
Ilustrasi tikus.

 Belakangan ini, Hantavirus mulai ramai diperbincangkan setelah muncul laporan sejumlah penumpang kapal pesiar MV Hondius tujuan Tenerife, Spanyol, terinfeksi virus tersebut. Dari kasus yang dilaporkan, tiga orang dikabarkan meninggal dunia akibat infeksi yang tergolong langka namun berbahaya ini.

Meski belum sepopuler COVID-19 atau flu burung, Hantavirus sebenarnya termasuk penyakit yang perlu diwaspadai karena dapat menyerang paru-paru hingga ginjal dan berujung fatal jika terlambat ditangani. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam di Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr Rio Yansen Cikutra, Sp.PD, virus ini umumnya ditularkan melalui hewan pengerat, terutama tikus.

“Infeksi Hantavirus paling sering terjadi melalui airborne transmission, yakni saat seseorang menghirup partikel udara yang terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran tikus yang terinfeksi. Selain itu, kontak langsung dengan sarang tikus atau menyentuh permukaan yang terkontaminasi lalu menyentuh area wajah juga meningkatkan risiko penularan," jelas dr. Rio Yansen, dalam keterangannya, dikutip Rabu 13 Mei 2026. 

Hantavirus sendiri diketahui dapat memicu dua sindrom utama pada manusia, yaitu Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang berdampak pada ginjal serta pembuluh darah.

Yang membuat penyakit ini cukup berbahaya adalah gejalanya pada tahap awal sering menyerupai flu biasa. Penderita umumnya mengalami demam tinggi, nyeri otot, sakit kepala hebat, hingga tubuh terasa lemas. Tak sedikit juga yang mengalami gangguan pencernaan seperti muntah, diare, dan nyeri perut.

Namun ketika kondisi memburuk, pasien dapat mengalami sesak napas akut akibat penumpukan cairan di paru-paru. Dalam beberapa kasus, tekanan darah bisa turun drastis hingga menyebabkan syok dan gangguan fungsi ginjal.

Dokter Rio mengingatkan bahwa risiko penularan lebih tinggi pada orang yang sering beraktivitas di lingkungan dengan populasi tikus tinggi, seperti gudang lama, area pertanian, perkebunan, hingga bangunan yang lama tidak dihuni.

Selain itu, membersihkan ruangan tertutup yang penuh debu tanpa perlindungan juga dinilai berisiko. Partikel virus yang menempel pada kotoran atau urine tikus dapat beterbangan di udara dan terhirup tanpa disadari.

Untuk mencegah paparan, masyarakat disarankan menjaga kebersihan lingkungan, menutup lubang masuk tikus di rumah, mengelola sampah dengan baik, serta menggunakan metode pel basah saat membersihkan area yang dicurigai terkontaminasi.

Aktivitas luar ruangan seperti berkemah juga perlu lebih diperhatikan. Menyimpan makanan sembarangan atau tidur di area yang kotor dapat meningkatkan peluang kontak dengan hewan pengerat pembawa virus.

“Jika Anda mulai merasakan gejala seperti demam tinggi yang disertai nyeri otot hebat, terutama setelah beraktivitas di lingkungan yang berisiko atau memiliki riwayat kontak dengan hewan pengerat, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat. Penanganan medis yang dilakukan sedini mungkin sangat krusial untuk mencegah komplikasi yang lebih berat," tambah dr. Rio.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara itu, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, Margareth Aryani Santoso, menegaskan pentingnya kesiapan fasilitas kesehatan dalam menghadapi potensi penyakit infeksi menular.

“Kami berkomitmen untuk selalu memberikan pelayanan kesehatan yang aman dan berkualitas. Melalui ketersediaan fasilitas ruang isolasi yang modern dan tim medis yang kompeten, Bethsaida Hospital siap menjadi garda terdepan dalam menangani berbagai tantangan kesehatan masyarakat, termasuk risiko penyakit infeksi seperti Hantavirus," pungkasnya.