Bukan Kanker atau Jantung! Penyakit Sehari-hari Ini Diam-diam Paling Banyak Menguras Biaya Medis
Selama ini penyakit kronis seperti kanker, diabetes, dan penyakit jantung kerap dianggap sebagai penyumbang terbesar biaya kesehatan. Namun, temuan terbaru justru menunjukkan gambaran berbeda di Indonesia. Beban biaya medis terbesar di Tanah Air ternyata masih didominasi oleh penyakit infeksi.
Hal ini terungkap dalam Indonesia Health and Benefits Study 2025 yang dirilis Mercer Marsh Benefits Indonesia. Studi tersebut dipaparkan oleh Bella Friscintia, Head of Analytics Solutions Mercer Marsh Benefits Indonesia, berdasarkan data pemanfaatan layanan kesehatan dari populasi pekerja dan keluarganya. Scroll untuk info lebih lanjut, yuk!
Dari setiap 100 orang populasi, sekitar 8–9 orang tercatat menjalani rawat inap. Sementara itu, angka rawat jalan jauh lebih tinggi, mencapai 65,9 persen. Artinya, dari 100 orang, sekitar 65–66 orang setidaknya satu kali mengunjungi dokter untuk layanan rawat jalan.
Menariknya, data menunjukkan bahwa penyebab utama rawat inap di Indonesia masih didominasi penyakit infeksi. Infeksi usus menempati posisi pertama, disusul demam berdarah dengue di urutan kedua. Setelah itu barulah muncul penyakit kronis seperti tumor dan kanker. Penyakit pernapasan seperti influenza dan pneumonia berada di peringkat kelima, sementara ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas) menempati posisi ketujuh.
“Kalau kita lihat dari total biaya maupun total kasus rawat inap, dua besar masih diisi penyakit infeksi. Pola ini cukup konsisten dibandingkan tahun lalu,” jelas Bella saat Media Breafing di Mercer Indonesia Office, Jakarta, baru-baru ini.
Ia menambahkan, terjadi sedikit pergeseran dibandingkan tahun sebelumnya. Jika sebelumnya demam berdarah berada di posisi teratas, kini infeksi usus menjadi penyumbang biaya terbesar. Pola ini disebut cukup unik jika dibandingkan dengan negara lain.
“Di banyak negara, baik secara global maupun Asia, penyakit kronis seperti kanker dan penyakit jantung biasanya menjadi penyumbang biaya kesehatan terbesar. Indonesia berbeda, karena penyakit infeksi masih mendominasi,” ujarnya.
Sementara itu, untuk layanan rawat jalan, pola yang muncul bahkan lebih mencolok. Dalam tiga tahun terakhir pascapandemi, ISPA secara konsisten menjadi diagnosis nomor satu. Sekitar 20 persen dari total biaya rawat jalan di Indonesia dan 27 persen dari seluruh kasus rawat jalan disebabkan oleh satu diagnosis yang sama: ISPA.
“Ini artinya, ISPA menjadi salah satu burden of disease terbesar di Indonesia untuk rawat jalan,” kata Bella.
Selain ISPA, diagnosis rawat jalan yang banyak ditemukan antara lain demam, sakit perut, gangguan pencernaan, dan sakit punggung. Penyakit kronis seperti diabetes melitus dan hipertensi baru muncul di urutan enam ke bawah.
Temuan ini menyoroti tantangan kesehatan di Indonesia yang masih sangat dipengaruhi faktor lingkungan, sanitasi, serta pencegahan penyakit menular. Meski penyakit kronis terus meningkat, penyakit infeksi tetap menjadi beban utama baik dari sisi jumlah kasus maupun biaya pengobatan, terutama pada layanan rawat jalan.