Ribuan Bayi Lahir dengan Bibir Sumbing, Kenali Risiko dan Pentingnya Operasi Dini

Penderita bayi bibir sumbing.
Penderita bayi bibir sumbing.

 Bibir sumbing dan celah langit-langit mulut masih menjadi salah satu masalah kesehatan bawaan yang cukup tinggi di Indonesia. Kondisi ini terjadi ketika jaringan bibir atau langit-langit mulut tidak menyatu sempurna saat janin berkembang di dalam kandungan. Dampaknya bukan hanya pada penampilan fisik, tetapi juga pada fungsi dasar seperti makan, berbicara, hingga pernapasan.

Country Manager Smile Train Indonesia, Deasy Larasati, menyebut Indonesia termasuk negara dengan jumlah kasus yang besar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Indonesia masih termasuk di peringkat tiga besar negara dengan jumlah kasus bibir sumbing dan celah langit-langit mulut tertinggi di dunia. Setiap tahun, ribuan bayi lahir dengan kondisi ini. Tanpa penanganan dini, sumbing dapat memengaruhi kemampuan makan, berbicara, hingga tumbuh kembang dan kondisi psikologis anak. Padahal, prosedur operasi sumbing dapat dilakukan dalam waktu sekitar 45 menit. Dengan standar keselamatan yang ketat dan dukungan tenaga medis profesional, tindakan ini mampu mengubah kualitas hidup anak secara signifikan,” jelas Deasy di acara Harmoni Ramadhan, Ciptakan Senyuman yang digelar Smile Train Indonesia di Jakarta, baru-baru ini. 

Secara medis, bayi dengan bibir sumbing kerap mengalami kesulitan menyusu karena celah pada bibir atau langit-langit membuat proses mengisap tidak optimal. Akibatnya, risiko kekurangan nutrisi dan gangguan pertumbuhan meningkat. Selain itu, celah pada langit-langit mulut juga dapat menyebabkan gangguan pendengaran akibat infeksi telinga berulang, serta hambatan perkembangan bicara.

Dokter ahli bedah plastik, dr. Yantoko, Sp.BP-RE, menegaskan pentingnya intervensi sejak dini.

“Operasi sumbing yang dilakukan selalu memprioritaskan prosedur yang aman, sesuai standar medis, dan biasanya berlangsung sekitar 45 menit. Tentunya kami meng-encourage operasi dilakukan sedini mungkin, agar komplikasi bisa dicegah. Penanganan sejak awal dapat mencegah dampak jangka panjang pada tumbuh kembang dan psikologis anak,” ujarnya.

Operasi umumnya dilakukan saat bayi berusia beberapa bulan, tergantung kondisi kesehatan dan berat badan. Namun, tindakan bedah hanyalah tahap awal. Anak dengan sumbing kerap membutuhkan rangkaian perawatan lanjutan, seperti terapi wicara untuk membantu artikulasi, perawatan ortodontik untuk memperbaiki susunan gigi, hingga pendampingan psikologis untuk mendukung rasa percaya diri.

Lebih jauh, Deasy menambahkan bahwa pemulihan anak tidak berhenti pada perubahan fisik semata.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Operasi hanyalah langkah awal. Setelah tindakan operasi dilakukan, anak-anak tetap kami pantau. Banyak yang diarahkan ke layanan lanjutan seperti ortodontik serta pendampingan psikologis untuk memperkuat mental mereka. Di 2026, kami juga akan memperkuat program pengembangan diri melalui pelatihan soft skills seperti tari dan public speaking, agar mereka bukan hanya pulih secara fisik, tetapi juga percaya diri menyalurkan potensi terbaiknya. Sebab bagi seorang anak sumbing, satu tindakan yang tepat dalam mengubah hidup, selamanya,” pungkasnya.

Dengan deteksi dini, akses operasi yang tepat, dan pendampingan berkelanjutan, anak dengan bibir sumbing memiliki peluang besar untuk tumbuh sehat, berkembang optimal, dan menjalani kehidupan tanpa hambatan berarti.