Nyeri Tak Kunjung Hilang? Dokter Ungkap Kapan Harus Segera Mendapat Penanganan Medis

Ilustrasi nyeri sendi. Foto Fityourself.club
Ilustrasi nyeri sendi. Foto Fityourself.club

Nyeri merupakan salah satu keluhan kesehatan yang paling sering dialami oleh manusia, baik dalam bentuk ringan maupun berat. Sensasi ini pada dasarnya merupakan mekanisme alami tubuh untuk memberi sinyal bahwa ada bagian tubuh yang mengalami cedera, peradangan, atau gangguan tertentu.

Meski sering dianggap sebagai hal yang biasa, nyeri dapat berdampak besar terhadap kualitas hidup seseorang. Rasa sakit yang terus-menerus dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, menurunkan produktivitas, memengaruhi kualitas tidur, hingga berdampak pada kondisi emosional seperti stres dan kecemasan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Lantas, kapan seseorang yang mengalami nyeri perlu mendapatkan penanganan medis? Menanggapi hal tersebut, dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi, Dr.dr. Theresia CT Novy, SpKFR, FIPM, FIPP, CIPS, menjelaskan bahwa pada umumnya tubuh memiliki kemampuan untuk pulih dari nyeri secara alami.

“Pada saat setelah nyeri yang paling minimal itu terasa kita harus mengistirahatkan badan kita. Supaya badan kita diberikan kesehatan untuk pulih karena badan kita mampu. Asal setelah nyeri yang minimal pertama tadi kali muncul,” kata dia  saat ditemui di Jakarta, Jumat 29 Mei 2026.

Namun, menurut Theresia, ada batas waktu yang perlu diperhatikan. Jika nyeri tidak kunjung membaik meski sudah beristirahat dan melakukan penanganan sederhana di rumah, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.

“Kalau sudah berkepanjangan satu jam, satu tahun juga belum sembuh bahkan sudah diobati belum sembuh karena terlambat. Biasanya saya edukasinya kalau ternyata sudah tiga hari sudah beristirahat tidak sembuh, sudah gosok-gosok, sudah segala macam tidak sembuh segera ke dokter. Dokter umum boleh karena dokter umum sudah kita ajari menangani masalah nyeri,” sambung dia.

Theresia juga mengingatkan agar nyeri yang tak kunjung membaik tidak dibiarkan berlarut-larut. Menurutnya, pasien perlu melakukan kontrol jika keluhan masih berlanjut dan mencari bantuan dokter yang tepat apabila pemulihan tidak berjalan sesuai harapan.

“Ternyata seminggu tidak sembuh kontrol, maksimal itu sebulan sudah harus sembuh. Kalau tidak sembuh tolong cari dokter seperti saya supaya tidak sampai tiga bulan, tidak sampai satu tahun, tidak sampai 51 tahun kenapa tidak dari dulu karena tidak bertemu dokter yang tepat,” jelas dia.

Inovasi Klinis dari Tindakan Sederhana hingga Terapi Sel Punca (Stem Cell)

Dalam dunia medis modern, penanganan nyeri mengikuti kaidah step ladder (tangga terapi), yang dimulai dari rehabilitasi fisik tanpa obat, terapi medikamentosa (obat-obatan), tindakan intervensi (IPM), hingga opsi terakhir berupa operasi.

Pada level intervensi, salah satu inovasi regeneratif paling mutakhir yang kini sudah bisa diaplikasikan secara klinis di dalam negeri adalah terapi Sel Punca (Stem Cell). Melalui panduan teknologi pencitraan tingkat tinggi seperti USG atau C-Arm (X-ray fluoroscopy), sel punca dapat disuntikkan secara berpresisi tinggi langsung ke titik kerusakan jaringan seperti pada otot, sendi, saraf, ligamen, atau tendon yang meradang, untuk memulihkan sumber kerusakan, bukan sekadar menutupi rasa sakit (masking the pain).

Kendati teknologi mutakhir seperti stem cell telah siap diaplikasikan, Pain Management Network (PNM) menekankan pentingnya kebijakan klinis yang berorientasi pada kebutuhan riil pasien. 

"Kami mengedukasi para dokter untuk memiliki mindset dan kebijakan dalam memilih instrumen penanganan yang tepat. Kita tidak serta-merta melompat ke tindakan bernilai ratusan juta atau miliaran rupiah. Jika masalah nyeri pasien bisa diselesaikan secara tuntas dengan tindakan intervensi sederhana yang efisien, itulah yang harus didahulukan,” kata dr. Novy.

Ternyata Masih Banyak Masyarakat yang Berobat ke Luar Negeri

Di saat dokter-dokter ahli dari Indonesia rutin dipercaya menjadi pengajar dan penguji sertifikasi kompetensi dokter nyeri tingkat dunia di Miami, Taipei, Belanda, Budapest, hingga London, pasien domestik justru masih berbondong-bondong mengantre berobat ke Malaysia hingga Taiwan. Fenomena ini terjadi khususnya pada penanganan nyeri kronis dan muskuloskeletal.

“Saya baru saja mengajar di Malaysia. Dokter-dokter di sana bercerita bahwa mereka sedang menunggu 20 pasien, dan sebagian besar berasal dari Indonesia, dengan biaya yang bahkan lebih mahal di sana. Bahkan, ada pasien dari Jakarta yang rela terbang ke Taiwan hanya untuk mendapatkan terapi Platelet-Rich Plasma (PRP). Ada mindset yang harus diperbaiki bersama oleh dokter, pemerintah, dan masyarakat bahwa Indonesia itu sebenarnya mampu,” kata dr. Novy yang juga merupakan Pendiri dan Program Director Pain Management Network (PMN).

Ketidakmerataan informasi dan keterbatasan jumlah praktisi di daerah membuat jutaan pasien nyeri di Indonesia kerap kebingungan mencari rujukan yang tepat. Banyak yang mengira nyeri kronis adalah ranah spesialisasi tunggal, padahal penanganan nyeri multidisiplin, terutama melalui Interventional Pain Management (IPM), membutuhkan keahlian tersendiri di luar kurikulum reguler dokter spesialis. Jika tidak ditangani secara cepat dan presisi, kasus nyeri kronis berpotensi menjadi beban ekonomi yang masif bagi keluarga pasien.

Menjawab tantangan tersebut, PMN bergerak bersama Pusat Pengembangan Kedokteran Indonesia (Pusbangki) FKUI untuk melakukan akselerasi dan pemerataan edukasi penanganan nyeri di Indonesia. Langkah ini menjadi pondasi utama dalam mewujudkan visi besar Indonesia Bebas Nyeri 2030.

Kolaborasi Multidisplin dan Pemerataan hingga Pelosok

Saat ini, jumlah dokter yang memiliki kompetensi bersertifikasi di bidang intervensi nyeri masih sangat terbatas, yakni sekitar 50-an orang, dan sebagian besar masih berpusat di kota-kota besar.

“Itulah misi utama PMN bersama Pusbangki FKUI dengan menyelenggarakan pelatihan terstruktur untuk memayungi pemenuhan kompetensi dari Sabang sampai Merauke,” tegas dr. Novy.

Bukti nyata dari urgensi pemerataan ini terlihat pada forum ilmiah PMN Gala Dinner 2026 yang dihadiri oleh 60 dokter spesialis dari berbagai wilayah, termasuk dari Aceh, Pekanbaru, Banjarmasin, hingga Manokwari.

Bagi para dokter di daerah terpencil yang menghadapi kendala jarak, PMN membuka akses edukasi melalui program online intensif selama tiga bulan yang dikombinasikan dengan workshop hands-on (praktik langsung) selama 2–3 hari. Pelatihan non-formal ini merangkul berbagai lintas disiplin mulai dari spesialis Anestesi (SpAnTI), Saraf (SpS), Kedokteran Fisik & Rehabilitasi (SpKFR), Bedah Saraf (SpBS), Orthopedi (SpOT), Kedokteran Olahraga, hingga Penyakit Dalam.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dr. dr. Irzan Nurman, MSc, EPC, QWP, AIFO-K, FINEM, CI, CMC, CMNLP, Kepala UKK Pusbangki FKUI, menekankan pentingnya legitimasi kelembagaan dalam program ini. “Kami berharap kolaborasi Pusbangki FKUI dengan PMN dapat memperluas cakupan serta meningkatkan kualitas layanan medis domestik. Dengan kompetensi dokter kita yang merata dan meningkat, pasien bisa mendapatkan hasil klinis terbaik secara lebih hemat dan efisien di dalam negeri, tanpa perlu terbebani biaya akomodasi ke luar negeri,” jelasnya.

Optimisme serupa disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Darto Satoto, Sp.An-TI, Subsp.An.Reg(K), Guru Besar Senior FKUI. “Saya sangat optimis target Indonesia Bebas Nyeri 2030 dapat dicapai. Kuncinya ada pada kekuatan pendidikan, promosi kesehatan yang gencar, serta persatuan antar-disiplin ilmu untuk terus menambah jumlah dokter yang kompeten menangani nyeri di lapangan,” kata Prof. Darto.