Gak Melulu Pantai, Intip Serunya Slow Travel Jelajah Pameran Lukisan Maestro Dunia di Bali

Ilustrasi pantai
Ilustrasi pantai

 Bali selama ini identik dengan pantai, matahari terbenam, dan agenda liburan yang padat. Namun, bagi sebagian wisatawan yang mulai lelah dengan hiruk-pikuk itinerary, liburan kini tak lagi soal mengejar destinasi, melainkan tentang menikmati momen dengan lebih perlahan. 

Di sinilah konsep slow travel menemukan relevansinya. Gaya liburan tenang ini merupakan cara bepergian yang menekankan menikmati perjalanan dengan tempo lebih pelan, penuh kesadaran, dan berfokus pada pengalaman.

Alih-alih berpindah destinasi terus-menerus, slow travel mengajak wisatawan untuk tinggal lebih lama di satu tempat, menyerap suasana, budaya, dan kehidupan lokal secara lebih mendalam. Jelas bahwa bukan sekadar mengejar banyak tempat dalam waktu singkat tapi pengalaman.

Awal tahun 2026, sebuah alternatif hiburan hadir di kawasan Nusa Dua. Gallery of Art The Apurva Kempinski Bali mempersembahkan pameran eksklusif Gallery of Art: Wianta & Legacy, menampilkan seri karya Mandala dari mendiang maestro seni rupa Bali, Made Wianta. 

Ilustrasi Pameran

Ilustrasi Pameran

Berbeda dari hiburan konvensional, menikmati karya seni memberi pengalaman yang lebih personal dan reflektif. Pameran ini digelar di Pendopo Lobby, pameran ini menjadi ruang jeda yang pas bagi wisatawan yang ingin berlibur tanpa kebisingan.

Dalam seri Mandala, Made Wianta menuangkan interpretasi semesta melalui garis, titik, geometri, dan ruang. Karya-karya ini terinspirasi dari konsep Pangider-ider atau sembilan penjuru mata angin dalam kosmologi Bali yang diterjemahkan ke dalam bahasa visual modern. Hasilnya, pengunjung diajak melihat keseimbangan alam dan kedamaian batin sebagai satu kesatuan.

Made Wianta sudah tersohor sebagai seniman visioner yang membawa seni rupa Bali melampaui batas tradisi klasik. Pengalamannya mengikuti pameran di Eropa hingga Amerika Serikat, termasuk mewakili Indonesia di Venice Biennale 2003, membentuk gaya khas yang memadukan pemikiran seni Barat dengan akar budaya Bali. Warisan estetik itulah yang kini bisa dinikmati publik secara lebih intim melalui pameran ini.

Sebanyak sebelas karya dipamerkan, merepresentasikan salah satu fase penting dalam perjalanan artistik Wianta. Simbol gunung dan laut yang merupakan dua elemen alam yang lekat dengan Bali hadir sebagai metafora keseimbangan hidup. Tanpa harus memahami teori seni secara mendalam, pengunjung tetap bisa merasakan ketenangan visual yang ditawarkan, menjadikannya hiburan ringan namun bermakna.

Konsep slow travel juga terasa dalam cara pameran ini dibuka. Selain dialog interaktif bersama keluarga mendiang Made Wianta, acara pembukaan turut dimeriahkan oleh pertunjukan tari kontemporer dari koreografer Bali oleh Ayu Anantha.

Gerak tubuh penari menjadi perpanjangan dari goresan lukisan yang menciptakan dialog hidup antara seni rupa dan seni pertunjukan, sebuah hiburan yang mengalir, bukan menggelegar.

“Kami merasa sangat terhormat dapat menampilkan karya warisan Bapak Made Wianta, terlebih karena ini adalah pertama kalinya dalam sejarah kariernya yang panjang, seri Mandala secara lengkap dapat dipresentasikan kepada publik,” ujar Vincent Guironnet, General Manager The Apurva Kempinski Bali.

Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya merupakan bagian dari identitas resor tersebut. Terlebih meningkatnya minat wisatawan terhadap pengalaman yang lebih autentik.

Bagi wisatawan yang ingin menikmati Bali dengan tempo lebih lambat, pameran ini menawarkan pilihan berbeda. Duduk sejenak, mengamati karya, dan membiarkan pikiran beristirahat bisa menjadi bagian dari liburan yang tak kalah berkesan. Karena di Bali, liburan tak selalu harus tentang pantai, Anda bisa menyelami keindahan dan budaya Pulau Dewata dalam keheningan seni.