Cendikiawan Pariwisata Sarankan Pemerintah Kembangkan Wisata Lansia di Indonesia

ICPI, wisata lansia, Cendikiawan Pariwisata Sarankan Pemerintah Kembangkan Wisata Lansia di Indonesia

Ikatan Cendikiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) menyarankan pemerintah untuk mengembangkan wisata lansia atau geronto tourism di Indonesia sebagai salah satu upaya memajukan sektor pariwisata nasional.

"Jadi pariwisata itu untuk siapa saja, bukan hanya untuk orang-orang yang sehat. Jadi untuk lanjut usia dan tadi untuk kebugaran, anak-anak, ini yang kita kurang di sana," kata Ketua Umum ICPI, Azril Azhari seperti dilansir dari Antara, Rabu (28/1/2026).

Azril mengatakan potensi mengembangkan wisata lansia sangat besar. Pemerintah dapat memanfaatkan warisan sejarah dan budaya lokal sebagai daya tariknya untuk menumbuhkan kelekatan pada wisatawan yang berkunjung.

Menurutnya ada dua pasar yang sangat cocok untuk wisata ini yaitu Belanda dan Jepang. Kebanyakan lansia dari kedua negara itu punya keinginan besar untuk menikmati masa tua dengan bahagia menggunakan uang yang telah dikumpulkan sebelum pensiun.

Keinginan ini dapat dimanfaatkan untuk mendongkrak durasi kunjungan lebih lama, sehingga pengeluaran wisatawan meningkat dan pemasukan devisa negara jadi lebih besar.

Dari hasil penelitiannya, diketahui bahwa lansia Jepang banyak yang menyukai kerajinan dan melukis. Dengan kekayaan alam Indonesia, pemerintah dapat menawarkan pemandangan terbaik untuk dilihat oleh lansia.

Beberapa di antaranya juga memiliki keinginan untuk bermain golf di dekat area laut atau gunung. Namun, Azril menyampaikan akomodasi dan infrastruktur yang tersedia masih terbatas.

Kemudian pada wisatawan asal Belanda, prospek wisata bisa mengangkat soal jalur rempah yang amat lekat dengan negara-negara Barat. Wisatawan dapat dikenalkan dengan manfaat rempah-rembah Nusantara yang bermanfaat bagi kesehatan.

"Mereka itu berwisata, tapi ingin sehat. Bukan hanya senang, gembira, tapi juga dia bisa sehat," ujar dia.

Di sisi lain wisatawan lansia dari Belanda juga gemar menelusuri kehidupan leluhurnya. Sambil menikmati suasana kota yang berbeda, mereka juga mencari lokasi-lokasi yang pernah disinggahi keluarga tempo dulu hingga makam anggota keluarga yang berada di Indonesia.

Wisatawan Belanda, katanya, juga sangat senang untuk mempelajari berbagai macam peninggalan sejarah karena merasa memiliki kelekatan masa lalu yang mendalam dalam jangka waktu lama.

"Mereka ingin sekali mengalami nenek moyangnya itu dulu. Bagaimana mengetahui kehidupan nenek moyangnya dulu seperti apa, sangat-sangat sekali dan itu sebenarnya menjadi yang tidak ada di negara lain," ujarnya.

Sambil mengembangkan wisata minat khusus itu, pemerintah juga disarankan untuk menghadirkan layanan kesehatan yang dekat dengan wisatawan lansia.

"Artinya wisata bagi para lanjut usia selain mendapatkan pengalaman baik selama berkunjung juga mampu menikmati hobinya sekaligus kesehatannya terpelihara oleh dokter gerontologi," ucap dia.

Ia menyoroti dalam pariwisata kesehatan, pemerintah Indonesia baru mulai menggarap sektor wisata medis (medical tourism), wisata pemulihan (recovery tourism) dan wisata kebugaran (wellness tourism) saja. Padahal paradigma pariwisata saat ini bergeser ke arah customized-tourism atau wisata berbasis personal.

"Jadi wisata kebugaran itu tidak hanya soal spa saja, tetapi juga makanan. Makanan di sini maksudnya yang sehat seperti herbal. Ini salah kaprah justru masuknya dianggap wisata kesehatan padahal itu wisata medis," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang