Dari Uang Tunai ke QRIS, Wajah Baru UMKM Desa Wisata Borobudur

Borobudur, Tingal Art, Kedai Kopi Barepan, Dari Uang Tunai ke QRIS, Wajah Baru UMKM Desa Wisata Borobudur

Di tengah ramainya geliat wisata di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, perubahan perlahan juga terjadi di meja-meja kasir pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) desa.

Jika dahulu wisatawan lebih akrab dengan uang tunai, kini semakin banyak transaksi dilakukan melalui pembayaran digital seperti Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) maupun mesin Electronic Data Capture (EDC).

Perubahan itu terlihat di berbagai sudut desa wisata penyangga Candi Borobudur, mulai dari gerai oleh-oleh, wisata edukasi, galeri batik, kedai kopi, hingga pedagang asongan dari berbagai desa.

Wisatawan yang datang dengan rombongan VW wisata maupun pelancong mandiri kini cenderung memilih transaksi non-tunai yang dinilai lebih cepat dan praktis.

Bagi para pelaku UMKM, digitalisasi pembayaran bukan sekadar mengikuti tren, tetapi juga menjadi cara untuk menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku wisatawan.

Di sejumlah lokasi wisata edukasi, kode QRIS bahkan sudah berdampingan dengan rak suvenir, etalase makanan, hingga meja registrasi workshop.

Sementara itu, mesin EDC mulai lazim digunakan untuk melayani wisatawan yang membeli produk dalam jumlah besar atau datang dari luar daerah tanpa membawa banyak uang tunai.

Pembayaran digital mulai lazim di desa wisata

Borobudur, Tingal Art, Kedai Kopi Barepan, Dari Uang Tunai ke QRIS, Wajah Baru UMKM Desa Wisata Borobudur

Wisatawan di Kedai Kopi Barepan bertransaksi menggunakan QRIS.

Salah satu UMKM yang sudah beradaptasi dengan pembayaran digital adalah wisata edukasi Tingal Art yang berada di Tingal Kulon, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur.

Ganung Hariyadi, pemilik Tingal Art yang bergerak di bidang galeri dan workshop batik, mengaku sudah dua tahun terakhir menyediakan pembayaran menggunakan QRIS. Sementara untuk mesin EDC, fasilitas tersebut sudah lebih dulu tersedia di galerinya.

Ganung mengatakan salah satu layanan QRIS yang digunakannya berasal dari BRI.

“Kalau sekarang banyak pengunjung lebih nyaman bayar non-tunai, apalagi saat musim liburan,” ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (19/5/2026).

Menurut Ganung, keberadaan QRIS membantu aktivitas transaksi di meja kasir menjadi lebih sederhana, terutama saat musim liburan ketika peserta workshop datang silih berganti.

“Kalau dulu pegawai harus banyak menyiapkan uang kembalian, sekarang lebih praktis karena banyak pengunjung langsung bayar non-tunai,” ujarnya.

Hal serupa juga dirasakan Immanuel, manajer dan barista Kedai Kopi Barepan di Desa Wanurejo.

“Terkadang wisatawan datang hanya untuk ngopi dan ngobrol soal kehidupan desa. Kalau semuanya bayar tunai, kami harus menyiapkan cukup banyak uang receh untuk kembalian,” katanya kepada Kompas.com, Rabu (28/5/2026).

Menurut Manu, panggilan akrabnya, penggunaan QRIS membuat transaksi menjadi lebih cepat, terutama bagi wisatawan domestik yang sudah terbiasa menggunakan pembayaran digital.

Meski demikian, ia menyebut sebagian wisatawan mancanegara masih lebih sering menggunakan uang tunai karena perbedaan sistem perbankan dan metode pembayaran di negara asal mereka.

Dilansir dari rilis resmi yang diterima Kompas.com, Selasa, QRIS memungkinkan transaksi dilakukan lintas berbagai aplikasi pembayaran digital dalam satu kode pembayaran.

Sementara itu, berdasarkan pemberitaan (23/8/2024), pelaku UMKM yang ingin membuat QRIS BRI dapat mendaftar melalui aplikasi BRImerchant dengan melengkapi data identitas dan data usaha.

Bagi sejumlah pelaku usaha di kawasan Borobudur, kehadiran pembayaran digital kini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan mulai menjadi bagian dari aktivitas wisata sehari-hari.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang