Geliat Ekonomi di Gang-gang Desa, UMKM Ramaikan Wisata di Sekitar Candi Borobudur

Borobudur, UMKM, Kabupaten Magelang, Candi Borobudur, Geliat Ekonomi di Gang-gang Desa, UMKM Ramaikan Wisata di Sekitar Candi Borobudur, Menghidupkan ekonomi desa, Edukasi dan terapi lebah di Madu Ashfa, Kriya Kayu Rik Rok, bertahan dari Pandemi lewat inovasi, Jamur Borobudur tumbuh dari keterbatasan, Efek domino bagi warga sekitar

Di sekitar Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, denyut pariwisata ternyata tak hanya menghidupi hotel dan restoran besar.

Di desa-desa sekitar candi, geliat wisata juga ikut menumbuhkan usaha-usaha rumahan milik warga, mulai dari budidaya jamur, madu, hingga kriya kayu.

Sebagian di antaranya bahkan berkembang menjadi destinasi wisata edukasi yang ramai dikunjungi wisatawan setiap akhir pekan.

Deretan VW wisata warna-warni kini kerap hilir mudik memasuki gang-gang desa di Kecamatan Borobudur.

Wisatawan tak hanya menikmati panorama pedesaan, tetapi juga singgah ke berbagai UMKM lokal untuk belajar budidaya jamur tiram, mencoba terapi sengat lebah, hingga melukis topeng kayu bersama perajin kampung.

Menghidupkan ekonomi desa

Daya tarik kawasan Borobudur kini tidak lagi semata bertumpu pada kemegahan candi utama. Di balik ramainya aktivitas wisata desa, tumbuh ekosistem ekonomi baru yang digerakkan masyarakat setempat melalui UMKM berbasis edukasi dan pengalaman wisata.

Desa-desa di sekitar Borobudur perlahan berkembang menjadi ruang ekonomi kreatif yang hidup dari aktivitas warga sendiri.

Rumah produksi kecil, kebun, hingga halaman rumah kini berubah menjadi tempat wisata alternatif yang memberi penghasilan tambahan bagi masyarakat.

Zumrotun Rini S, Kabid Pemasaran dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Magelang mengungkap bahwa UMKM adalah wisata penyangga di sekitar Candi Borobudur.

"UMKM jelas memberikan kontribusi terhadap dunia wisata di sekitar sini, dan ikut membantu mengubah perekonomian masyarakat," ujarnya kepada Kompas.com.

Menurut dia, pemerintah daerah juga terus mendorong tumbuhnya pelaku ekonomi kreatif baru melalui berbagai pelatihan, mulai dari digitalisasi usaha hingga pengolahan limbah kriya.

Di tengah berkembangnya wisata berbasis komunitas tersebut, sejumlah UMKM lokal mulai menunjukkan pertumbuhan signifikan. Tidak hanya bertahan sebagai usaha rumahan, mereka juga berkembang menjadi destinasi wisata edukasi yang menyerap tenaga kerja warga sekitar.

Edukasi dan terapi lebah di Madu Ashfa

Borobudur, UMKM, Kabupaten Magelang, Candi Borobudur, Geliat Ekonomi di Gang-gang Desa, UMKM Ramaikan Wisata di Sekitar Candi Borobudur, Menghidupkan ekonomi desa, Edukasi dan terapi lebah di Madu Ashfa, Kriya Kayu Rik Rok, bertahan dari Pandemi lewat inovasi, Jamur Borobudur tumbuh dari keterbatasan, Efek domino bagi warga sekitar

Agung, pengunjung wisata edukasi Ashfa Madu yang berasal dari Lampung.

Perjalanan Ashfa Madu Borobudur yang digawangi oleh Qozin Purnama dimulai dari langkah yang sangat bersahaja pada tahun 2013, dilansir dari (22/5/2026).

Berbekal kemampuan budidaya lebah yang dipelajarinya dari sang ayah sejak duduk di bangku sekolah dasar, Qozin mulai merintis usaha madu secara mandiri setelah lulus sekolah teknik menengah.

Pada awal berdiri, proses pengemasan madu kaliandra dari lereng Menoreh dilakukan di rumah berukuran 4 x 8 meter. Tanpa karyawan, ia memasarkan produknya sendiri dari apotek ke swalayan di sekitar Magelang.

Usahanya mulai berkembang ketika rumah produksinya dilirik rombongan VW wisata pada 2017. Wisatawan yang datang tak hanya membeli madu, tetapi juga tertarik mencoba terapi sengat lebah yang disediakan secara gratis.

Untuk memperbesar usaha, Qozin sempat memanfaatkan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) senilai Rp 3 juta guna menambah kotak lebah.

Setelah usaha berkembang, ia kembali mengakses pembiayaan untuk membeli lahan dan membangun kawasan wisata edukasi.

Kini, Ashfa Madu mampu menerima kunjungan sekitar 500 hingga 1.000 wisatawan per minggu.

Kriya Kayu Rik Rok, bertahan dari Pandemi lewat inovasi

Borobudur, UMKM, Kabupaten Magelang, Candi Borobudur, Geliat Ekonomi di Gang-gang Desa, UMKM Ramaikan Wisata di Sekitar Candi Borobudur, Menghidupkan ekonomi desa, Edukasi dan terapi lebah di Madu Ashfa, Kriya Kayu Rik Rok, bertahan dari Pandemi lewat inovasi, Jamur Borobudur tumbuh dari keterbatasan, Efek domino bagi warga sekitar

Fransisco dan ketiga anaknya yang tengah mengikuti kelas workshop di Wisata Edukasi Rik Rok Borobudur.

Kriya Kayu Rik Rok memiliki rekam jejak yang cukup panjang karena sudah berdiri sejak masa krisis moneter tahun 1997 di Dusun Tingal Kulon, dicukil dari , Sabtu (23/5/2026).

Usaha keluarga yang dikelola Sriningsih bersama kakaknya itu awalnya memproduksi patung berbahan fiber. Namun ketika harga bahan baku melonjak, mereka beralih menggunakan limbah kayu yang lebih mudah ditemukan di sekitar desa.

Setelah mendalami pendidikan kesenian di Yogyakarta, mereka memantapkan diri memproduksi aneka suvenir unik seperti pensil hias dan gantungan kunci, hingga akhirnya dipercaya menjadi pemasok cendera mata untuk hotel-hotel mewah di kawasan Borobudur.

Ketangguhan usaha ini kembali diuji ketika pandemi Covid-19 melanda dan membuat pariwisata Borobudur mati suri.

Menolak untuk tumbang, Sriningsih memutar otak dan beralih sementara ke bisnis budidaya tanaman hias yang kala itu tengah digandrungi masyarakat untuk meningkatkan imun.

Guna merealisasikan ide tersebut, ia memanfaatkan program KUR sebesar Rp 10 juta untuk membeli bibit aglonema dan anthurium. Ketika situasi perlahan membaik, keuntungan dari penjualan tanaman hias tersebut digunakan kembali untuk memperluas lahan kriya kayunya.

Saat ini, Rik Rok tidak hanya memproduksi suvenir, tetapi juga membuka ruang hijau dan kelas edukasi bagi wisatawan. Dalam memenuhi lonjakan pesanan, usaha ini turut memberdayakan ibu-ibu kampung sekitar dan berkolaborasi dengan perajin kain perca lokal.

Jamur Borobudur tumbuh dari keterbatasan

Borobudur, UMKM, Kabupaten Magelang, Candi Borobudur, Geliat Ekonomi di Gang-gang Desa, UMKM Ramaikan Wisata di Sekitar Candi Borobudur, Menghidupkan ekonomi desa, Edukasi dan terapi lebah di Madu Ashfa, Kriya Kayu Rik Rok, bertahan dari Pandemi lewat inovasi, Jamur Borobudur tumbuh dari keterbatasan, Efek domino bagi warga sekitar

Suasana pengunjung di Wisata Edukasi Jamur Borobudur.

Kisah lain datang dari Puput Setioko, pemilik Jamur Borobudur di Dusun Jowahan.

Lulusan SMK jurusan mesin itu sempat bercita-cita bekerja di pabrik seperti teman-temannya. Namun keinginannya terhambat karena kondisi buta warna yang dimilikinya.

Berangkat dari kegemarannya mengonsumsi jamur tiram, Puput mulai belajar budidaya secara otodidak hingga ke luar kota.

Pada 2013, ia memulai usaha dari satu rak media tanam sederhana berukuran 2 x 2 meter di sudut rumah. Ia terbiasa memanen jamur pada dini hari, lalu menjualnya sendiri ke pasar tradisional dan pedagang sayur keliling.

Usahanya perlahan berkembang setelah mendapat tambahan modal dari KUR BRI untuk membeli mesin pengolah media tanam. Seiring waktu, Jamur Borobudur berkembang menjadi kawasan wisata edukasi terpadu sejak 2018.

Kini, usaha tersebut memiliki puluhan mitra petani dan mempekerjakan warga desa mulai dari pemandu wisata hingga bagian pengolahan makanan, dikutip dari (26/11/2025).

Efek domino bagi warga sekitar

Berkembangnya wisata berbasis UMKM di sekitar Borobudur ikut menciptakan dampak ekonomi bagi masyarakat desa.

Kehadiran tempat-tempat wisata edukasi itu membuka lapangan kerja baru bagi warga, memberi alternatif tujuan bagi sopir VW wisata, hingga menghadirkan ruang usaha bagi pedagang suvenir dan makanan di sekitar lokasi kunjungan wisatawan.

Jatun Sigit P., Kepala Unit BRI Borobudur, mengatakan pihaknya terus mendorong pelaku UMKM agar dapat berkembang secara berkelanjutan melalui akses pembiayaan usaha.

"Beberapa sudah berhasil naik kelas, seperti Jamur Borobudur dan Ashfa Madu. Pemberian kredit kepada UMKM bisa kontinu asalkan riwayat pembayaran pelaku usaha tercatat baik," ujarnya kepada Kompas.com, Senin (25/5/2026).

Menurut dia, plafon KUR yang tersedia saat ini berkisar mulai Rp 11 juta hingga Rp 500 juta, menyesuaikan kebutuhan dan skala usaha pelaku UMKM.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang