Turis Eropa Kini Pilih China, Tren Wisata ke Asia Tenggara Mulai Bergeser

Turis Eropa Kini Pilih China, Tren Wisata ke Asia Tenggara Mulai Bergeser

Pergeseran rute wisata masyarakat Eropa yang kini memilih China sebagai destinasi alternatif liburan membuat wisata Asia Tenggara mulai kekurangan peminat.

Wisatawan eropa memilih berwisata ke China karena adanya pembatasan penerbangan dan kenaikan biaya tiket pesawat.

Dilansir dari Kompas.com dari VN Express pada Rabu (20/5/2026), menurut pakar penerbangan Li Hanming, penerbangan dari Eropa ke China melonjak karena tinggi permintaan.

Li juga menjelaskan bahwa wisatawan Eropa memandang China sebagai destinasi menarik musim panas ini dibandingkan dengan penerbangan ke Asia Tenggara yang masih dibatasi.

Perubahan destinasi wisatawan Eropa

Para analisis menjelaskan bahwa rute penerbangan dulu ramai untuk antara Eropa dan Asia Tenggara. Namun, karena konflik Timur Tengah yang masih berlangsung membuat penerbangan melalui wilayah udara melewati Iran menjadi beresiko.

Selain itu, harga bahan bakar jet juga ikut melonjak di tengah ketegangan regional. Menurut International Air Transport Association (IATA) harga bahan bakar mencapai 181,22 dollar Amerika per 1 Mei.

Sementara itu, China telah melonggarkan persyaratan visa untuk wisatawan Eropa sejak tahun 2023.

Selain itu, Rusia juga melarang beberapa maskapai penerbangan Eropa dan Amerika Utaa untuk menggunakan wilayah udaranya sejak tahun 2022 sebagai pembalasan atas sanksi Barat terkait konflik di Ukraina.

Menurut perkiraan perusahaan analisis data penerbangan Inggris atau Official Airline Guide menjelaskan bahwa larangan ini bisa memberikan keuntungan bagi maskapai penerbangan Tiongkok pada rute ke Eropa.

OAG juga melaporkan bahwa frekuensi penerbangan langsung antara Tiongkok dan Eropa akan meningkat pada bulan Mei dan puncaknya pada bulan Agustus 2026 selama libur musim panas.

Strategi penerbangan Tiongkok

Meningkatnya jumlah wisatawan yang memilih penerbangan Eropa-China membuat sejumlah maskapai di Tiongkok mulai menambahkan ratusan penerbangan Eropa-China lainnya seperti Air France, Air Serbia, British Airways hingga Turkish Airlines.

Juru bicara Air France juga mempertegas bahwa akan meningkatkan frekuensi rute Shanghai-Paris dari tujuh penerbangan per minggu menjadi sepuluh penerbangan per minggu pada bulan September dan Oktober.

Royal Dutch Airlines juga akan meningkatkan jumlah penerbangan dengan rute Beijing dan Shanghai menuju Paris dan Amsterdam dengan total 29 penerbangan.

Meningkatnya jumlah peminat wisatawan Eropa ini membuat sejumlah maskapai tidak hanya meningkatkan waktu penerbangan namun juga mengerahkan pesawat dengan kapasitas yang lebih besar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang