Saham Otomotif Korea Selatan Babak Belur Usai Trump Ancaman Naikkan Tarif Impor 25 Persen
Saham otomotif Korea Selatan babak belur setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan kenaikan tarif impor kendaraan, farmasi, dan kayu asal Korea Selatan menjadi 25 persen. Sebelumnya bea masuk yang berlaku sebesar 15 persen.
Trump mengumumkan kenaikan tarif melalui media sosialnya, Truth Sosial, pada Senin waktu setempat. Kebijakan ini menyusul kekecewaannya terhadap parlemen Korea Selatan dianggap menunda pengesahan kesepakatan dagang dengan AS yang telah dicapai pada musim panas tahun lalu.
Ancaman Trump ini langsung mengguncang pasar saham Korea Selatan. Saham emiten otomotif mengalami kerugian terbesar.
Hyundai mengalami pukulan telak karena perannya sebagai importir kendaraan baru terbesar dari Korea Selatan ke AS sehingga kenaikan tarif diperkirakan akan menekan kinerja ekspor perusahaan otomotif tersebut.
Ilustrasi Donald Trump dan kebijakan tarif mobil impor
Saham Hyundai Motor ambles lebih dari 4 persen pada pembukaan pasar Selasa, 27 Januari 2026. Saham anak usaha Hyundai, Kia, juga terkoreksi hampir 3,5 persen. Begitu juga saham perusahaan afiliasi milik perusahaan mobil Korsel ini, Hyundai Mobis, merosot hingga 5 persen.
“Legislatif Korea Selatan tidak menjalankan kesepakatannya dengan Amerika Serikat,” tulis Trump dikutip dari CNBC Internasional pada Selasa, 27 Januari 2026.
Trump melanjutkan, kesepakatan telah disepakati bersama Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung pada 30 Juli 2025 bahkan kembali ditegaskan saat kunjungannya ke Korea pada Oktober tahun 2024. Namu, ia juga mempertanyakan mengapa parlemen Korsel belum juga mengesahkannya.
“Karena legislatif Korea belum memberlakukan perjanjian dagang bersejarah kami, maka saya menaikkan tarif impor Korea Selatan untuk otomotif, kayu, farmasi, dan seluruh tarif resiprokal lainnya dari 15 persen menjadi 25 persen,” tegasnya.
Hingga kini, pemerintah Amerika Serikat belum menyampaikan pemberitahuan resmi kepada Seoul terkait kenaikan tarif tersebut. Kantor kepresidenan Korea Selatan (Blue House) juga dikabarkan belum memberikan menerima notifikasi resmi dari Washington.
Meski demikian, penasihat presiden Korea Selatan dijadwalkan menggelar pertemuan dengan kementerian terkait guna membahas langkah strategis merespons kebijakan Trump.
Sebagai informasi, Korsel merupakan salah satu eksportir terbesar ke AS. Berdasarkan data Office of the U.S. Trade Representative, AS mengimpor barang senilai US$131,6 miliar dari Korea Selatan sepanjang tahun 2024.
Dalam kesepakatan dagang yang diumumkan pada Juli 2025, Trump sebelumnya menyatakan AS akan mengenakan tarif umum sebesar 15 persen atau lebih rendah dari ancaman awal sebesar 25 persen. Saat itu, Trump juga mengklaim negara Gingseng ini sepakat mengalokasikan US$350 miliar untuk investasi yang dikendalikan dan dipilih langsung oleh pemerintah AS.
Di sisi lain, kebijakan tarif sepihak Trump masih menghadapi tantangan hukum. Pada bulan November 2025, Mahkamah Agung AS mendengarkan argumen dalam gugatan yang mempertanyakan kewenangan Trump memberlakukan tarif tanpa persetujuan Kongres.
Namun, Mahkaman Agung AS belum mengeluarkan putusan dari tarif sepihak Trump ini.