Tangan Trump Ketahuan Memar Saat di Swiss, Ini Penjelasan Gedung Putih

World Economic Forum, Tangan Trump Ketahuan Memar Saat di Swiss, Ini Penjelasan Gedung Putih

Tangan kiri Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendadak menjadi sorotan saat ia berada di Swiss, Kamis (22/1/2026).

Foto close-up yang beredar luas memperlihatkan memar cukup parah di tangannya, sementara gambar lain menunjukkan Trump duduk di kursi sambil menatap bagian tangan yang memar tersebut.

Trump berada di Swiss untuk menghadiri acara penandatanganan Dewan Perdamaian Gaza yang ia bentuk sekaligus World Economic Forum ke-56.

Penjelasan Gedung Putih soal Tangan Trump Memar

Trump menjelaskan bahwa memar di tangannya berkaitan dengan kebiasaannya mengonsumsi aspirin dosis tinggi. 

Penjelasan itu disampaikannya kepada wartawan pada Kamis (22/1/2026) saat berada di atas Air Force One dalam perjalanan kembali ke Amerika Serikat.

Trump mengatakan memar muncul setelah ia tidak sengaja membenturkan tangannya ke meja saat menghadiri World Economic Forum.

Menurutnya, konsumsi aspirin dalam dosis besar membuat tubuhnya lebih mudah mengalami memar.

“Mereka bilang minumlah aspirin jika Anda menyayangi jantung Anda, tetapi jangan minum aspirin jika Anda tidak ingin mengalami sedikit memar. Saya minum aspirin dosis tinggi,” kata Trump, dikutip dari Reuters, Jumat (23/1/2026).

Ia juga mengungkapkan bahwa dokter sebenarnya tidak mewajibkannya mengonsumsi obat tersebut. 

Namun, Trump memilih tetap meminumnya sebagai langkah pencegahan.

“Dokter itu berkata, 'Anda tidak perlu meminumnya, Pak. Anda sangat sehat'. Saya menjawab, 'Saya tidak mau mengambil risiko',” tambah Trump.

Sementara itu, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt mengatakan bahwa tangan Trump sempat terbentur sudut meja saat proses penandatanganan Dewan Perdamaian Gaza di Swiss.

Faktor inilah yang membuat tangan Trump tiba-tiba terlihat lebam.

Sejumlah pakar medis turut menanggapi kondisi tersebut. Empat dokter—terdiri dari dua ahli bedah dan dua dokter penyakit dalam yang diwawancarai Reuters sepakat bahwa penggunaan aspirin berpotensi memicu memar pada tubuh Trump.

Trump Mengonsumsi Aspirin dalam Dosis Besar

Isu mengenai memar di tangan Trump sebenarnya bukan kali pertama mencuat. Pada awal Januari 2026 saat diwawancarai oleh The Wall Street Journal, Trump mengaku mengonsumsi aspirin dosis besar setiap hari. 

Ia menyebut kebiasaan itu membuatnya lebih mudah memar.

Trump mengungkapkan bahwa ia mengonsumsi 325 miligram aspirin setiap hari, jumlah yang lebih tinggi dari dosis yang direkomendasikan oleh dokternya. 

Ia mengatakan obat tersebut diminum untuk tujuan pencegahan penyakit jantung. 

Sebagai perbandingan, dosis rendah aspirin yang umum digunakan adalah 81 miligram.

“Mereka bilang aspirin bagus untuk mengencerkan darah dan saya tidak ingin darah kental mengalir melalui jantung saya,” kata Trump dikutip dari USA Today, Kamis (22/1/2026).

“Saya ingin darah yang encer mengalir melalui jantung saya. Apakah itu masuk akal?" sambungnya.

Apa itu aspirin?

Dilansir dari Cleveland Clinic, aspirin merupakan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) yang digunakan untuk meredakan nyeri ringan hingga sedang, peradangan, serta radang sendi. 

Aspirin juga dapat menurunkan risiko serangan jantung, stroke, dan pembekuan darah. 

Namun, anak-anak dan remaja tidak dianjurkan menggunakan obat ini tanpa arahan tenaga medis.

Sementara itu, The Texas Heart Institute menjelaskan bahwa aspirin termasuk obat antiplatelet, yakni bekerja dengan mencegah keping darah saling menempel dan membentuk gumpalan. 

Karena mekanisme tersebut, aspirin kerap diberikan kepada pasien yang sedang dalam masa pemulihan dari serangan jantung guna mencegah terbentuknya bekuan darah lanjutan di arteri koroner.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang