Menohok! China Jawab Nyinyiran Trump soal Energi Angin: Kami Terbesar di Dunia
Pemerintah China merespons keras pidato Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyindir proyek China terkait penggunaan energi baru dan terbarukan, khususnya pembangkit listrik tenaga bayu/angin (PLTB) yang sedang mereka kembangkan.
Trump saat menyampaikan pidato dalam World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Rabu, 21 Januari 2026, mengkritik proyek energi China yang menurutnya justru menimbulkan pemborosan dan berdampak buruk bagi kinerja suatu negar
"Satu hal yang saya perhatikan adalah semakin banyak kincir angin yang dimiliki suatu negara, semakin banyak uang yang hilang oleh negara tersebut, dan semakin buruk kinerja negara tersebut," kata Trump
Trump kemudian menyinggung peran China dalam industri turbin angin global. Ia menyebut China sebagai produsen utama pembangkit listrik tenaga angin, namun mempertanyakan keberadaan ladang angin di negara tersebut.
Presiden AS Donald Trump di World Economy Forum Davos 2026
"China membuat hampir semua PLT angin, namun saya belum menemukan ladang angin di China. Anda pernah memikirkan hal itu?" ujarnya
Lebih lanjut, Trump menilai China sebagai negara yang cerdas dalam memanfaatkan situasi tersebut. Menurutnya, China memperoleh keuntungan besar dengan menjual teknologi pembangkit angin ke negara lain dengan harga tinggi.
"Mereka pintar. China sangat pintar. Mereka membuatnya, mereka menjualnya dengan harga yang sangat mahal. Mereka menjualnya kepada orang-orang bodoh yang membelinya," ungkapnya
China ‘Tangkap’ Energi Angin Terbaik di Dunia
Merespons hal tersebut, Beijing menepis klaim Trump yang tak berdasar soal PLTB, dengan menegaskan bahwa China telah mengembangkan sistem kebijakan terlengkap di dunia tentang pengurangan emisi karbon, serta sistem energi terbarukan terbesar di dunia, dan secara aktif berbagi pencapaiannya dalam pembangunan hijau.
"Kapasitas terpasang tenaga angin China telah menempati peringkat pertama di dunia selama 15 tahun berturut-turut," kata Juru Bicara Kemenlu China, Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Kamis. nan hijau," tambahnya.
Hingga akhir November 2025, Guo Jiakun menyebut, kapasitas terpasang tenaga angin China telah melampaui 600 juta kilowatt.
"Selama periode Rencana Lima Tahun ke-14, tenaga angin dan produk fotovoltaik yang diekspor China membantu mengurangi sekitar 4,1 miliar ton emisi karbon di negara lain secara total," ungkapnya
Guo Jiakun juga menyebut upaya China dalam memerangi perubahan iklim dan memajukan pengembangan dan penerapan energi terbarukan secara global diakui secara luas.
"Sebagai negara berkembang utama yang bertanggung jawab, China siap bekerja sama dengan semua pihak untuk terus mempromosikan transisi global menuju ekonomi hijau dan rendah karbon, serta bersama-sama membangun dunia yang bersih dan indah," tegas Guo Jiakun.
Menurut data Our World in Data, China menghasilkan lebih banyak energi angin daripada negara lain mana pun. Pada 2024, China menghasilkan 997 terawatt-jam dari angin atau lebih dari dua kali lipat dari AS yang berada pada urutan kedua.
Pada 2024 juga, pembangkit listrik tenaga angin China setara dengan 40 persen dari pembangkit listrik tenaga angin global, berdasarkan lembaga Ember Energy.
Bahkan pada 2025, tenaga angin dan tenaga surya di China sama-sama menghasilkan lebih dari seperempat (26 persen) listrik pada April. Hal tersebut melampaui rekor sebelumnya sebesar 23,7 persen yang ditetapkan sebulan sebelumnya pada Maret 2025.
Pada saat yang sama, pembangkitan bahan bakar fosil di China menurun sebesar 3,6 persen dari tahun ke tahun selama empat bulan pertama 2025. Analisis dari Energy and Climate Intelligence Unit (ECIU) menemukan bahwa China sekarang berada dalam tahap decoupling relatif yaitu ketika emisi meningkat lebih lambat daripada PDB.
Sementara lonjakan tenaga angin di China juga diikuti oleh melonjaknya pembangunan 16,5 GW pembangkit listrik tenaga angin baru di AS pada 2024.
Di Eropa, pembangkit listrik tenaga angin baru bertambah 12,6 GW yang juga termasuk di dalamnya adalah kapasitas energi terbarukan, pembangkit listrik tenaga angin Borssele 752 Megawatt (MW) di Belanda dan stasiun 539 MW di proyek East Anglia One di Inggris.