Kasus Dugaan Penipuan Masuk Akpol: Polisi Dalami Aliran Dana dan Bukti Percakapan Adly Fairuz
Kasus dugaan penipuan masuk Akpol terus berkembang setelah penyidik Polres Metro Jakarta Timur mendalami aliran dana dan bukti percakapan yang diduga melibatkan artis Adly Fairuz.
Polisi menelusuri pergerakan uang serta komunikasi antar pihak untuk mengungkap peran masing-masing dalam perkara ini.
Kasus ini bermula dari laporan Abdul Hadi terhadap Agung Wahyono pada Juni 2025. Laporan tersebut tercatat dengan nomor LP/B/2282/VI/2025/SPKT/Polres Metro Jakarta Timur/Polda Metro Jaya dan menjadi dasar penyidikan kasus dugaan penipuan masuk Akpol.
Dalam proses penyidikan, penyidik menemukan indikasi aliran dana yang tidak hanya mengarah kepada terlapor utama.
Penyidik kemudian memeriksa Adly Fairuz sebagai saksi guna mengklarifikasi temuan tersebut.
Penyidik telusuri aliran dana ke beberapa pihak
Kuasa hukum korban, Mesini, menyampaikan bahwa penyidik menelusuri aliran dana dari korban ke sejumlah pihak.
Temuan tersebut menjadi fokus utama dalam pengembangan kasus dugaan penipuan masuk Akpol.
"Jadi pada saat kejadian itu, klien kami itu menyerahkan uang ke, mohon maaf kami sebut inisial saja ya, itu AW. Nah, kemudian dengan berkembangnya penyelidikan, nah ternyata ada aliran dana yang mengalir ke inisial AF, Uki, kemudian VP. Itu dari hasil penyelidikan," kata Mesini di Polres Metro Jakarta Timur, dikutip dari , Selasa (20/1/2026).
Mesini menjelaskan bahwa penyidik memperoleh informasi tersebut dari hasil pendalaman transaksi keuangan.
Penyidik kini mencocokkan temuan tersebut dengan keterangan saksi dan bukti lain.
Kuasa hukum serahkan bukti percakapan
Selain aliran dana, kuasa hukum korban menyerahkan bukti tambahan berupa rekaman percakapan kepada penyidik.
Bukti ini melengkapi berkas dalam kasus dugaan penipuan masuk Akpol.
"Jadi kedatangan saya hari ini ke Polres Metro Jakarta Timur adalah untuk menyerahkan tambahan barang bukti berupa screenshot rekaman percakapan," terang Mesini, dikutip dari , Selasa.
"Percakapan diduga antara AW dan AF," sambungnya.
Penyidik memasukkan bukti percakapan tersebut ke dalam proses penyidikan.
Polisi akan menguji keterkaitan isi percakapan dengan rangkaian peristiwa yang dilaporkan korban.
Adly Fairuz penuhi panggilan sebagai saksi
Adly Fairuz memenuhi panggilan penyidik dan memberikan keterangan sebagai saksi. Penyidik memanggil Adly Fairuz setelah perkara memasuki tahap penyidikan.
"AF sudah hadir. Kehadirannya pada panggilan secara patut yang kedua, yaitu ketika sudah memasuki tahap penyidikan," ujar Mesini.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan peran Adly Fairuz, Mesini menyampaikan bahwa penyidik masih mendalami seluruh fakta yang terungkap.
"Ya, bisa saja. Mungkin kalau di luar sana orang suka menyebutnya secara sederhana sebagai calo," tambah Mesini.
Terduga utama belum hadir dan berstatus DPO
Sementara itu, Agung Wahyono belum memenuhi panggilan penyidik hingga saat ini. Polisi menetapkannya sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO).
"Dari awal penyelidikan hingga tahap penyidikan saat ini, AW sudah dipanggil secara patut, tetapi belum pernah hadir sama sekali. Saat ini bisa dikatakan statusnya DPO (Daftar Pencarian Orang)," tutur Mesini.
Polisi terus berupaya melacak keberadaan Agung Wahyono untuk melengkapi proses hukum dalam kasus dugaan penipuan masuk Akpol.
Kronologi dugaan penipuan
Kasus ini bermula pada 2023 ketika Agung Wahyono menawarkan jasa pengurusan masuk Akpol kepada Abdul Hadi.
Janji tersebut tidak terwujud setelah anak korban dinyatakan gagal lolos seleksi.
Korban kemudian melaporkan perkara ini ke Polres Metro Jakarta Timur pada Juni 2025.
Dalam pengembangan penyidikan, penyidik menemukan dugaan aliran dana ke pihak lain, termasuk Adly Fairuz. Temuan tersebut kemudian memicu gugatan perdata wanprestasi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Hingga kini, penyidik masih melanjutkan penyidikan kasus dugaan penipuan masuk Akpol dengan fokus pada aliran dana, bukti percakapan, serta peran setiap pihak yang terlibat.
(Sumber: Kompas.com/Revi C. Rantung | Editor: Ira Gita Natalia Sembiring)
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang