Misteri Perampokan Maut Pensiunan JICT di Bekasi, Polisi Masih Dalami Motif

Kabid Humas PMJ, Kombes Pol Budi Hermanto (kiri)
Kabid Humas PMJ, Kombes Pol Budi Hermanto (kiri)

Polisi masih memburu pelaku perampokan sadis yang menewaskan seorang pensiunan pekerja pelabuhan di rumahnya, di kawasan Jatibening, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Hingga kini, aparat juga masih berupaya mengungkap motif di balik aksi kejahatan tersebut. Korban diketahui bernama Ermanto Usman (65), seorang pensiunan karyawan Jakarta International Container Terminal (JICT).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia ditemukan tewas di dalam rumahnya, sementara sang istri yang berinisial P (60) sempat dalam kondisi kritis setelah mengalami luka berat. Polisi menyampaikan belasungkawa atas peristiwa tragis tersebut.

Ia menegaskan bahwa pihak kepolisian saat ini masih bekerja keras untuk mengungkap pelaku perampokan yang berujung maut itu.

“Kami menyampaikan duka cita kepada keluarga korban, semoga pelaku segera dapat ditangkap,” tutur Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Budi Hermanto, Kamis, 5 Maret 2026.

Budi menjelaskan, proses penyelidikan kasus ini ditangani oleh Polres Metro Bekasi Kota dengan dukungan tim dari Subdirektorat Jatanras dan Subdirektorat Resmob Polda Metro Jaya.

“Tengah melaksanakan penyelidikan terkait kasus tersebut,” tutur dia.

Menurut dia, fokus utama penyidik saat ini adalah memburu pelaku sekaligus mendalami motif di balik aksi perampokan tersebut. Polisi juga menanggapi berbagai spekulasi yang muncul di tengah masyarakat terkait latar belakang korban yang dikenal aktif memperjuangkan hak-hak pekerja saat masih bekerja di perusahaan pelabuhan tersebut.

“Terkait motif, hingga saat ini masih dalam pendalaman. Fokus utama tim saat ini adalah mengumpulkan fakta, mengungkap pelaku, dan melakukan penangkapan,” kata dia.

Sebelumnya diberitakan, keluarga Ermanto Usman, korban pembunuhan tragis di Bekasi, secara resmi mengajukan permohonan perlindungan ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Permohonan tersebut disampaikan langsung dengan didampingi oleh Anggota Komisi XIII DPR RI, Rieke Diah Pitaloka serta perwakilan dari Serikat Pekerja PT Jakarta International Container Terminal (JICT).

Ketua LPSK, Brigjen Pol (Purn) Achmadi mengatakan pihaknya telah menerima permohonan tersebut. Selain itu, pihaknya juga telah melakukan langkah awal dengan berkoordinasi dengan aparat penegak hukum yang menangani perkara tersebut.

“Terkait dengan sebuah kasus perkara yang terjadi di Bekasi beberapa hari yang lalu, intinya terhadap perkara ini LPSK telah melakukan langkah-langkah awal koordinasi dengan satuan yang menangani, pimpinan satuan yang menangani,” kata Achmadi di kantor LPSK, Kamis 5 Maret 2026.

Untuk diketahui, suasana tenang dini hari menjelang sahur di kawasan Jatibening, Pondok Gede, Kota Bekasi, mendadak berubah menjadi duka. Seorang pria lanjut usia berinisial EU (65) ditemukan tak bernyawa di dalam rumahnya sendiri. Istrinya, P (60), selamat namun mengalami luka-luka.

Rumah pasutri tersebut diduga menjadi sasaran perampokan saat sebagian penghuni tengah terlelap. Fakta memilukan ini pertama kali terkuak bukan oleh tetangga atau petugas, melainkan oleh anak perempuan korban sendiri. Kejadian terkuak dari laporan temuan sang anak yang curiga karena tak kunjung dibangunkan sahur oleh ibunya.

"Jadi gini, itu ada tadi laporan. Laporan yang melapor itu dari warga langsung ke anaknya korban. Nah itu laporan ke Polsek, jadi yang temukan terlebih dahulu itu adalah anaknya," ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Bekasi Kota, Komisaris Polisi Andi Muhammad Iqbal, Senin, 2 Maret 2026.

Peristiwa itu terjadi pada dini hari, tepat sebelum waktu sahur. Anak korban yang menempati kamar di lantai dua rumah mulai merasa janggal ketika waktu menunjukkan hampir pukul 04.00 WIB. Biasanya, sang ibu selalu membangunkannya untuk membantu persiapan makan sahur.

"Kemudian kenapa ini bisa ketahuan? Karena anak korban ini biasa dibangunkan sama ibunya untuk persiapan masak dan sebagainya untuk sahur," kata dia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun pagi itu berbeda. Tak ada panggilan, tak ada suara dari bawah. Rasa penasaran bercampur khawatir membuat sang anak turun ke lantai satu dan di sanalah pemandangan mengerikan itu tersaji.

Ayahnya sudah dalam kondisi tak bernyawa, sementara ibunya mengalami luka-luka. Dugaan sementara, keduanya menjadi korban aksi perampokan. Saat kejadian, asisten rumah tangga (ART) yang biasanya tinggal di rumah tersebut sedang pulang, sehingga hanya ada tiga orang di dalam rumah.