Ancaman Tarif Trump ke Eropa Guncang Dunia, Harga Emas Cetak Rekor Nyaris Rp80 Juta per Ons
Harga emas dan perak dunia kembali mencetak rekor tertinggi pada awal pekan ini, Senin, 19 Januari 2026. Lonjakan ditopang naiknya tensi ketegangan geopolitik setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan terhadap negara-negara Eropa terkait sengketa penguasaan Greenland.
Emas spot melonjak 1,5 persen ke level US$4.663,37 atau sekitar Rp79,03 juta (estimasi kurs Rp 16.950 per dolar AS) per ons pada perdagangan Senin waktu Asia. Logam mulia berwarna kuning ini bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (all high time/ATH) di harga US$4.689,39 atau sekitar Rp79,47 juta per ons.
Dikutip dari CNBC Internasional pada Selasa, 20 Januari 2026, penguatan tajam ini terjadi usai Trump menyatakan akan menerapkan tarif tambahan terhadap negara-negara di kawasan Eropa sampai AS diizinkan menguasai Greenland. Pernyataan tersebut meningkatkan ketegangan konflik geopolitik global.
Menanggapi ancaman Trump, para duta besar Uni Eropa dilaporkan sudah sepakat mengambil langkah dalam upaya meningkatkan diplomasi guna mencegah penerapan tarif. Namun, Uni Eropa juga menyiapkan langkah balasan jika kebijakan tersebut benar-benar diberlakukan.
Nuuk, ibu kota Greenland
“Ketegangan geopolitik kembali memberi alasan bagi para pemburu emas untuk mendorong logam kuning ke level tertinggi baru,” ujar Analis Senior StoneX, Matt Simpson.
Ia menambahkan, isu tarif yang Trump libatkan ke dalam konflik ini membuat ancaman terhadap Greenland terlihat nyata. Menurut Simpson, aksi Trump justru berpotensi memicu ketidakseimbangan politik di Eropa hingga menggoyahkan NATO.
Di tengah memanasnya tensi global, kontrak berjangka saham AS dan nilai tukar dolar AS melemah. Investor berbondong-bondong mengalihkan dana ke aset safe haven seperti emas, yen Jepang, dan franc Swiss dalam suasana pasar yang semakin penuh risiko.
Secara historis, emas cenderung diuntungkan dalam kondisi ketidakpastian ekonomi dan lingkungan suku bunga rendah. Statusnya sebagai aset tanpa imbal hasil membuat emas semakin menarik ketika volatilitas meningkat.
Selain emas, harga perak juga mencuri perhatian pelaku pasar. Perak spot melesat 3,3 persen ke level US$92,93 per ons setelah sempat menyentuh rekor tertinggi di US$94,08 per ons.
“Untuk perak, prospek jangka menengah masih konstruktif, ditopang oleh defisit fisik yang berkelanjutan, permintaan industri yang solid, serta dorongan sebagai aset lindung nilai,” kata Strategist OCBC, Christopher Wong.
Namun, ia mengingatkan bahwa reli cepat dalam waktu singkat berpotensi memicu kehati-hatian taktis dalam jangka pendek. Wong juga menyoroti penurunan tajam rasio emas-perak dari level sekitar 105 pada akhir 2025 menjadi kisaran 50an yang mencerminkan kinerja perak yang jauh lebih agresif dibandingkan emas.
Sementara itu, logam mulia lainnya ikut terkerek naik. Harga platinum spot naik 0,9 persen ke US$2.348,32 per ons, sedangkan palladium menguat 0,5 persen ke level US$1.808,46 per ons.
Lonjakan serentak harga logam mulia ini menegaskan meningkatnya kekhawatiran pasar global terhadap arah kebijakan perdagangan AS dan dampaknya terhadap stabilitas ekonomi serta geopolitik dunia.