BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga 26 Januari 2026 akibat BIbit Siklon Tropis 97S

BMKG, cuaca ekstrem, Bibit Siklon Tropis, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga 26 Januari 2026 akibat BIbit Siklon Tropis 97S

Badan Meteorologi, Klimatlogi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap bahwa bibit siklon tropis kembali terbentuk dan berpotensi memicu cuaca ekstrem di wilayah selatan Indonesia.

Menurut BMKG, kondisi cuaca di Indonesia dalam beberapa hari terakhir menunjukkan peningkatan intensitas hujan yang masuk kategori ekstrem, terutama di wilayah Sumatera Selatan, Banten, DK Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, NTT, dan Sulawesi Selatan.

Kejadian cuaca ekstrem tersebut diakibatkan oleh kombinasi beberapa faktor, terutama faktor regional, yaitu keberadaan sirkulasi siklonik dan penguatan monsun dingin Asia.

Sirkulasi siklonik sebelumnya terpantau berada di selatan Nusa Tenggara Barat dan telah berkembang menjadi Bibit Siklon Tropis 96S.

Keberadaan sistem ini membentuk serta memperkuat daerah konvergensi dalam skala luas di wilayah selatan Indonesia, meliputi Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.

Meskipun Bibit Siklon Tropis 96S saat ini telah melemah dan dinyatakan punah, namun dinamika atmosfer kembali menunjukkan adanya pembentukan Bibit Siklon Tropis 97S di wilayah Laut Timor.

Sistem baru ini kembali meningkatkan pola konvergensi dan mendukung peningkatan potensi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Dinamika atmosfer sepekan ke depan

Dilansir dari laman resminya, BMKG mengungkap, dalam sepekan ke depan pengaruh dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal masih signifikan terhadap kondisi cuaca di Indonesia.

Pada skala global, El Niño–Southern Oscillation (ENSO) terpantau menguat pada fase negatif yang mengindikasikan La Niña lemah, dengan nilai Southern Oscillation Index (SOI) yang cenderung positif, dan berpotensi meningkatkan pasokan uap air yang mendukung pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia.

Aktivitas Madden–Julian Oscillation (MJO) secara spasial diprakirakan aktif melintasi NTB, NTT, Laut Flores, Laut Timor, dan Samudra Hindia selatan NTT.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah-wilayah tersebut.

Selain itu, gelombang ekuator juga terpantau aktif dan dapat memperkuat proses konvektif di sejumlah wilayah.

Kombinasi Madden–Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Ekuator teramati aktif di Samudra Hindia sebelah barat Sumatera, pesisir barat Bengkulu hingga pesisir barat Lampung, dan perairan selatan NTB hingga selatan NTT, sehingga berkontribusi pada peningkatan aktivitas konvektif dan potensi hujan di kawasan tersebut.

Siklon Tropis Nokaen yang terdapat di Laut Filipina, utara Maluku Utara diprakirakan menguat dengan kecepatan angin maksimum 35 knot dan tekanan udara 1000 hPa dengan arah gerak ke Timur Laut, yang berpengaruh terhadap pembentukan pola angin terutama di wilayah utara Indonesia bagian Timur.

Selain itu terdapat juga Bibit 97S yang pergerakannya diprakirakan persisten, dengan kecepatan angin maks 20 knot dan tekanan udara 1000 hPa yang memengaruhi pola angin termasuk daerah konfluensi dan konvergensi, memanjang dari Pulau Timor, Laut Timor, Laut Arafuru, dan sekitar Bibit Siklon Tropis 97S tersebut.

Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan di sepanjang daerah konvergensi/konfluensi tersebut.

Prediksi cuaca 20-26 Januari 2026

Dalam sepekan ke depan, terdapat juga potensi peningkatan seruakan dingin (cold surge) dari Benua Asia.

Hal ini memberikan dampak pada peningkatan kejadian cuaca ekstrem di beberapa wilayah di Selatan Indonesia, khususnya Sumatera Bagian Selatan dan Pulau Jawa.

Prakiraan cuaca 20-22 Januari 2026

Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat.

Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Sumatera Selatan, Kep. Bangka Belitung, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan.

Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang dapat terjadi, dengan kategori tingkat peringatan dini dan wilayah potensi kejadian sebagai berikut:

Siaga (Hujan lebat–sangat lebat): Bengkulu, Lampung, Banten, DK Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan.

Awas (Hujan sangat lebat–hujan ekstrem): Nusa Tenggara Timur 

Angin Kencang: Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Tengah dan Papua Selatan.

Prakiraan cuaca 23–26 Januari 2026

Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat.

Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang yang terjadi di Sumatra Selatan, Bengkulu, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua, Papua Pegunungan, Papua dan Papua Selatan.

Prospek di atas merupakan kondisi secara umum. Untuk informasi cuaca lebih detail dapat diakses melalui website BMKG, aplikasi mobile infoBMKG dan sosial media @infoBMKG.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang