BMKG Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem Jateng hingga 7 Maret, Ini Sebaran Wilayahnya

Cuaca ekstrem, Jateng, Jawa Tengah, BMKG, BMKG Peringatkan Potensi Cuaca Ekstrem Jateng hingga 7 Maret, Ini Sebaran Wilayahnya

 Hujan deras dan angin kencang yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah (Jateng) pada Rabu (4/3/2026) sore menyebabkan gangguan pada jaringan listrik. 

Cuaca ekstrem itu menyebabkan terputusnya aliran listrik bagi 894.053 pelanggan di wilayah Jateng dan D.I. Yogyakarta.

General Manager PLN Unit Induk Distribusi Jawa Tengah & D.I. Yogyakarta, Bramantyo Anggun Pambudi mengungkap, gangguan terjadi akibat sejumlah pohon tumbang, baliho roboh, serta material yang terbawa angin mengenai jaringan listrik.

"Berdasarkan laporan terbaru yang kami himpun dari lapangan, terdapat 129 penyulang jaringan listrik dan 12.989 gardu distribusi yang terdampak akibat bencana cuaca ekstrem ini. Wilayah yang mengalami gangguan antara lain Cilacap, Purwokerto, Tegal, Pekalongan, Semarang, Grobogan, Kudus, dan Sukoharjo," ujar Bramantyo, dilansir dari Tribun, Kamis.

Akibat gangguan listrik ini, petugas teknis PLN telah diterjunkan ke lokasi-lokasi terdampak untuk melakukan pengecekan dan perbaikan jaringan.

Hingga Kamis dini hari sekitar pukul 03.00 WIB, aliran listrik 97 persen pelanggan terdampak telah berangsur normal.

"Kami bergerak cepat untuk memulihkan sistem kelistrikan, proses perbaikan dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan faktor keselamatan, baik bagi masyarakat maupun petugas di lapangan. Kami mohon doa dan dukungannya agar proses pemulihan dapat berjalan lancar," imbuhnya.

Cuaca ekstrem di Jateng

Jateng tengah dilanda cuaca ekstrem yang berakhir pada bencana hidrometeorologi. Selain pohon tumbang di Semarang, ada pula banjir lahar dingin Gunung Merapi di Kabupaten Magelang yang menewaskan tiga orang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Ahmad Yani Semarang menetapkan status waspada cuaca ekstrem bagi 28 kabupaten dan kota di Jawa Tengah.

Menurut BMKG, hujan berintensitas sedang hingga sangat lebat yang turun bersama angin kencang berpeluang melanda puluhan kawasan tersebut sepanjang periode 3 hingga 7 Maret 2026.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo, merilis data sebaran wilayah yang menghadapi potensi ancaman tersebut pada Selasa (3/3/2026).

"Hujan dengan intensitas sedang-sangat lebat dan disertai angin kencang berpotensi terjadi," kata Yoga dalam keterangan resminya, dilansir dari KompasTV, Kamis.

Wilayah terdampak cuaca ekstrem hingga 7 Maret

BMKG memetakan area yang masuk dalam zona kewaspadaan, yang terdiri dari wilayah kabupaten dan kota.

Berikut wilayah yang berpotensi cuaca ekstrem hingga 7 Maret 2026:

  • Kabupaten Brebes
  • Kabupaten Tegal
  • Kabupaten Pemalang
  • Kabupaten/Kota Pekalongan
  • Kabupaten Batang
  • Kabupaten Kendal
  • Kabupaten/Kota Semarang
  • Kabupaten Temanggung
  • Kabupaten Wonosobo
  • Kabupaten Banjarnegara
  • Kabupaten Purbalingga
  • Kabupaten Banyumas
  • Kabupaten Cilacap
  • Kabupaten Kebumen
  • Kabupaten Purworejo
  • Kabupaten/Kota Magelang
  • Kota Salatiga
  • Kabupaten Boyolali
  • Kabupaten Klaten
  • Kabupaten Karanganyar
  • Kabupaten Sragen
  • Kabupaten Sukoharjo
  • Kota Surakarta
  • Kabupaten Grobogan
  • Kabupaten Demak
  • Kabupaten Kudus
  • Kabupaten Pati
  • Kabupaten Jepara

Menurut BMKG, pembentukan cuaca ekstrem di puluhan wilayah ini terjadi akibat pergerakan enam fenomena cuaca.

BMKG sendiri mendeteksi penguatan monsun Asia yang memicu pertumbuhan awan konvektif, dan kemunculan Bibit Siklon 90S di perairan Samudra Hindia bagian selatan Banten dan Jawa Barat.

Kemunculan bibit siklon ini menciptakan belokan dan pertemuan arus angin di atas Jawa Tengah. Kondisi ini terjadi bertepatan dengan pergerakan gelombang ekuatorial Kelvin melintasi Pulau Jawa.

Faktor-faktor tersebut bertemu dengan kondisi kelembapan udara basah pada berbagai ketinggian dan labilitas lokal. Situasi ini mendorong pembentukan awan hujan menjulang hingga lapisan atas atmosfer.

BMKG meminta warga menjauhi area terbuka, pohon, papan reklame, maupun tiang listrik. 

"Pemerintah daerah dan pihak terkait agar melakukan upaya mitigasi pengurangan risiko bencana," ujarnya.

Upaya mitigasi ini termasuk kewajiban menyebarluaskan informasi peringatan dini ke seluruh elemen masyarakat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang