BMKG Pantau Siklon Tropis Nokaen dan Bibit 97S, Sejumlah Wilayah Berpotensi Hujan dan Gelombang Tinggi

BMKG, Siklon Tropis Nokaen, Bibit Siklon Tropis 97S, BMKG Pantau Siklon Tropis Nokaen dan Bibit 97S, Sejumlah Wilayah Berpotensi Hujan dan Gelombang Tinggi, Pergerakan Siklon Tropis Nokaen, Bibit Siklon Tropis 97S di sekitar Laut Timor, Bibit Siklon 96S dinyatakan tidak aktif, Dampak tidak langsung, Gelombang tinggi di sejumlah perairan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau perkembangan Siklon Tropis Nokaen serta Bibit Siklon Tropis 97S yang aktif di sekitar wilayah Indonesia pada pertengahan Januari 2026.

Meski tidak berdampak langsung, kedua sistem cuaca tersebut berpotensi memengaruhi kondisi hujan, angin, dan gelombang laut di sejumlah perairan dan wilayah selatan Indonesia.

BMKG menyampaikan informasi melalui pemantauan Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta dengan pembaruan terakhir pada Senin (19/1/2026) pukul 07.00 WIB.

Lantas, bagaimana perkembangan sistem yang berkembang di sekitar perairan Indonesia?

Pergerakan Siklon Tropis Nokaen

Berdasarkan unggahan akun @infobmkg di Instagram pada Senin, BMKG mencatat Siklon Tropis Nokaen telah berkembang dari bibit siklon 91W sejak Kamis (15/1/2026) pukul 13.00 WIB.

Saat ini, posisinya berada di wilayah monitoring TCWC Jakarta, tepatnya di sekitar Laut Filipina sebelah timur laut Manila.

Dalam 24 jam ke depan, intensitas Siklon Tropis Nokaen diperkirakan tetap berada pada kategori 1 dan bergerak ke arah timur laut, sehingga menjauhi wilayah Indonesia.

Bibit Siklon Tropis 97S di sekitar Laut Timor

Selain Nokaen, BMKG juga memantau Bibit Siklon Tropis 97S yang mulai terbentuk pada 16 Januari 2026 pukul 07.00 WIB.

Sistem ini berada di sekitar Laut Timor sebelah utara Australia, masih dalam wilayah monitoring TCWC Jakarta.

BMKG menyebutkan peluang bibit siklon 97S untuk berkembang menjadi siklon tropis tergolong rendah.

Dalam 24 jam ke depan, sistem ini diperkirakan bergerak perlahan ke arah barat.

Bibit Siklon 96S dinyatakan tidak aktif

Sementara itu, Bibit Siklon Tropis 96S yang sebelumnya terdeteksi di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat hingga Jawa Timur sejak 14 Januari 2026, kini telah dinyatakan tidak aktif.

Pelemahan sistem ini disebabkan oleh menurunnya dukungan parameter atmosfer, terutama kecepatan angin yang tidak lagi signifikan.

Sejak Senin, (19/1/2026) pukul 01.00 WIB, sistem tersebut tidak lagi menunjukkan potensi berkembang menjadi siklon tropis.

Dampak tidak langsung

BMKG menyatakan, keberadaan Siklon Tropis Nokaen dan Bibit Siklon 97S tidak berdampak langsung.

Namun, keberadaannya tetap memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca dan perairan Indonesia dalam periode 24 jam hingga 20 Januari 2026 pukul 07.00 WIB.

Beberapa wilayah yang berpotensi terdampak antara lain:

  • Potensi Hujan Lebat hingga Sangat Lebat
    • Nusa Tenggara Timur
    • Nusa Tenggara Barat (hujan intensitas sedang hingga lebat)
  • Potensi Angin Kencang
    • Nusa Tenggara Timur.

Gelombang tinggi di sejumlah perairan

BMKG juga mengeluarkan peringatan terkait potensi gelombang laut tinggi akibat pengaruh sistem siklon tersebut.

Gelombang 1,25 - 2,5 meter (kategori sedang):

  • Samudra Pasifik utara Maluku
  • Laut Banda
  • Laut Flores
  • Perairan Kepulauan Kei hingga Kepulauan Aru
  • Perairan Kepulauan Babar dan Kepulauan Tanimbar
  • Laut Arafura bagian utara, tengah, dan timur

Gelombang 2,5 - 4 meter (kategori tinggi):

  • Perairan Kupang
  • Laut Sawu
  • Samudra Hindia selatan NTT
  • Laut Arafura bagian barat
  • Imbauan BMKG

BMKG mengimbau masyarakat, khususnya nelayan dan pelaku aktivitas pelayaran, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem dan gelombang tinggi.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang