Perkembangan Tiga Bibit Siklon Tropis, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem di Wilayah Terdampak

siklon tropis, BMKG, Bibit Siklon Tropis 98P, Bibit Siklon Tropis 94W, Bibit Siklon Tropis 92S, Perkembangan Tiga Bibit Siklon Tropis, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem di Wilayah Terdampak, Dampak Bibit Siklon Tropis 98P bagi Indonesia, Bibit Siklon Tropis 94W di wilayah Timur Indonesia, Dampak Bibit Siklon Tropis 92S, Sirkulasi siklonik dan dampaknya di wilayah Indonesia

 Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan adanya dampak dari tiga bibit siklon tropis yang terpantau saat ini, yaitu 94W, 92S, dan 98P.

Meskipun potensi ketiganya untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam waktu dekat masih tergolong rendah, dampak tidak langsungnya dapat dirasakan di beberapa wilayah di Indonesia.

Adapun dampak tidak langsungnya seperti hujan lebat, angin kencang, dan gelombang laut tinggi.

Lantas, bagaimana peringatan BMKG mengenai ketiga bibit siklon ini? 

Dampak Bibit Siklon Tropis 98P bagi Indonesia

Bibit Siklon Tropis 98P terpantau sejak 29 Januari 2026 di sekitar daratan utara Australia.

Meskipun saat ini memiliki peluang rendah untuk berkembang menjadi siklon tropis, sistem ini diprediksi akan bergerak ke arah barat dalam 24 jam ke depan.

Dampak tidak langsung dari Bibit Siklon Tropis 98P dalam 24 jam ke depan meliputi:

  • Hujan dengan intensitas sedang: Nusa Tenggara Timur, Maluku bagian barat daya, dan Kepulauan Tanimbar.
  • Angin kencang: Nusa Tenggara Timur, Maluku bagian barat daya, dan Kepulauan Tanimbar.
  • Gelombang laut tinggi (1.25 – 2.5 meter): Laut Sawu, perairan Kep. Leti – Kep. Sermata, perairan Kep. Babar – Tanimbar, perairan Kep. Kai – Kep. Aru, Samudra Hindia selatan NTT, dan Laut Arafuru.

Masyarakat pesisir di wilayah-wilayah tersebut diminta untuk tetap waspada terhadap potensi gelombang tinggi dan angin kencang.

Bibit Siklon Tropis 94W di wilayah Timur Indonesia

Bibit Siklon Tropis 94W mulai terbentuk pada 2 Februari 2026 dan saat ini terpantau di Samudra Pasifik utara Papua.

Bibit ini memiliki peluang tinggi untuk berkembang menjadi siklon tropis dan diperkirakan bergerak ke arah barat dalam 24 jam ke depan.

Dampak tidak langsung dari Bibit Siklon Tropis 94W meliputi:

  • Hujan dengan intensitas sedang: Maluku Utara.
  • Gelombang laut tinggi (1.25 – 2.5 meter) di Samudra Pasifik utara Papua Barat – Papua dan perairan Kep. Sangihe.
  • Gelombang laut tinggi (2.5 – 4.0 meter) di Kep. Talaud, Samudra Pasifik utara Maluku – Papua Barat Daya.

BMKG mengingatkan masyarakat pesisir dan nelayan di wilayah terdampak untuk tetap waspada terhadap gelombang tinggi dan kondisi perairan yang berbahaya.

Dampak Bibit Siklon Tropis 92S

Selain 98P dan 94W, BMKG juga memantau Bibit Siklon Tropis 92S yang terpantau di Samudera Hindia barat daya Lampung.

Dilansir dari Antara, Rabu (4/2/2026), sistem ini terindikasi memengaruhi kondisi atmosfer di perairan selatan Banten dan Samudera Hindia.

Meskipun demikian, potensi untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam waktu dekat tergolong rendah.

Sistem ini memicu belokan dan perlambatan angin di Samudera Hindia selatan Banten, dengan potensi cuaca buruk di perairan tersebut.

Sirkulasi siklonik dan dampaknya di wilayah Indonesia

BMKG juga mencatat adanya sirkulasi siklonik yang terpantau di Samudera Hindia barat daya Bengkulu dan barat Sumatera Utara.

Prakirawati cuaca BMKG Yuyun Wulandari dalam siaran daring pada Rabu, sirkulasi ini memicu perlambatan angin dan konvergensi di perairan barat Sumatera Utara, daratan Aceh, Laut Andaman serta wilayah di sekitar sistem tersebut.

Kombinasi antara sirkulasi siklonik dan bibit siklon tropis meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan, yang berpeluang menimbulkan hujan lebat hingga sangat lebat di beberapa wilayah.

Wilayah yang berpotensi mengalami hujan lebat meliputi:

  • Jakarta
  • Jawa Barat
  • Jawa Tengah
  • Jawa Timur
  • Nusa Tenggara Timur
  • Sulawesi Selatan.

BMKG juga memprakirakan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat terjadi di sejumlah wilayah lain, sementara beberapa kota besar berpotensi mengalami hujan petir, hujan ringan, hingga kondisi berawan tebal.

Lebih lanjut, BMKG mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan lebat, angin kencang, dan gelombang laut tinggi yang dapat mengganggu aktivitas di wilayah yang terdampak.

Selain itu, BMKG terus memantau perkembangan tiga bibit siklon ini dan mengimbau masyarakat untuk selalu memperbarui informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG.

Masyarakat yang berada di pesisir atau yang melakukan perjalanan laut di wilayah terdampak, terutama di daerah dengan gelombang laut tinggi, diminta untuk lebih berhati-hati.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang