BMKG: Waspada Hujan dan Angin Kencang di NTB Dampak Eks Siklon Tropis Luana

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan dini terkait potensi kembalinya hujan lebat dan angin kencang yang akan mengguyur wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kondisi ini dipicu oleh meluruhnya Siklon Tropis Luana di Australia dan mulai menguatnya kembali Monsun Asia.
Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid BMKG NTB, Ari Wibianto, menjelaskan bahwa dalam beberapa hari terakhir hujan sempat mereda di NTB. Hal ini disebabkan oleh massa udara yang tertarik ke selatan menuju pusat siklon di Australia.
"Saat ini siklon sudah mulai menjauh," ujar Ari dalam siniar Gerbang Mendengar di Mataram, Senin (26/1/2026).
Kembalinya Monsun Asia dan Uap Air
Ari menjelaskan bahwa saat ini sirkulasi angin di wilayah NTB mulai berangsur normal. Monsun Asia atau angin baratan kembali menguat, membawa uap air melimpah dari Samudera Hindia menuju daratan NTB.
Sebelumnya, saat Siklon Tropis Luana masih aktif di barat Australia, awan hujan yang seharusnya menuju NTB justru terbelokkan ke arah pusat tekanan rendah tersebut.
"Angin bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah, sehingga awan-awan hujan ketarik siklon tropis membuat langit NTB hanya ditutupi sedikit awan," papar Ari.
Daftar Wilayah Berpotensi Hujan
Perahu rAbrasi yang terjadi di sepanjang pesisir Pantai Ampenan, termasuk di Lingkungan Kampung Bugis Ampenan, Kota Mataram menyebabkan warga was was, apalagi gelombang tinggi masih terjadi, hingga Jum'at (23/1/2026)
Berdasarkan analisis terbaru BMKG, terdapat beberapa daerah di NTB yang diprediksi akan mengalami hujan dalam beberapa hari ke depan, di antaranya:- Lombok Barat
- Lombok Tengah
- Lombok Timur
- Sumbawa Barat
- Bima
Mengingat puncak musim hujan diprediksi masih berlangsung hingga Februari 2026, masyarakat diminta waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang tiba-tiba.
Ancaman Angin Kencang Akibat Eks Siklon Luana
Meski Siklon Tropis Luana telah meluruh menjadi eks siklon, dampaknya masih dirasakan berupa angin kencang di wilayah NTB dengan kecepatan maksimal mencapai 37 kilometer per jam.
Selain itu, munculnya gangguan siklonik baru di lapisan angin atas akibat pusat tekanan rendah di wilayah Australia timur turut memperkuat hembusan angin.
Walaupun intensitasnya tidak sedahsyat Bibit Siklon Tropis 97S pada 21 Januari lalu yang mencapai 55 kilometer per jam, kondisi ini tetap dikategorikan berbahaya.
"Angin kencang di atas 40 kilometer per jam cukup berbahaya karena bisa mengakibatkan ranting-ranting pohon jatuh," tegas Ari.
Kondisi angin kencang ini juga sempat memicu gelombang tinggi mencapai empat hingga enam meter di Samudera Hindia selatan NTB, menjadikannya zona merah bagi pelayaran.
Imbauan Keselamatan bagi Masyarakat
BMKG memprediksi hembusan angin kencang ini masih akan bertahan hingga tiga hari ke depan. Terkait hal tersebut, Ari mengimbau warga untuk:
- Mengurangi aktivitas di luar ruangan jika tidak mendesak.
- Menghindari area yang banyak ditumbuhi pohon besar atau papan reklame.
- Berhenti sejenak saat berkendara jika terjadi angin kencang demi keselamatan.
"Kami mengimbau masyarakat untuk selalu memantau informasi cuaca BMKG melalui kanal resmi agar mengetahui kondisi cuaca ke depan," pungkasnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang