Siklon Tropis Jenna dan Bibit 90W Picu Gelombang Tinggi, BMKG: Capai 6 Meter, Sampai 10 Januari

BMKG, gelombang tinggi, Siklon Tropis Jenna, Siklon Tropis Jenna dan Bibit 90W Picu Gelombang Tinggi, BMKG: Capai 6 Meter, Sampai 10 Januari

 Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gelombang tinggi yang dapat mencapai hingga enam meter di sejumlah wilayah perairan Indonesia.

Salah satu wilayah yang menjadi perhatian utama adalah Laut Natuna Utara, yang diprakirakan mengalami gelombang sangat tinggi dalam beberapa hari ke depan.

Peringatan ini disampaikan menyusul hasil analisis dinamika atmosfer dan laut yang menunjukkan adanya peningkatan kecepatan angin dan tinggi gelombang.

Kondisi tersebut dinilai berisiko terhadap keselamatan pelayaran dan aktivitas masyarakat pesisir.

Direktur Meteorologi Maritim BMKG, Eko Prasetyo, mengatakan potensi gelombang laut tinggi itu diprakirakan terjadi pada periode 7 hingga 10 Januari 2026.

“Potensi gelombang laut tinggi tersebut diprakirakan terjadi pada periode 7 - 10 Januari 2026,” kata Eko di Jakarta, Rabu (7/1/2026) dikutip dari Antara.

Apa faktor yang memicu peningkatan gelombang laut?

BMKG menjelaskan bahwa kondisi gelombang tinggi di sejumlah perairan Indonesia dipengaruhi oleh keberadaan sistem siklonik di sekitar wilayah Indonesia.

Tim Meteorologi BMKG mengonfirmasi adanya Siklon Tropis Jenna di Samudra Hindia barat daya serta Bibit Siklon Tropis 90W di Laut Filipina.

Kedua sistem cuaca tersebut memicu peningkatan kecepatan angin di wilayah perairan Indonesia, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan tinggi gelombang laut.

Interaksi antara sistem siklonik dan pola angin regional menjadi salah satu faktor utama terbentuknya gelombang ekstrem.

BMKG mencatat, pola angin di wilayah Indonesia bagian utara umumnya bergerak dari barat laut hingga timur laut dengan kecepatan berkisar antara 6 hingga 25 knot.

Sementara itu, di wilayah Indonesia bagian selatan, angin dominan bergerak dari barat daya hingga barat laut dengan kecepatan yang relatif sama.

Kondisi angin dengan kecepatan tersebut berpotensi membangkitkan gelombang laut dengan ketinggian yang bervariasi, tergantung pada lokasi perairan dan arah datangnya angin.

Wilayah mana yang berpotensi mengalami gelombang tinggi?

BMKG memprakirakan gelombang laut dengan ketinggian antara 1,25 hingga 2,5 meter berpeluang terjadi di sejumlah perairan. Wilayah tersebut antara lain:

  • Perairan Morotai
  • Perairan Halmahera
  • Perairan Obi
  • Perairan Sanana
  • Perairan Taliabu
  • Perairan Kayoa
  • Kepulauan Loloda
  • Batang Dua
  • Perairan Ternate
  • Perairan Bacan
  • Teluk Weda
  • Perairan Kepulauan Halmahera dan Gebe.

Selain itu, gelombang laut dengan ketinggian lebih tinggi, yakni antara 2,5 hingga 4 meter, diprakirakan berpeluang terjadi di beberapa wilayah perairan strategis. Daerah-daerah tersebut meliputi:

  • Samudra Hindia selatan Jawa Barat
  • Samudra Hindia selatan Jawa Tengah
  • Samudra Hindia selatan Jawa Timur
  • Samudra Hindia selatan DI Yogyakarta
  • Samudra Hindia selatan Bali
  • Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat
  • Laut Arafura bagian tengah dan timur
  • Wilayah selatan Karimata bagian utara.

Mengapa Laut Natuna Utara perlu diwaspadai?

BMKG secara khusus menyoroti potensi terjadinya gelombang sangat tinggi dengan ketinggian 4 hingga 6 meter di perairan Laut Natuna Utara. Kondisi ini dinilai sangat berbahaya dan berisiko besar terhadap keselamatan pelayaran.

Gelombang setinggi ini dapat memengaruhi stabilitas kapal, terutama kapal berukuran kecil hingga menengah, serta meningkatkan risiko kecelakaan laut apabila tidak diantisipasi dengan baik.

BMKG mengimbau masyarakat, khususnya nelayan dan operator transportasi laut, untuk meningkatkan kewaspadaan selama periode potensi gelombang tinggi tersebut.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang