2025 Jadi Tahun Terpanas Ketiga, Ilmuwan Peringatkan Cuaca Ekstrem Meluas

Suhu di planet Bumi terus naik dari tahun ke tahun akibat perubahan iklim.
Terbaru, ilmuwan iklim menyatakan, Bumi mengalami tahun terpanas ketiga sepanjang sejarah pada 2025.
Selain itu, suhu rata-rata global telah melampaui ambang pemanasan 1,5 derajat Celsius selama tiga tahun berturut-turut.
Ini adalah periode terpanjang sejak pencatatan dimulai, menurut ilmuwan Uni Eropa pada Rabu (13/1/2026), dilansir dari Reuters.
Data dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) menunjukkan, bahwa tiga tahun terakhir merupakan tiga tahun terpanas yang pernah tercatat di Bumi.
Tahun 2025 hanya sedikit lebih sejuk dibandingkan 2023, dengan selisih sekitar 0,01 derajat Celsius.
Layanan cuaca nasional Inggris, UK Met Office, juga mengonfirmasi bahwa data mereka menempatkan 2025 sebagai tahun terpanas ketiga sejak pencatatan dimulai pada 1850.
Diketahui, tahun terpanas yang pernah tercatat sebelumnya adalah 2024.
Banyak cuaca ekstrem
Dalam laporannya ECMWF juga menyatakan, Bumi baru saja mengalami periode tiga tahun pertama di mana suhu rata-rata global berada 1,5 derajat Celsius di atas era praindustri, batas yang menurut para ilmuwan akan memicu dampak pemanasan global yang parah, dengan sebagian di antaranya bersifat "tidak dapat dipulihkan".
“1,5 derajat Celsius bukanlah titik jurang. Namun, kami tahu setiap pecahan derajat sangat berarti, terutama dalam memperparah kejadian cuaca ekstrem,” kata Samantha Burgess, pimpinan strategis bidang iklim di ECMWF.
Dalam Perjanjian Paris 2015, pemerintah dunia berkomitmen untuk berupaya mencegah pemanasan global melampaui 1,5 derajat Celsius, yang diukur sebagai rata-rata suhu jangka panjang dibandingkan dengan era praindustri.
Namun, kegagalan negara-negara menurunkan emisi gas rumah kaca membuat ambang tersebut kini berpotensi terlampaui sebelum 2030.
Hal ini sekitar satu dekade lebih cepat dari perkiraan saat Perjanjian Paris ditandatangani, menurut ECMWF.
“Kita hampir pasti akan melampauinya,” ujar Carlo Buontempo, Direktur Copernicus Climate Change Service milik Uni Eropa.
“Pilihan yang kita miliki sekarang adalah bagaimana mengelola kelebihan batas yang tak terelakkan ini dan dampaknya terhadap masyarakat serta sistem alam,” sambungnya.
Cuaca ekstrem akan lebih parah
Saat ini, tingkat pemanasan global jangka panjang berada di kisaran 1,4 derajat Celsius di atas era praindustri, menurut ECMWF.
Jika diukur dalam jangka pendek, dunia sebenarnya sudah melampaui batas 1,5 derajat Celsius pada 2024.
Padahal, melampaui ambang 1,5 derajat Celsius dalam jangka panjang, bahkan jika hanya sementara, akan memicu dampak yang lebih ekstrem dan meluas, termasuk gelombang panas yang lebih lama dan lebih panas, serta badai dan banjir yang semakin kuat.
Pada 2025, kebakaran hutan di Eropa menghasilkan total emisi tertinggi sepanjang sejarah.
Sejumlah studi ilmiah juga mengonfirmasi bahwa beberapa peristiwa cuaca ekstrem diperparah oleh perubahan iklim, termasuk Badai Melissa di Karibia serta hujan monsun di Pakistan yang menewaskan lebih dari 1.000 orang akibat banjir.
Meski dampak perubahan iklim kian memburuk, ilmu iklim justru menghadapi tekanan politik yang meningkat.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut perubahan iklim sebagai “penipuan terbesar”, pekan lalu menarik AS dari puluhan badan PBB, termasuk Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC).
Padahal, konsensus ilmiah yang telah lama disepakati para ilmuwan dunia menyatakan bahwa perubahan iklim nyata adanya, dan sebagian besar disebabkan oleh aktivitas manusia, serta kini makin memburuk.
Penyebab utamanya adalah emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak, dan gas, yang menjebak panas di atmosfer.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang