Wilayah yang Berpotensi Cuaca Ekstrem hingga 29 Januari 2026 akibat Monsun Asia

BMKG, Monsun Asia, Wilayah yang Berpotensi Cuaca Ekstrem hingga 29 Januari 2026 akibat Monsun Asia

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap bahwa penguatan Monsun Asia dan ITCZ akan memicu cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia

Pada periode 23–26 Januari 2026, BMKG mencatat kejadian hujan dengan intensitas lebat hingga ekstrem di beberapa wilayah Indonesia, antara lain di DK Jakarta (171,8 mm/hari) dan Banten (148,9 mm/hari).

Berdasarkan analisis dinamika atmosfer, cuaca signifikan tersebut dipengaruhi oleh kombinasi beberapa faktor, salah satunya penguatan monsun dingin Asia.

Aktivitas Monsun Asia yang ditandai dengan peningkatan kecepatan angin di Laut China Selatan terpantau dalam sepekan terakhir. Massa udara dari Asia tersebut bergerak ke arah selatan, memasuki wilayah Indonesia.

Peningkatan kecepatan angin tidak hanya teramati di Laut China Selatan, namun juga di sekitar Selat Karimata yang mengindikasikan aktivitas Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS).

Saat bertemu dengan massa udara dari belahan bumi selatan, aliran udara dari Asia tersebut membentuk pola awan memanjang akibat konvergensi antar-tropis atau InterTropical Convergence Zone (ITCZ).

Pola awan yang terbentuk pada ITCZ tersebut memanjang dari wilayah Samudra Hindia barat Bengkulu, Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, hingga Laut Arafura.

Selain monsun Asia, TC Luana yang saat ini sudah melemah menjadi Pusat Tekanan Rendah juga turut memicu pembentukan pola awan yang memanjang akibat ITCZ dalam sepekan terakhir.

Didukung dengan kelembapan yang tinggi dan labilitas atmosfer yang kuat, pembentukan awan dan hujan di sebagian wilayah Indonesia khususnya bagian selatan, menjadi lebih masif sehingga memicu serangkaian bencana hidrometeorologis dalam sepekan terakhir.

Dinamika atmosfer sepekan ke depan

Dalam sepekan ke depan, BMKG memprakirakan pengaruh dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal masih signifikan terhadap kondisi cuaca di Indonesia.

Pada skala global, El Niño–Southern Oscillation (ENSO) terpantau menguat pada fase negatif yang mengindikasikan kondisi La Niña lemah. Kondisi ini berpotensi meningkatkan pasokan uap air yang mendukung pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia, terutama bagian timur.

Aktivitas monsun Asia diprediksi masih cukup persisten hingga dasarian pertama Februari.

Selain itu, Cross Equatorial Northerly Surge (CENS) juga diprakirakan masih aktif dalam beberapa hari ke depan.

Selain itu, daerah tekanan rendah berpotensi terbentuk di Samudra Hindia selatan Banten, Teluk Carpentaria, dan daratan Australia barat laut, yang mampu membentuk daerah perlambatan kecepatan angin (konvergensi) di wilayah Indonesia bagian selatan.

Dengan kondisi atmosfer yang relatif lembap dan labil, kondisi cuaca signifikan masih berpotensi terjadi di sebagian Indonesia, khususnya Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan Papua Pegunungan.

Cuaca 27–29 Januari 2026

Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat.

Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang-lebat yang terjadi di Sumatra Barat, Jambi, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Tengah, D.I Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.

Siaga (Hujan lebat–sangat lebat): Bengkulu, Banten, DK Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur.

Awas (Hujan sangat lebat- hujan ekstrem): Jawa Barat.

Angin kencang: Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang