Nobel Perdamaian 'Pindah' ke Trump, Komite Nobel Norwegia: Tak Bisa Dialihkan!

Pemimpin oposisi Venezuela, María Machado serahkan nobel perdamaian ke Trump
Pemimpin oposisi Venezuela, María Machado serahkan nobel perdamaian ke Trump

 Sejumlah politisi Norwegia mengecam keputusan pemimpin oposisi Venezuela, María Corina Machado, yang menyerahkan medali Hadiah Nobel Perdamaian miliknya kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump. 

Mereka menyebut langkah tersebut sebagai sesuatu yang "absurd" dan menilai Trump sebagai sosok yang gemar mencari sorotan serta mengambil pujian atas kerja orang lain.

Machado menyerahkan medali Nobel Perdamaian itu kepada Trump di Gedung Putih pada Kamis, dengan menyebutnya sebagai "pengakuan atas komitmen uniknya terhadap kebebasan kami".

Beberapa jam kemudian, Trump menulis di platform Truth Social bahwa Machado telah "memberikan saya medali Nobel Perdamaian atas pekerjaan yang telah saya lakukan", seraya menyebutnya sebagai "isyarat luar biasa dari rasa saling menghormati".

Ketua Komite Nobel Perdamaian, Jorgen Watne Frydnes

Sebuah foto yang dibagikan Gedung Putih memperlihatkan Trump berpose dengan medali tersebut, yang dipajang dalam bingkai emas besar disertai tulisan: "Diberikan sebagai simbol rasa terima kasih pribadi atas nama rakyat Venezuela sebagai pengakuan atas tindakan Presiden Trump yang berprinsip dan tegas untuk mengamankan Venezuela yang bebas."

Pusat Perdamaian Nobel menegaskan melalui media sosial bahwa "sebuah medali dapat berpindah kepemilikan, tetapi gelar penerima Hadiah Nobel Perdamaian tidak dapat dipindahkan". 

Penyelenggara penghargaan tersebut—Komite Nobel Norwegia dan Institut Nobel Norwegia—juga kembali menegaskan bahwa hadiah Nobel "tidak dapat dicabut, dibagi, atau dialihkan", sebagaimana telah mereka sampaikan ketika Machado pertama kali mengungkapkan rencananya.

Saat menerima Hadiah Nobel Perdamaian di Oslo bulan lalu, setelah melakukan perjalanan rahasia yang dramatis dari Venezuela, Machado dipuji oleh Komite Nobel atas perjuangannya yang panjang bagi demokrasi melawan rezim Nicolás Maduro yang disebut sebagai "negara otoriter yang brutal". 

Sejak itu, Trump telah menginvasi Venezuela dan menggulingkan Maduro, lalu menyerahkan kekuasaan kepada Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez.

Pemimpin Partai Kiri Sosialis Norwegia sekaligus juru bicara kebijakan luar negerinya, Kirsti Bergsto, menyebut tindakan Machado "sama sekali tidak masuk akal".

"Di atas segalanya, ini tidak masuk akal. Hadiah perdamaian tidak bisa begitu saja diberikan,"  katanya.

Bergsto juga menyinggung ancaman Trump untuk menginvasi Greenland sebagai alasan mengapa ia tidak layak dikaitkan dengan penghargaan tersebut.

"Trump tentu akan mengklaim bahwa dia telah menerimanya, tetapi penghargaan itu tidak dapat dialihkan. Ancaman berulang Trump terhadap Greenland dengan jelas menunjukkan mengapa akan menjadi kegilaan untuk menganugerahinya Hadiah Nobel Perdamaian," ujarnya.

Pemimpin Partai Pusat Norwegia, Trygve Slagsvold Vedum, mengatakan bahwa siapa pun yang menerima penghargaan tersebut, dialah penerima sahnya.

"Fakta bahwa Trump menerima medali itu menunjukkan sesuatu tentang dirinya sebagai tipe orang: seseorang yang suka pamer dan ingin menghiasi dirinya dengan penghargaan serta karya orang lain," katanya.

Sementara itu, Raymond Johansen, mantan Wali Kota Oslo dari Partai Buruh yang kini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Norwegian People’s Aid, menyebut situasi tersebut sebagai sesuatu yang "sangat memalukan dan merusak".

Ia memperingatkan bahwa tindakan Machado berpotensi merusak reputasi Hadiah Nobel Perdamaian dan Komite Nobel.

"Ini sungguh memalukan dan merusak salah satu penghargaan paling terkenal dan penting di dunia. Pemberian penghargaan ini kini sangat dipolitisasi dan berpotensi berbahaya, karena dapat dengan mudah melegitimasi perkembangan yang bertentangan dengan semangat penghargaan perdamaian," tulis Johansen di Facebook.

"Saya tidak percaya dia benar-benar memberikan penghargaan itu kepada Trump. Apa yang akan dikatakan Komite Nobel?"  tambahnya.

Kementerian Luar Negeri Norwegia menolak memberikan komentar, dengan menyatakan bahwa Hadiah Nobel bersifat independen dari pemerintah Norwegia dan merujuk pertanyaan kepada Komite Nobel Norwegia, yang belum memberikan tanggapan resmi.