Gebrakan Trump Bikin Saham Bank Besar AS Rontok, JP Morgan hingga Citigroup Tertekan

Ilustrasi Saham
Ilustrasi Saham

Saham sektor perbankan dan jasa keuangan yang tercarat di bursa Amerika Serikat (AS) kompak anjlok pada perdagangan Senin, 12 Januari 2026. Koreksi signifikan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengusulkan pembatasan suku bunga kartu kredit maksimal 10 persen selama satu tahun. 

Trump menyampaikan bahwa pembatasan suku bunga kartu kredit tersebut akan mulai berlaku pada 20 Januari 2026. Namun, ia tidak merinci mekanisme teknis penerapan kebijakan tersebut.

“Mulai 20 Januari 2026, saya sebagai Presiden Amerika Serikat menyerukan pembatasan suku bunga kartu kredit sebesar 10 persen selama satu tahun,” tulis Trump di Truth Social dikutip dari CNBC Internasional pada Selasa, 13 Januari 2026. 

“Harap diketahu bahwa kami tidak akan lagi membiarkan masyarakat Amerika ‘ditipu’ oleh perusahaan kartu kredit,” lanjutnya.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump

Trump menyatakan bahwa bank yang tidak mematuhi pembatasan tersebut akan dianggap melanggar hukum. Meski demikian, kebijakan yang Trump usulkan tetap memerlukan persetujuan dari Kongres. 

Penurunan paling parah dialami bank-bank yang sangat bergantung pada bisnis kartu kredit. Terbukti, saham Capital One merosot 6 persen dan saham Synchrony Financial anjlok lebih dari 7 persen.

Sementara itu, bank dengan model bisnis yang lebih terdiversifikasi mencatatkan penurunan relatif lebih rendah. Saham JPMorgan Chase melemah sekitar 4 persen, saham Citigroup tergerus lebih dari 8 persen dan saham Bank of America turun 2 persen. 

Tekanan juga dialami emiten pemroses pembayaran meski tidak menanggung risiko kredit secara langsung. Saham Visa tergelincir 2 persen sementara Mastercard menyusut 9,2 persen. 

Gelombang koreksi turut menyeret saham jasa keuangan lainnya. American Express melemah 4 persen dan saham Wells Fargo turun sekitar 2 persen.

Isu pembatasan suku bunga kartu kredit sejatinya bukan hal baru. Rancangan undang-undang bipartisan yang mengusulkan batas suku bunga 10 persen pernah diajukan sebelumnya. 

Di sisi lain, sejumlah pengamat menilai rencana Trump berpotensi membuat bank 'mengerem' penyaluran kredit sehingga banyak konsumen kehilangan akses pembiayaan. Kondisi ini dinilai dapat menekan belanja rumah tangga yang selama ini menyumbang sekitar dua pertiga dari aktivitas ekonomi AS.

Pakar industri perbankan juga memperingatkan adanya konsekuensi tidak terduga bagi konsumen dan perekonomian. Pembatasan tersebut berisiko membuat sebagian besar bisnis kartu kredit menjadi tidak menguntungkan, terutama untuk nasabah dengan profil kredit berisiko tinggi.

Alih-alih menawarkan produk yang tidak menguntungkan, bank disebut cenderung menghentikan layanan bagi segmen subprime serta memangkas berbagai fasilitas kartu kredit. Termasuk program loyalitas dan hadiah.

Di tengah kekhawatiran tersebut, saham perusahaan buy now pay later (BNPL) sempat menguat di awal perdagangan. Sentimen positif berasal dari  asumsi konsumen akan beralih ke pembiayaan alternatif. Namun, penguatan itu tidak bertahan lama. 

Namun, setelah menguat saham BNPL ini mengikuti arus utama. Saham Affirm Holdings berbalik turun lebih dari 6 persen dan saham PayPal melemah sekitar 1 persen.