Kasus Nenek Saudah Jadi Sorotan, Bareskrim Selidiki Tambang Ilegal di Sumatera Barat

Sumatera Barat, Bareskrim, Kasus Nenek Saudah Jadi Sorotan, Bareskrim Selidiki Tambang Ilegal di Sumatera Barat

Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri mengerahkan tim ke Sumatera Barat untuk menelusuri dugaan praktik penambangan ilegal di wilayah tersebut.

"Tadi Pak Wakabareskrim (Irjen Polisi Nunung Syaifuddin) memerintahkan kami dan kami sudah menurunkan tim ke Sumatera Barat untuk melakukan penegakan hukum terkait tambang ilegal, terutama di sana kan banyak emas," kata Direktur Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Polisi Moh Irhamni di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Senin.

Dilansir dari Antara, pernyataan tersebut disampaikan Irhamni setelah dirinya berkoordinasi dengan anggota DPR RI Andre Rosiade mengenai dugaan aktivitas pertambangan ilegal di Sumatera Barat (Sumbar).

Irhamni menjelaskan, tim dari Dittipidter Bareskrim Polri saat ini telah berada di lokasi dan menjalin koordinasi dengan kepolisian daerah serta kepolisian resor setempat.

Terkait kemungkinan adanya keterlibatan perusahaan besar dalam aktivitas tambang ilegal tersebut, Irhamni menyebut pihaknya belum dapat memastikan karena proses penyelidikan masih berjalan.

"Kami sedang melakukan penyelidikan. Belum tentu. Bisa iya, bisa tidak," ucapnya.

Perwira tinggi Polri berpangkat brigadir jenderal itu juga mengajak masyarakat untuk aktif melaporkan apabila mengetahui adanya praktik penambangan ilegal di Sumatera Barat.

"Masyarakat yang mempunyai informasi, segera sampaikan kepada kami sehingga kami bisa melakukan penegakan hukum. Tentunya penegakan hukum secara berkeadilan," ucapnya.

Penambang ilegal punya puluhan alat berat

Pada Senin pagi, Andre Rosiade mendatangi Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, untuk berkoordinasi dengan Dittipidter Bareskrim Polri terkait dugaan pertambangan ilegal di Sumatera Barat. 

Dilansir dari , Senin, Andre Rosiade mengungkapkan bahwa praktik penambangan ilegal di daerah pemilihannya itu melibatkan para pelaku yang memiliki puluhan alat berat.

"Ini pemain-pemain ada orang daerah situ maupun orang luar yang biasanya punya alat berat. Alat beratnya ada minimal 10 sampai puluhan," kata Andre.

Menurut Andre, dugaan penambangan ilegal itu sudah berlangsung lama dan tersebar di sejumlah daerah, meski menurutnya belum menimbulkan kerusakan masif.

Terkait dugaan keterlibatan korporasi besar, Andre menegaskan bahwa praktik tambang ilegal di Sumbar berbeda dengan daerah lain.

Menurutnya, sejauh ini tidak ditemukan adanya keterlibatan korporasi besar, melainkan para pengusaha lokal maupun dari luar daerah yang menjadi pemain utama.

"Enggak, kalau di Sumbar beda. Jadi di Sumatera Barat itu beda ya. Korporasi besar yang seperti di daerah lain. Dia ini pemain-pemain ya mungkin pengusaha punya puluhan alat berat," jelasnya.

"Jadi ada berapa pengusaha, di Pasaman ada pemainnya, di Pasaman Barat ada pemainnya. Di Solok Selatan ada pemainnya, di Kabupaten Sijunjung ada pemainnya. Ini ada pemain-pemainnya," tambah dia.

Namun ia juga mengakui adanya dugaan keterlibatan oknum yang membekingi aktivitas tambang ilegal, mengingat praktik tersebut sudah berlangsung lama dan masif.

"Ya mungkin saja ada yang membeking," terang politikus Partai Gerindra ini.

Ia menegaskan, keberadaan tambang ilegal di sejumlah daerah biasanya diketahui luas oleh masyarakat karena beroperasi di sungai-sungai dan wilayah terbuka. Karena itu, Andre meminta aparat penegak hukum di daerah tidak menutup mata.

"Jadi kita juga minta Pasaman Kapolresnya dan jajaran, jangan pakai kacamata kuda. Ini kan sudah menjadi rahasia umum, kasus penambang ilegal dan liar seperti ini," pinta Andre.

Andre mengungkapkan, naiknya kasus tambang ilegal ini bermula setelah terkuaknya kasus penganiayaan terhadap Nenek Saudah di Kabupaten Pasaman.

Nenek Saudah diketahui dianiaya lantaran menentang tambang emas ilegal di lahannya.

Nenek Saudah kemudian dihajar sampai babak belur hingga pingsan dan dilarikan ke rumah sakit.

"Kasus Nenek Saudah yang ada di Pasaman itu adalah puncak gunung es. Kita tahu beberapa tahun belakang peti penambangan emas secara ilegal di Sumatera Barat itu marak," ungkapnya. 

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang