Tanpa Subsidi, Permintaan Motor Listrik Bisa Meningkat Kembali
Kinerja pasar motor listrik Indonesia pada 2025 mengalami penurunan tajam. Hal tersebut merupakan imbas ketidakjelasan subsidi dari pemerintah.
Membuat masyarakat menunggu-nunggu bantuan dari pemerintah. Sehingga mereka menahan pembelian kendaraan roda dua setrum.
Pada 2026 pemberian subsidi motor listrik juga masih abu-abu. Berpotensi menghambat laju kinerja industri Electric Vehicle (EV).
“Namun tidak berarti satu-satunya jalan harus subsidi tunai terus-menerus. Ada ruang strategi lain yang dapat menahan penurunan dan perlahan membangun pasar,” ungkap Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank kepada KatadataOTO belum lama ini.

Menurut Josua ada beberapa strategi yang bisa diterapkan oleh para pelaku atau produsen motor listrik di dalam negeri.
Semisal Alva, Gesits sampai Polytron menggantikan sebagian fungsi subsidi dengan penurunan harga lebih agresif.
Selanjutnya menerapkan paket uang muka ringan dan tenor lebih panjang yang sehat. Lalu skema cicilan menempel pada penghematan biaya harian.
“Supaya konsumen merasa arus kasnya lebih aman. Ini penting karena adopsi motor listrik di Indonesia selama ini sangat dipacu insentif,” lanjut Josua.
Kemudian penurunan harga baterai baru motor listrik, diperkirakan makin terasa dalam beberapa waktu ke depan.
Sementara skema sewa baterai maupun jaminan purna jual, dapat menurunkan rasa takut konsumen terhadap biaya servis penampung daya serta nilai jual kembali.
“Ketiga, perluasan jaringan pengisian dan penukaran baterai yang benar-benar mudah dipakai akan memperbesar kelompok pembeli yang tadinya ragu,” tegas Josua.
Sedangkan pada tingkat pemerintahan, Josua menyarankan agar Presiden Prabowo Subianto bersama para menteri dapat menggeser fokus dari subsidi tunai ke insentif non-tunai.
Pemerintah juga bisa memberikan kepastian aturan mengenai motor listrik demi menstimulus masyarakat.
“Misalnya memberi kemudahan lalu lintas atau parkir untuk kendaraan listrik. Seperti pembebasan ganjil genap di DKI Jakarta,” pungkas Josua.

Tidak berhenti sampai di situ saja, pemerintah turut disarankan mendorong standar teknis dan infrastruktur.
Dengan begitu biaya kepemilikan motor listrik dapat turun secara alami. Sehingga lebih terjangkau bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.
Jika seluruh strategi di atas diterapkan, dipercaya dapat mendorong penjualan motor listrik pada 2026.