Tantangan Bengkel Motor Listrik: Suku Cadang & Limbah Baterai

Bengkel Motor Listrik, limbah baterai, Tantangan Bengkel Motor Listrik: Suku Cadang & Limbah Baterai

Bengkel spesialis motor listrik kini mulai bermunculan sejalan dengan tren motor listrik yang kian naik.

Lantaran masih jadi teknologi yang baru, maka jumlah bengkel yang punya layanan khusus memperbaiki motor listrik masih hitungan jari jumlahnya.

Ridwan Alawi, pemilik dan juga teknisi Bengkel Motor Listrik dan Sepeda Listrik Bogor RI EV Maintenance mengatakan, ada sejumlah tantangan yang masih jadi kendala dari bisnis bengkel motor listrik.

Ketersediaan Suku Cadang Masih Sulit

"Pertama adalah ketersediaan suku cadang. Kita saat ini masih mengandalkan aftermarket dan kita masih impor secara langsung atau impornya secara kolektif. Karena kita kiblatnya di Jogja, sebagian besarnya kita ambil seperempatnya di sana, sisanya di Surabaya. Karena lumayan besar untuk pengadaan ini adanya di Surabaya juga. Kebanyakan kita online sih. Hampir 70 persen online untuk pengadaan part ini," katanya kepada Kompas.com, Selasa (3/6/2026).

Lantaran ketersediaan suku cadang masih harus impor, maka pelanggan harus menunggu atau inden untuk motornya diperbaiki.

Bengkel Motor Listrik, limbah baterai, Tantangan Bengkel Motor Listrik: Suku Cadang & Limbah Baterai

Bengkel Motor Listrik & Sepeda Listrik Bogor (RI EV Maintenance)

Sehingga pengerjaannya harus ditunda hingga suku cadangnya tiba di bengkel.

Limbah Baterai

Kemudian yang masih menjadi kendala dan juga PR bersama adalah perihal limbah baterai.

Alawi untuk baterai ada yang bisa di recycle ada pula yang tidak bisa. Khususnya untuk jenis Sealed Lead Acid (SLA) atau baterai tipe aki masih bisa di recycle.

"Nantinya akan dilebur dan dijual loak ya bisa dibilang. Ke pengepul timah. Dia biasanya datang sendiri, kemudian dia hargai dengan harga berat timahnya. Kita jualnya jual bekas. Sudah enggak bisa dipakai lagi," katanya.

Sementara itu, untuk baterai tipe Lithium masih belum ada untuk penanganan baterai bekasnya.

"Tapi, ini PR juga untuk pengguna kendaraan listrik, khususnya kami, untuk di bengkel. Recycle untuk litium ini belum ada. Jadi, termasuk tambahan limbah juga untuk di Indonesia. Khusus di luar negeri, di Cina sebenarnya sudah ada. Tapi, sangat mahal untuk merecycle litium ini. Karena bahan kimiawinya lumayan berbahaya. Nah, ini salah satu kendala kita ya di situ," katanya.

Alawi mengatakan, karena saat ini belum ada solusi konkret, maka limbah baterai litium di Indonesia saat ini dikumpulin di suatu tempat yang aman. Sehingga terhindar dari benturan, terhindar dari bahaya kebakaran.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang