Begini Cara Membaca Tenaga Motor Listrik
Banyak konsumen motor listrik masih bingung saat melihat spesifikasi tenaga pada brosur.
Angka yang tertera sering kali terlihat besar, tetapi belum tentu menggambarkan daya yang dipakai secara terus-menerus.
Abdulah, pemilik bengkel motor listrik Dolland Motor Electric, di Bekasi, Jawa Barat, menjelaskan bahwa penulisan tenaga pada motor listrik memang memiliki karakteristik berbeda dibandingkan motor bensin.
Menurut Abdul panggilannya, motor listrik biasanya memiliki dua jenis informasi daya, yaitu daya nominal (rated power) dan daya puncak (peak power). Keduanya bisa membuat salah paham jika tidak memahami cara membacanya.
Bengkel motor listrik Dolland Motor Electric di Bekasi, Jawa Barat
"Jadi gini, kalau di motor listrik itu, penulisan daya ada rentangnya. Rentang itu apa? Misalnya motor BLDC atau dinamo memiliki daya 1.500 watt. Nah, 1.500 watt itu adalah daya puncaknya," kata Abdul kepada Kompas.com, belum lama ini.
Ia menjelaskan, daya nominal merupakan kemampuan dasar motor listrik saat digunakan secara normal dan terus-menerus.
Sementara itu, daya puncak adalah tenaga maksimum yang bisa dicapai motor dalam waktu singkat, misalnya saat akselerasi atau menanjak.
"Biasanya, berdasarkan lembar spesifikasi pabrikan, daya puncak itu bisa mencapai tiga kali daya nominalnya," katanya.
"Daya nominal itu daya dasarnya. Jadi kalau 1.500 watt, berarti bisa digenjot sampai 4.500 watt," ujar Abdul.
Ilustrasi motor listrik dengan baterai SLA
Mengapa Demikian?
Karena adanya rentang tersebut, pabrikan kadang mencantumkan angka yang lebih tinggi di brosur atau materi promosi.
Hal ini dilakukan karena motor memang mampu mencapai tenaga tersebut pada kondisi tertentu.
"Nah, kalau pabrikan mau mengklaim itu 2.000 watt, bisa tidak? Bisa. Karena masih dalam rentang tersebut," kata Abdul.
Artinya, jika motor memiliki daya nominal 1.500 watt tetapi mampu menghasilkan daya puncak hingga 4.500 watt, maka klaim 2.000 watt masih dianggap wajar.
"Makanya banyak yang beredar, tertulis 2.000 watt, padahal daya dasarnya 1.500 watt. Tapi salah tidak? Tidak salah. Karena motor tersebut bisa mencapai 4.500 watt," ujarnya.
Yadea E8S Pro, salah satu motor listrik dengan baterai SLA
"Kalau tertulis 2.000 watt, sementara daya puncaknya 3.500 watt, itu masih masuk dalam rentang yang sama," katanya.
STNK
Selain brosur, ada juga dokumen resmi seperti STNK (Surat Tanda Nomor Kendaraan) yang biasanya mencantumkan spesifikasi kendaraan.
Menurut Abdul, angka yang tertulis di STNK harus mengacu pada daya dasar atau daya nominal.
"Di SNK harus menggunakan daya dasarnya. Misalnya mereka menyebut 2.000 watt, maka yang tertulis juga 2.000 watt," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang