Apa Keistimewaan Greenland Sehingga Diincar oleh Trump?

Kabar Amerika Serikat (AS) akan mengeklaim Greenland sudah berkembang sejak lama.
Dan kini, kabar itu semakin panas berembus.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahkan telah memberi tahu para anggota parlemen bahwa Presiden AS Donald Trump lebih memilih untuk membeli Greenland daripada menginvasinya.
Pernyataan itu disampaikannya dalam sebuah pengarahan dengan para anggota parlemen dari komisi angkatan bersenjata dan kebijakan luar negeri, Senin (5/1/2026).
Dilansir dari , Rabu (7/1/2026), diberitakan Trump telah memerintahkan para ajudannya untuk menyampaikan rencana yang diperbarui.
Menurut laporan New York Times, Selasa (6/1/2026), pengarahan kongres difokuskan pada Venezuela, tetapi para anggota parlemen menyampaikan kekhawatiran tentang niat Trump terhadap Greenland.
Namun hingga hari ini, belum ada rincian detail dari rencana Trump akan membeli Greenland.
Lantas, apa keistimewaan Greenland sehingga "diburu" oleh Trump?
Peta geografis Greenland
Diketahui, Trump telah mendambakan Greenland sejak masa jabatan pertamanya.
Greenland adalah wilayah otonom yang berpenduduk jarang dan berada di bawah kedaulatan Denmark, negara anggota NATO.
Denmark mendirikan kendali kolonial atas Greenland pada abad ke-18 dan membiarkannya menjadi otonom pada abad ke-20.
Greenland adalah pulau terbesar di dunia yang terletak di Utara Samudra Atlantik, di timur laut Kanada dan barat laut Eropa.
Dilansir dari Encyclopedia Britannica, sekitar lebih dari dua pertiga wilayahnya berada di Lingkaran Arktik, membuatnya secara geografis sangat strategis di antara Benua Amerika Utara dan Eropa.
Greenland bertetangga dekat dengan Kanada, jaraknya hanya sekitar 26 kilometer melalui selat sempit, sementara Islandia berada sekitar 320 kilometer di seberang selat tersebut.
Secara fisik luasnya mencapai sekitar 2,16 juta kilometer persegi, dengan sekitar 80 persen permukaan ditutupi es, menjadikannya salah satu wilayah dengan es terluas di dunia di luar Antarktika.
Greenland beriklim sangat dingin, dengan sebagian besar vegetasi berupa tundra, dan iklimnya memainkan peran penting dalam sistem iklim global.
Status politik Greenland
Secara politik, Greenland bukan bagian dari Amerika Serikat dan juga bukan negara merdeka.
Greenland adalah wilayah otonom di dalam Kerajaan Denmark. Artinya, meskipun memiliki pemerintahan sendiri untuk urusan domestik, Denmark tetap mengendalikan kebijakan luar negeri dan pertahanan Greenland.
Sejak 2009, Greenland telah menikmati status otonomi yang diperluas, termasuk hak untuk mengelola urusan internal. Namun status ini tetap berada dalam bingkai kedaulatan Denmark.
Pemerintah Denmark memegang kendali atas hubungan internasional dan pertahanan, sedangkan penduduk Greenland memiliki parlemen sendiri yang mengatur banyak aspek domestik pemerintahan.
Mayoritas penduduk setempat, yang terutama terdiri dari komunitas Inuit, secara luas menolak gagasan bergabung dengan AS dan lebih banyak mendukung kerangka otonomi atau bahkan kemerdekaan penuh, dicukil dari ABC.
Mengapa AS berminat terhadap Greenland?
Greenland dalam peta dunia
Minat Amerika Serikat terhadap Greenland bukan hal baru.Dalam sejarahnya, sejak era Perang Dunia II dan Perang Dingin, AS telah melihat pulau ini sebagai titik strategis untuk kepentingan militer dan keamanan.
Masih dari Encyclopedia Britannica, pada 1946, Presiden AS Harry S. Truman pernah secara resmi menawarkan Denmark uang tunai untuk membeli Greenland, melihat pentingnya lokasinya dalam konteks keamanan pascaperang.
Tapi tawaran itu ditolak, dan AS kemudian tetap memperluas akses militer melalui kesepakatan dengan Denmark.
Keberadaan Pituffik Space Base (dahulu Thule Air Base) di barat laut Greenland adalah salah satu hasil hubungan pertahanan ini.
Pangkalan yang dioperasikan berdasarkan perjanjian Denmark-AS ini telah menjadi titik pengamatan strategis bagi sistem pertahanan udara dan radar untuk wilayah Arktik dan timur laut Amerika Utara sejak 1950-an.
Minat politik dan strategis AS terhadap Greenland terus muncul hingga era kontemporer karena beberapa alasan utama, yaitu:
Posisi strategis Arktik
Lokasinya di lingkar utara menjadikannya penting bagi operasi militer, pemantauan udara, dan pertahanan Atlantik Utara, khususnya dalam konteks hubungan keamanan dengan Rusia dan sekutu NATO lainnya.
Sumber daya alam
Greenland dikenal memiliki potensi besar mineral langka dan sumber daya lain seperti minyak, gas, serta rare earth elements.
Ketika perang dingin atom berubah menjadi persaingan ekonomi energi dan teknologi, potensi ini menarik perhatian global.
Perubahan iklim dan rute perdagangan baru
Mencairnya es karena perubahan iklim membuka jalur pelayaran Arktik yang lebih mudah diakses, meningkatkan nilai ekonomi dan strategis wilayah ini.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang