Trump Incar Minyak Venezuela, Investor Global Waspada Dampaknya ke Pasar Energi

Kapal tanker minyak Venezuela Bella 1 yang tengah diburu AS di Laut Karibia
Kapal tanker minyak Venezuela Bella 1 yang tengah diburu AS di Laut Karibia

 Rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mengambil alih industri minyak Venezuela saat ini memicu perhatian dunia. Venezuela dikenal sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, namun selama bertahun-tahun produksinya merosot tajam akibat sanksi internasional, salah urus, dan konflik politik berkepanjangan. 

Meski terdengar ambisius, langkah Trump dinilai tidak akan memberikan dampak instan terhadap harga minyak global. Pasar energi global saat ini masih berada dalam kondisi surplus pasokan, karena itu, meskipun terjadi perubahan besar di Venezuela, para analis menilai lonjakan harga minyak dalam waktu dekat kecil kemungkinannya terjadi.

Sebagaimana diketahui, industri minyak Venezuela telah mengalami penurunan selama bertahun-tahun. Produksi minyak negara tersebut kini hanya sekitar 1,1 juta barel per hari, jauh di bawah puncaknya pada 1999 yang mencapai 3,5 juta barel per hari. 

Meski demikian, sejumlah analis optimistis Venezuela berpotensi menggandakan bahkan melipatgandakan produksinya jika kondisi memungkinkan. “Meskipun banyak laporan menyebut infrastruktur minyak Venezuela tidak rusak akibat aksi militer AS, infrastruktur tersebut telah mengalami pelapukan selama bertahun-tahun dan akan membutuhkan waktu untuk dibangun kembali,” kata Patrick De Haan, analis utama perminyakan, sebagaimana dilansir dari AP News, Senin, 5 Januari 2026.

Menurutnya, kerusakan struktural yang terjadi tidak bisa dipulihkan dalam waktu singkat, meskipun ada keterlibatan langsung Amerika Serikat. Selain persoalan teknis, faktor politik juga menjadi penghambat utama. 

Perusahaan minyak Amerika Serikat disebut enggan menanamkan modal besar sebelum melihat kepastian rezim yang stabil. Situasi politik Venezuela masih penuh ketidakpastian, terutama setelah Trump menyatakan AS kini memegang kendali, sementara wakil presiden Venezuela sebelumnya justru berpendapat bahwa Nicolás Maduro seharusnya dikembalikan ke kekuasaan.

Namun, ada pula pandangan yang lebih optimistis. “Namun jika tampaknya AS berhasil menjalankan negara tersebut selama 24 jam ke depan, saya akan mengatakan akan ada banyak optimisme bahwa perusahaan energi AS bisa masuk dan menghidupkan kembali industri minyak Venezuela dengan cukup cepat,” jelas Phil Flynn, analis pasar senior di Price Futures Group. 

“Dapat mengokohkan harga yang lebih rendah untuk jangka panjang, serta memberi tekanan tambahan pada Rusia di pasar energi global,” sambungnya. 

Trump sendiri mengatakan bahwa perusahaan minyak AS akan masuk dan membangun kembali sistem ini. Meski demikian, harga minyak mentah AS hanya naik kurang dari satu persen menjadi US$57,39 per barel, atau setara sekitar Rp958.413 per barel, pada Minggu waktu setempat. 

Lonjakan besar tidak diantisipasi karena Venezuela merupakan anggota OPEC, sehingga produksinya sudah diperhitungkan dalam kuota organisasi tersebut. Selain itu, pasar minyak global saat ini masih mengalami kelebihan pasokan, sehingga tambahan produksi dari Venezuela tidak serta-merta mengguncang harga.

Perlu diketahui, Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia, sekitar 303 miliar barel, menurut data Badan Informasi Energi AS. Angka tersebut setara dengan sekitar 17 persen dari total cadangan minyak global.

Namun ironisnya, Venezuela kini hanya menyumbang kurang dari 1 persen pasokan minyak mentah dunia. Korupsi, salah kelola, dan sanksi ekonomi AS menjadi penyebab utama penurunan produksi drastis tersebut.

Beberapa perusahaan minyak internasional menunjukkan sikap hati-hati. Exxon Mobil belum memberikan komentar resmi. Sementara itu, juru bicara ConocoPhillips Dennis Nuss menyampaikan melalui email bahwa perusahaan sedang memantau perkembangan di Venezuela dan potensi implikasinya terhadap pasokan energi dan stabilitas global. 

"Terlalu dini untuk berspekulasi mengenai aktivitas bisnis atau investasi di masa depan,” tulisnya. 

Chevron menjadi satu-satunya perusahaan AS dengan operasi signifikan di Venezuela, memproduksi sekitar 250.000 barel per hari melalui kerja sama dengan perusahaan minyak negara PDVSA. “Chevron tetap fokus pada keselamatan dan kesejahteraan karyawan kami, serta integritas aset kami. Kami terus beroperasi dengan kepatuhan penuh terhadap semua hukum dan peraturan yang berlaku,” kata juru bicara Chevron, Bill Turenne.