Takut Minum Obat Deksametason karena Isu Medsos, Guru Besar UGM Beri Penjelasan Ini

Seorang warganet di media sosial (medsos) X mengaku jadi takut mengonsumsi deksametason meski obat itu diresepkan oleh dokter.
"Kemarin kaki sender abis ketancep paku terus dikasih obat dexamethasone, sempet baca thread waktu itu jadi takut. jadi mending di minum ga ya obatnya? terus sampe rumah lupa obat antibiotik nya, se ingetku yang ancefa bener ga sih?" tulisnya via akun @tanyakanrl.
Kekhawatiran ini menyusul keramaian di medsos yang menarasikan deksametason adalah "obat dewa" yang dianggap sangat ampuh sehingga sering dikonsumsi masyarakat secara sembarangan.
Menyusul narasi itu, ada penjelasan juga soal risikonya jika dikonsumsi secara sembarangan dan berulang dalam waktu lama.
Dilansir dari , Minggu (21/12/2025), unggahan yang menyebut deksametason atau dexamethasone sebagai “obat dewa” dan “penyihir” awalnya dibagikan oleh akun @awr*******, Kamis (18/12/2025).
Dalam unggahan itu, deksametason disebut memiliki “kesaktian yang tidak masuk akal” karena dianggap mampu memberikan kesembuhan instan.
Meski demikian, pengunggah juga mengingatkan bahwa efek penyembuhan cepat tersebut juga dibarengi risiko efek samping yang sangat berbahaya bagi tubuh.
“Dia menawarkan ‘kesembuhan instan’ dengan kontrak perjanjian yang mengerikan,” tulis keterangan unggahan tersebut.
Deksametason obat aman?
Guru Besar Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Zullies Ikawati, mengatakan bahwa pada dasarnya obat selalu punya dua sisi, yaitu manfaat dan risiko.
"Jadi jika digunakan dengan tepat, maka akan bermanfaat. Untuk dexa ini, risiko efek samping dapat terjadi jika digunakan dalam dosis tinggi dan jangka panjang," ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (23/12/2025).
Meski begitu, kadang banyak orang "terpaksa" harus menggunakan dalam jangka panjang karena penyakitnya kronis sehingga membutuhkan obat secara rutin.
"Dalam hal ini, maka perlu ditimbang risiko dan manfaatnya. Walaupun ada risiko, tetapi ketika manfaatnya lebih besar, dan justru akan menyebabkan kondisi parah jika tidak diminum, maka pilihannya harus diminum," ujar Prof Zullies.
Untuk meminimalkan risiko, maka selama pengobatan, harus dilakukan berbagai upaya pencegahan atau upaya untuk mengatasi berbagai risikonya.
"Dalam kasus ketancap paku, maka sifatnya akut (hanya sebentar), bukan penggunaan kronis, maka sebenarnya masih aman digunakan," justru Prof Zullies.
Bahaya deksametason hanya muncul jika...
Menurut Prof Zullies, jika obat deksametason dipakai tanpa indikasi yang jelas, dosis tidak tepat, atau digunakan terlalu lama, barulah efek sampingnya akan muncul dan biasanya bersifat serius.
Prof Zullies menjelaskan, kerja deksametason memang cepat dan kuat, sehingga efeknya kerap terasa instan.
Bahkan, dosis kecil pun sudah dapat memberikan dampak yang nyata. Namun, justru karena itulah obat ini sering disalahgunakan.
“Karena terasa manjur, orang sering menggunakannya berulang-ulang, padahal obat ini bukan untuk pemakaian bebas dan bukan untuk jangka panjang tanpa pengawasan dokter,” ujarnya.
Menurutnya, deksametason bekerja dengan menekan sistem imun dan proses peradangan.
Obat ini menghambat pelepasan zat pemicu radang dan alergi, sehingga keluhan seperti bengkak, kemerahan, gatal, nyeri, dan sesak napas bisa cepat mereda.
“Namun karena sistem imun ditekan, tubuh menjadi lebih rentan terhadap infeksi jika obat digunakan tidak tepat,” kata Zullies.
Efek samping deksametason
Prof Zullies mengingatkan, penggunaan deksametason tanpa pengawasan dokter dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan.
Beberapa di antaranya adalah kulit menjadi sangat tipis seperti kertas tisu sehingga mudah memar. Selain itu, obat ini juga bisa menyebabkan tulang keropos atau osteoporosis, yang membuat tulang mudah patah.
“Efek lainnya, gula darah bisa naik sehingga memicu atau memperparah diabetes. Tekanan darah juga bisa meningkat,” ujarnya.
Konsumsi deksametason tidak sesuai resep dokter juga bisa meningkatkan risiko infeksi, memicu iritasi lambung, perdarahan saluran cerna, dan menyebabkan buffalo hump.
Kondisi tersebut ditandai dengan penumpukan lemak di area bahu atau punggung, sehingga muncul benjolan dan postur tubuh tampak membungkuk.
Selain itu, deksametason juga dapat menyebabkan wajah membulat atau moon face akibat penumpukan lemak di pipi dan perut.
“Jika dihentikan mendadak setelah digunakan lama, kondisinya bisa berbahaya. Pasien bisa mengalami lemas berat dan tekanan darah turun,” tutur Zullies.
Diketahui, tubuh manusia memproduksi steroid alami setiap hari. Konsumsi deksametason jangka panjang dapat membuat tubuh menghentikan produksi steroid tersebut.
“Ketika obat dihentikan tiba-tiba, tubuh belum siap memproduksi steroid lagi. Akibatnya, tubuh mengalami kekurangan hormon steroid,” ujarnya.
Meski ada efek samping, namun Prof Zullies menegaskan bahwa deksametason aman dikonsumsi asal sesuai petunjuk dokter.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang