Istilah “Jogja Beda Perempatan Beda Cuaca”, BMKG Yogyakarta Beri Penjelasan Ilmiah

cuaca, BMKG, hujan, Istilah “Jogja Beda Perempatan Beda Cuaca”, BMKG Yogyakarta Beri Penjelasan Ilmiah, Dampak Musim Monsoonal di Indonesia, Pola Musim di DIY Sama Seperti Wilayah Lainnya, Istilah Lokal sebagai Cara Warga Memahami Cuaca, Penjelasan Ilmiah “Cuaca Perempatan”, Pengaruh Proses Orografik di Wilayah DIY

Fenomena perbedaan cuaca di Yogyakarta kerap dirasakan warga, terutama saat memasuki awal musim hujan, ketika hujan turun deras di satu lokasi sementara wilayah lain justru terasa panas.

Fenomena tersebut kemudian memunculkan istilah yang berkembang di masyarakat, salah satunya “Jogja beda perempatan, beda cuaca”.

Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi cuaca yang tampak tidak merata dalam satu wilayah.

Forecaster BMKG Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Rahmad Tauladani menjelaskan bahwa fenomena tersebut berkaitan dengan karakter hujan lokal serta dinamika atmosfer dalam skala kecil.

Dampak Musim Monsoonal di Indonesia

Rahmad menjelaskan, Indonesia memiliki karakter cuaca yang unik karena letak geografisnya.

Kondisi ini dipengaruhi posisi Indonesia yang berada di antara dua benua dan dua samudera.

“Indonesia merupakan negara yang unik dalam hal cuaca, Indonesia diapit oleh dua benua, yakni Benua Asia dan Australia, serta dua samudera, yaitu Samudera Hindia di barat Indonesia dan Samudera Pasifik di timur Indonesia,” jelas Rahmad saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Jumat (19/12/2025).

Ia menambahkan, kondisi tersebut membuat Indonesia dipengaruhi sistem musim monsun.

Pada periode monsun barat, sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim penghujan, sedangkan saat monsun timur, kondisi kemarau lebih dominan.

“Hal ini memberikan dampak cuaca yang berbeda-beda di setiap daerahnya,” kata Rahmad.

Pola Musim di DIY Sama Seperti Wilayah Lainnya

Menurut Rahmad, Daerah Istimewa Yogyakarta juga dipengaruhi pola musim yang sama seperti wilayah lain di Indonesia.

Secara umum, DIY mengalami musim penghujan pada Oktober hingga April, sedangkan musim kemarau berlangsung pada Mei sampai September.

Di antara dua musim tersebut terdapat masa peralihan atau pancaroba. Pada periode inilah karakter cuaca di DIY cenderung cepat berubah.

“Pada pagi hingga siang hari kondisi cuaca biasanya cukup panas, kemudian pada sore hari akan terjadi hujan yang dapat disertai fenomena lain seperti puting beliung, hujan es, dan sebagainya, namun kondisi ini berlangsung dengan cepat,” ujarnya.

Istilah Lokal sebagai Cara Warga Memahami Cuaca

Saat ditanya mengenai istilah “Jogja beda perempatan, beda cuaca”, Rahmad menilai ungkapan tersebut sebagai bentuk kreativitas warga dalam memahami fenomena cuaca.

Ia pun menyetujui penggunaan istilah tersebut sebagai bahasa lokal yang sederhana.

“Betul,” ujarnya.

Penjelasan Ilmiah “Cuaca Perempatan”

Rahmad menjelaskan bahwa istilah “cuaca perempatan” menggambarkan kondisi cuaca yang berbeda antarwilayah dalam waktu bersamaan.

Meski sering dianggap tidak lazim, fenomena ini merupakan kejadian yang umum secara meteorologis.

“DIY saat ini berkembang isu cuaca perempatan yang dapat diartikan bahwa keadaan cuacanya berbeda antar satu wilayah dengan wilayah yang lain, namun secara penjelasan meteorologi adalah fenomena cuaca biasa,” ujarnya.

Ia menerangkan bahwa hujan yang berasal dari awan cumulonimbus tidak selalu merata.

“Awan cumulonimbus memiliki cakupan luasan awan yang berbeda-beda, mulai dari 3 hingga 10 kilometer. Ketika satu wilayah mengalami hujan sementara wilayah di sekitarnya tidak, kondisi tersebut terjadi karena batas luasan awan berada di antara dua wilayah tersebut. Sehingga terkesan keadaan cuacanya terpisah,” lanjutnya.

Fenomena ini sering muncul ketika pagi hingga siang hari cuaca cerah berawan, lalu hujan turun cepat pada siang hingga sore hari akibat awan cumulonimbus.

Kondisi ini berbeda dengan hujan dari awan stratus yang cenderung merata di seluruh wilayah DIY.

cuaca, BMKG, hujan, Istilah “Jogja Beda Perempatan Beda Cuaca”, BMKG Yogyakarta Beri Penjelasan Ilmiah, Dampak Musim Monsoonal di Indonesia, Pola Musim di DIY Sama Seperti Wilayah Lainnya, Istilah Lokal sebagai Cara Warga Memahami Cuaca, Penjelasan Ilmiah “Cuaca Perempatan”, Pengaruh Proses Orografik di Wilayah DIY

ilustrasi hujan. BMKG Yogyakarta beri penjelasan secara ilmiah dari istilah ?Jogja Beda Perempatan Beda Cuaca? yang kerap digunakan warga.

Pengaruh Proses Orografik di Wilayah DIY

Walau begitu, Rahmad juga memaparkan bahwa secara geografis, DIY memiliki karakteristik cuaca tersendiri.

Rahmad menjelaskan bahwa pada pagi hingga siang hari, cuaca di wilayah DIY umumnya terasa panas.

Menjelang siang, kumpulan awan hujan mulai terbentuk di wilayah utara DIY, seperti di sekitar Gunung Merapi dan kawasan Menoreh.

Dalam beberapa waktu, hujan akan turun di wilayah tersebut sebelum awan bergerak dan menyebar ke bagian selatan DIY pada sore hari.

“Fenomena ini biasanya disebut sebagai pembentukan awan akibat dari proses orografik,” ujar Rahmad.

Ia kemudian memberi contoh konkret kondisi perbedaan cuaca yang kerap terjadi di DIY.

“Contohnya seperti ini, akibat dari proses orografik pertumbuhan awan terkonsentrasi di utara DIY (merapi), awan cumulus luasanya terbatas 3-10 km sehingga di selatannya masih tampak cerah,” ujarnya.

“Namun beralihnya waktu ke sore jika masih ada penguapan yang terjadi awan tersebut akan meluas ke selatan, tapi jika penguapannya sudah selesai hujannya tidak sampai ke selatan,” pungkasnya.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang