Benarkah di Jogja Ada Fenomena Beda Perempatan Beda Cuaca? BMKG Yogyakarta Beri Penjelasan
Fenomena perbedaan kondisi cuaca di Yogyakarta kerap dirasakan masyarakat, terutama saat memasuki awal musim hujan.
Dalam waktu bersamaan, hujan dapat turun deras di satu titik, sementara wilayah lain justru mengalami cuaca panas.
Situasi tersebut kemudian melahirkan istilah yang berkembang di tengah masyarakat setempat, salah satunya “Jogja beda perempatan, beda cuaca”.
Ungkapan ini digunakan warga untuk menggambarkan cuaca yang tidak merata meski masih berada dalam satu kawasan.
Forecaster BMKG Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Rahmad Tauladani, menjelaskan bahwa fenomena tersebut berkaitan dengan karakter hujan lokal serta dinamika atmosfer dalam skala kecil.
Istilah Lokal sebagai Cara Warga Memahami Cuaca
Menanggapi istilah “Jogja beda perempatan, beda cuaca”, Rahmad menilai ungkapan tersebut sebagai bentuk kreativitas masyarakat dalam menjelaskan kondisi cuaca di sekitarnya.
Ia pun menyetujui penggunaan istilah tersebut sebagai bahasa lokal yang sederhana dan mudah dipahami.
“Betul,” ujar Rahmad saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Jumat (19/12/2025).
Penjelasan Ilmiah “Jogja Beda Perempatan Beda Cuaca”
Rahmad menjelaskan bahwa istilah “cuaca perempatan” merujuk pada kondisi cuaca yang berbeda antarwilayah dalam waktu yang sama.
Meski sering dianggap janggal, fenomena ini sebenarnya merupakan kejadian yang lazim dalam kajian meteorologi.
“DIY saat ini berkembang isu cuaca perempatan yang dapat diartikan bahwa keadaan cuacanya berbeda antar satu wilayah dengan wilayah yang lain, namun secara penjelasan meteorologi adalah fenomena cuaca biasa,” ujarnya.
Ia menerangkan bahwa hujan yang berasal dari awan cumulonimbus tidak selalu terjadi secara merata di semua wilayah.
“Awan cumulonimbus memiliki cakupan luasan awan yang berbeda-beda, mulai dari 3 hingga 10 kilometer. Ketika satu wilayah mengalami hujan sementara wilayah di sekitarnya tidak, kondisi tersebut terjadi karena batas luasan awan berada di antara dua wilayah tersebut. Sehingga terkesan keadaan cuacanya terpisah,” lanjutnya.
Fenomena ini umumnya muncul saat pagi hingga siang hari kondisi cuaca cerah berawan, lalu hujan turun dengan durasi singkat pada siang hingga sore hari akibat awan cumulonimbus.
Kondisi tersebut berbeda dengan hujan yang berasal dari awan stratus, yang biasanya menyebabkan hujan merata di hampir seluruh wilayah DIY.
Pengaruh Proses Orografik di Wilayah DIY
Rahmad juga menjelaskan bahwa secara geografis, Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki karakteristik cuaca tersendiri.
Pada pagi hingga siang hari, cuaca di wilayah DIY umumnya terasa panas.
Memasuki siang hari, kumpulan awan hujan mulai terbentuk di wilayah utara DIY, seperti di sekitar Gunung Merapi dan kawasan Menoreh.
Dalam beberapa waktu, hujan akan terjadi di wilayah tersebut sebelum awan bergerak dan menyebar ke bagian selatan DIY menjelang sore.
“Fenomena ini biasanya disebut sebagai pembentukan awan akibat dari proses orografik,” ujar Rahmad.
Ia kemudian memberikan contoh konkret perbedaan cuaca yang sering terjadi di wilayah DIY.
“Contohnya seperti ini, akibat dari proses orografik pertumbuhan awan terkonsentrasi di utara DIY (merapi), awan cumulus luasanya terbatas 3-10 km sehingga di selatannya masih tampak cerah,” ujarnya.
“Namun beralihnya waktu ke sore jika masih ada penguapan yang terjadi awan tersebut akan meluas ke selatan, tapi jika penguapannya sudah selesai hujannya tidak sampai ke selatan,” pungkasnya.
Dampak Musim Monsoonal di Indonesia
Secara umum, hal ini tidak lepas dari karakter cuaca wilayah Indonesia yang khas akibat letak geografisnya.
Kondisi ini dipengaruhi posisi Indonesia yang berada di antara dua benua dan dua samudera.
“Indonesia merupakan negara yang unik dalam hal cuaca, Indonesia diapit oleh dua benua, yakni Benua Asia dan Australia, serta dua samudera, yaitu Samudera Hindia di barat Indonesia dan Samudera Pasifik di timur Indonesia,” jelas Rahmad.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut menyebabkan Indonesia dipengaruhi sistem musim monsun.
Pada periode monsun barat, sebagian besar wilayah Indonesia mengalami musim hujan, sementara pada monsun timur, kondisi kemarau lebih dominan.
“Hal ini memberikan dampak cuaca yang berbeda-beda di setiap daerahnya,” kata Rahmad.
Pola Musim di DIY Sama dengan Wilayah Lain
Menurut Rahmad, Daerah Istimewa Yogyakarta juga dipengaruhi pola musim yang sama seperti wilayah lain di Indonesia.
Secara umum, DIY mengalami musim penghujan pada Oktober hingga April, sedangkan musim kemarau berlangsung pada Mei hingga September.
Di antara dua musim tersebut terdapat masa peralihan atau pancaroba. Pada periode ini, perubahan karakter cuaca di DIY terjadi relatif cepat.
“Pada pagi hingga siang hari kondisi cuaca biasanya cukup panas, kemudian pada sore hari akan terjadi hujan yang dapat disertai fenomena lain seperti puting beliung, hujan es, dan sebagainya, namun kondisi ini berlangsung dengan cepat,” ujarnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang