Ramai Isu Pembatasan Medsos, Omped Visual Blak-blakan Kritik: Yang Kena Pertama Justru Kreator Kecil

Youtuber Omped Visual.
Youtuber Omped Visual.

 Nama Omped Visual kembali menjadi pusat perhatian setelah tampil di Podcast Kasisolusi. Kali ini, YouTuber muda tersebut tidak hanya hadir sebagai kreator hiburan, tetapi juga menyuarakan pandangan kritis terkait isu pembatasan media sosial yang tengah ramai diperbincangkan. Pernyataannya langsung memantik diskusi luas, terutama di kalangan anak muda dan pelaku industri kreator digital.

Pemilik nama asli Alfarid Ramadani, kelahiran 22 Oktober 2005 itu dikenal sebagai fenomena baru di dunia konten Indonesia. Di usia yang masih sangat muda, Omped Visual telah membangun basis audiens raksasa. Akun Instagram @omped_visual kini diikuti 1,2 juta pengikut, TikTok-nya menembus 11,2 juta followers, dan kanal YouTube-nya mencatat angka fantastis 14,2 juta subscriber. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!

Dalam podcast tersebut, Omped Visual menyampaikan pandangannya dengan bahasa lugas. Ia menilai bahwa wacana pembatasan media sosial berpotensi mematikan ruang tumbuh bagi kreator yang berangkat dari nol. Menurutnya, tidak semua kreator memiliki akses modal besar atau jalur alternatif di luar platform digital.

“Banyak yang hidupnya benar-benar bergantung dari konten,” ungkap Omped, dikutip Rabu 24 Desember 2025. 

Kalimat sederhana ini langsung menjadi sorotan karena dinilai merepresentasikan realitas generasi kreator hari ini. Yang membuat pernyataan Omped Visual terasa semakin kuat adalah latar belakangnya sendiri. Hingga saat ini, seluruh konten yang ia unggah masih direkam menggunakan handphone. Tidak ada kamera profesional, tidak ada studio, dan tidak ada tim produksi besar di balik layar. Namun dari kesederhanaan itu, lahirlah angka-angka yang sulit dipercaya.

Dalam kurun waktu dua tahun, Omped Visual berhasil mengumpulkan 14,2 juta subscriber YouTube. Salah satu pencapaian paling mencengangkan adalah ketika video shorts-nya menembus satu miliar tontonan hanya dalam satu bulan. Hingga kini, total tayangan di kanal YouTube-nya telah mencapai sekitar 13,7 miliar views.

Angka tersebut membuat publik tercengang. Jika dibandingkan dengan lima YouTuber terbesar di Indonesia, total tayangan Omped Visual tercatat hampir dua kali lipat lebih tinggi. Padahal, jumlah video yang diunggah hanya sekitar 800 video. Fakta ini membuat namanya kerap disebut sebagai “anomali” di dunia kreator digital.

Dalam Podcast Kasisolusi, Omped Visual juga menegaskan bahwa kekuatan utama konten bukan terletak pada alat, melainkan pada cerita. Ia mengaku sejak awal lebih fokus menjual ide dan sudut pandang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Konten sketsa komedi yang ia buat lahir dari observasi sederhana, namun dikemas dengan gaya yang mudah diterima semua kalangan.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi kritik halus terhadap anggapan bahwa kualitas konten selalu identik dengan peralatan mahal. Bagi Omped Visual, handphone sudah cukup selama cerita yang disampaikan mampu membangun emosi penonton.

Isu pembatasan media sosial yang dibahas dalam podcast ini pun dinilai semakin relevan dengan kondisi industri kreator saat ini. Omped Visual menilai bahwa media sosial telah menjadi ruang demokratis bagi anak muda untuk menunjukkan karya. Ia khawatir, jika pembatasan dilakukan tanpa pendekatan yang tepat, maka ruang tersebut justru akan menyempit bagi kreator baru.

Kehadiran Omped Visual di Podcast Kasisolusi menjadi magnet tersendiri. Tidak sedikit warganet yang menyebut bahwa pandangannya terdengar jujur karena lahir dari pengalaman nyata, bukan sekadar opini. Dari kreator yang memulai segalanya dengan HP, hingga menjadi pemilik belasan juta subscriber, Omped Visual dianggap sebagai representasi generasi digital yang tumbuh tanpa privilese.

Di tengah panasnya perdebatan soal masa depan media sosial, kisah Omped Visual menjadi cerminan bahwa di balik layar ponsel sederhana, ada mimpi besar yang sedang diperjuangkan. Dan bagi banyak orang, suara Omped Visual kini bukan lagi sekadar hiburan, tetapi juga peringatan tentang pentingnya menjaga ruang kreatif tetap terbuka.