Guru Besar UGM Ungkap Gejala Keracunan Formalin dan Klorin dari Makanan

klorin, formalin, Guru Besar UGM Ungkap Gejala Keracunan Formalin dan Klorin dari Makanan

Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof. apt. Zullies Ikawati, Ph.D kembali mengingatkan akan bahaya formalin dan klorin bagi tubuh.

Hal ini menyusul adanya temuan pangan tak layak konsumsi di pasar tradisional di wilayah Kota Salatiga beberapa waktu lalu.

Diberitakan sebelumnya, Tim Jejaring Keamanan Pangan Provinsi Jawa Tengah (Jateng) melakukan pengecekan keamanan pangan di pasar tradisional dan pasar modern di wilayah Kota Salatiga, Selasa (16/11/2025).

Dalam pengecekan itu, tim menemukan beberapa makanan mengandung klorin dan formalin.

Pertama, adalah kerupuk berwarna pink yang positif mengandung klorin.

Dan yang kedua adalah produk perikanan seperti teri nasi kecil, teri nasi besar, cumi kering asin, dan ikan layur yang positif mengandung formalin.

Kanit Indagsi Subdit Indaksi Ditreskrimsus Polda Jawa Tengah Kompol Muchamad Zazid mengatakan, dari total 54 sampel pangan yang diuji di Pasar Raya I Salatiga, ditemukan beberapa produk yang tidak memenuhi standar keamanan pangan.

Prof Zullies mengingatkan, klorin dan formalin tak seharusnya dicampur ke bahan makanan karena kedua zat kimia ini bisa merusak organ, dan dalam jangka panjang bisa meningkatkan risiko kanker tertentu.

Gejala keracunan klorin

Prof Zullies mengingatkan bahwa klorin adalah bahan kimia untuk disinfektan atau pemutih, biasanya digunakan pada air kolam atau cairan pembersih.

Jadi zat kimia ini jelas bukan untuk makanan.

Saat kita mengonsumsi makanan yang mengandung klorin, ada beberapa gejala yang mungkin timbul.

"Jika klorin sampai terkonsumsi, tubuh bisa mengalami iritasi saluran cerna, seperti mual, muntah, nyeri perut, dan diare," ujarnya pada Kompas.com, Kamis (18/12/2025).

Pada dosis lebih tinggi, atau terkonsumsi terus-menerus, klorin dapat merusak lapisan lambung dan usus, serta mengganggu keseimbangan bakteri baik di pencernaan.

Paparan klorin dalam jangka panjang juga bisa berpotensi membebani hati dan ginjal, karena organ ini harus bekerja keras menetralkan atau mengeluarkan racun.

"Itulah sebabnya klorin dilarang digunakan untuk mengawetkan atau memutihkan makanan," tegas Prof Zullies.

Gejala keracunan formalin

Prof Zullies juga menerangkan bahayanya mencampur formalin ke dalam makanan.

"Formalin adalah larutan formaldehida yang digunakan untuk pengawet mayat dan bahan industri, bukan untuk makanan," ujarnya.

Jika formalin tertelan, efek cepatnya bisa berupa rasa terbakar di mulut dan tenggorokan, mual, muntah, sakit perut, dan diare.

Paparan yang terus-menerus, meski dalam jumlah kecil, sangat berbahaya karena formalin bersifat toksik dan karsinogenik (pemicu kanker).

"Dalam jangka panjang, formalin dapat merusak hati, ginjal, dan sistem saraf, serta meningkatkan risiko kanker saluran cerna," sambungnya.

Karena itu, temuan formalin pada makanan di pasar merupakan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat dan perlu dihindari sepenuhnya.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang