Bukan untuk Dihirup, Guru Besar FKUI Ungkap Dampak Penyalahgunaan Gas Tertawa

Whip Pink, Dokter spesialis paru, Guru Besar FKUI, Bukan untuk Dihirup, Guru Besar FKUI Ungkap Dampak Penyalahgunaan Gas Tertawa, Untuk apa sebenarnya gas N2O digunakan?, Mengapa penyalahgunaan N2O berbahaya?, Apa dampaknya bagi sistem pernapasan?, Apakah N2O berkaitan dengan penyalahgunaan zat lain?

 Penggunaan produk tabung bertekanan yang mengandung gas nitrous oxide (N2O) belakangan menjadi sorotan publik.

Salah satunya adalah Whip Pink, produk yang sejatinya diperuntukkan bagi kebutuhan kuliner. Namun, di tengah maraknya perbincangan di masyarakat, muncul kekhawatiran terkait penyalahgunaan gas tersebut dengan cara dihirup untuk mendapatkan efek euforia sesaat.

Dokter spesialis paru dari Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc., Sp.P(K)., menjelaskan bahwa Whip Pink merupakan contoh produk tabung bertekanan yang berisi gas nitrous oxide.

Gas ini disimpan dalam tabung khusus sehingga dapat keluar dengan tekanan tertentu saat digunakan dengan alat yang sesuai.

Untuk apa sebenarnya gas N2O digunakan?

Secara umum, penggunaan nitrous oxide yang benar di masyarakat adalah untuk keperluan kuliner.

Gas ini biasa digunakan bersama whipped cream dispenser untuk membantu krim mengembang dengan cepat atau membentuk tekstur berbusa pada berbagai kreasi makanan dan minuman.

“Dalam penggunaan yang tepat, gas tidak ditujukan untuk dihirup. Gas hanya membantu proses pembuatan tekstur dan kemudian terlepas ke udara,” kata Erlina yang juga Guru Besar FKUI itu kepada Kompas.com, Jumat (30/1/2026).

Dengan demikian, keberadaan gas N2O dalam produk kuliner sebenarnya aman selama digunakan sesuai peruntukannya. Masalah baru muncul ketika gas tersebut disalahgunakan.

Mengapa penyalahgunaan N2O berbahaya?

Menurut Erlina, risiko utama muncul ketika nitrous oxide dihirup secara langsung untuk mencari efek euforia singkat atau sensasi “fly”. Efek inilah yang membuat N2O dikenal juga dengan sebutan “laughing gas”.

Penyalahgunaan inhalasi N2O bukan hanya berisiko bagi kesehatan, tetapi juga secara tegas tidak didukung oleh produsen.

Dalam ketentuan layanan produk, penggunaan untuk tujuan inhalasi disebutkan sebagai hal yang dilarang. Artinya, meskipun produk tersebut legal dan beredar sebagai produk kuliner, cara penggunaannya menjadi faktor penentu apakah aman atau justru berbahaya.

Apa dampaknya bagi sistem pernapasan?

Dari sisi medis, dampak paling serius dari penyalahgunaan N2O berkaitan dengan sistem pernapasan.

Ketika seseorang menghirup gas ini, oksigen dari udara akan “tersaingi” oleh N2O sehingga tubuh mengalami kekurangan oksigen atau hipoksia.

Kondisi hipoksia dapat menimbulkan berbagai gejala, mulai dari pusing, lemas, hingga hilang kesadaran.

Dalam kondisi yang lebih berat, kekurangan oksigen dapat menyebabkan cedera serius, termasuk kerusakan otak yang bersifat permanen.

Selain itu, pemakaian N2O secara berulang juga berisiko menimbulkan gangguan saraf yang berkaitan dengan defisiensi vitamin B12. Risiko lain yang lebih berat bahkan dapat mengancam nyawa jika penyalahgunaan terus berlanjut tanpa penanganan medis.

Apakah N2O berkaitan dengan penyalahgunaan zat lain?

Pertanyaan mengenai keterkaitan N2O dengan zat terlarang lain juga kerap muncul di tengah diskusi publik.

Erlina menjelaskan bahwa secara farmakologi, nitrous oxide merupakan gas yang bekerja sebagai depresan atau anestetik ringan dengan efek yang sangat singkat.

Sementara itu, zat seperti piperazine dan cathinone, termasuk turunannya, masuk dalam kelompok zat psikoaktif sintetis yang cenderung bersifat stimulan.

Dengan demikian, N2O memiliki jenis dan mekanisme kerja yang berbeda dibandingkan zat-zat tersebut.

Namun, pada sebagian individu yang terlibat dalam perilaku penyalahgunaan zat, penggunaan lebih dari satu zat atau polydrug use bisa saja terjadi. Hal ini biasanya dilakukan untuk mencari sensasi tertentu atau mengombinasikan efek dari berbagai zat.

Jika kondisi tersebut terjadi, risikonya justru meningkat karena efek antar zat dapat saling memperberat.

Dampak yang bisa muncul antara lain pingsan, gangguan pernapasan, gangguan irama jantung, dehidrasi, hingga perilaku berisiko lainnya.

Perlu ditegaskan, keberadaan atau penyalahgunaan N2O tidak secara otomatis berarti adanya penggunaan zat lain. Demikian pula sebaliknya.

“Menilai keterkaitan pada kasus tertentu harus berdasarkan pemeriksaan medis, penyelidikan oleh penegak hukum, dan informasi resmi, bukan dugaan atau rumor,” jelas Erlina.

Erlina mengingatkan masyarakat agar tidak menarik kesimpulan tanpa dasar yang kuat terkait penggunaan N2O maupun keterkaitannya dengan zat lain atau individu tertentu.

“Jangan menyimpulkan keterkaitan dengan zat lain atau dengan individu atau kejadian tertentu tanpa bukti medis dan informasi resmi. Jika ada gejala gawat, segera cari pertolongan medis,” tutupnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang