Guru Besar UGM Sebut Fenomena Blue Clay Jadi Penyebab Utama Longsor Pandanarum Banjarnegara, Apa Itu?

Fenomena blue clay, Dwikorita Karnawati, tanah longsor, longsor banjarnegara, longsor pandanarum banjarnegara, fenomena blue clay, penyebab longsor banjarnegara, penyebab tanah longsor di banjarnegara, longsor situkung banjarnegara, Guru Besar UGM Sebut Fenomena Blue Clay Jadi Penyebab Utama Longsor Pandanarum Banjarnegara, Apa Itu?, Fenomena Blue Clay Jadi Penyebab Longsor Banjarnegara, Update Pencarian Korban Longsor Banjarnegara Hari Keenam, Fokus Pencarian di Sektor A dan C, 17 Alat Berat dan 15 Alkon Dikerahkan

Longsor besar di Dusun Situkung, Pandanarum, Banjarnegara yang terjadi pada Sabtu (16/11/2025), masih menyisakan duka.

Di hari keenam pencarian, Tim SAR gabungan menghadapi hambatan cuaca dan kondisi tanah yang terus bergerak di lokasi bencana untuk mengevakuasi korban yang masih tertimbun.

Di tengah proses pencarian yang memasuki hari kelima, seorang pakar geologi dari UGM mengungkap faktor utama penyebab pergerakan tanah tersebut.

Fenomena blue clay atau lempung biru disebut menjadi elemen geologi yang selama ini terabaikan namun berperan besar dalam longsor Situkung.

Fenomena Blue Clay Jadi Penyebab Longsor Banjarnegara

Dilansir dari TribunJateng.com, Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan UGM, Prof Dwikorita Karnawati, menyebut material lempung biru (blue clay) sebagai penyebab utama pergerakan tanah yang memicu longsor besar di Banjarnegara.

Jenis tanah ini sangat sensitif terhadap air dan mengalami pembengkakan ekstrem ketika jenuh air.

"Ketika kering, keras seperti batu. Saat menyerap air berubah menjadi material mirip pasta atau odol. Ketika jenuh, tanah ini kehilangan kekuatan dan mudah bergerak merayap," ujar Dwikorita.

Ia menyatakan, longsor di Majenang Cilacap dan Pandanarum Banjarnegara menunjukkan pola geologi serupa meski faktor pemicunya berbeda.

Keduanya berada di wilayah pegunungan selatan hingga jajaran gunung tengah Pulau Jawa yang memiliki lapisan tanah lapukan tebal, gembur, dan rapuh di atas lapisan kedap air.

"Polanya sama, pemicunya yang berbeda," tegasnya.

Pada beberapa titik, longsor dipicu hujan ekstrem yang meresap ke tanah.

Namun di lokasi lain pemicunya dapat berasal dari getaran kendaraan besar, kendaraan berkecepatan tinggi, gempa bumi, hingga aktivitas manusia seperti pemotongan kaki lereng.

Dwikorita mengingatkan bahwa tanah yang bergerak hampir selalu memberikan sinyal.

Retakan tanah mendadak, bentuk tapal kuda, dinding rumah bergeser, pohon dan tiang listrik yang condong, hingga mata air baru dari lereng merupakan tanda bahwa tanah sedang bergerak.

tanda itu muncul, jangan tunggu suara gemuruh atau material mulai turun. Itu sudah fase terlambat," ujarnya.

Dalam dua pekan terakhir, longsor menimbulkan dampak besar di dua wilayah.

Dwikorita Minta Masyarakat Tingkatkan Kewaspadaan

Di Majenang, Cilacap, beberapa rumah tertimbun dan tanah amblas dua meter dengan retakan sepanjang 25 meter.

Sementara di Pandanarum, hujan deras selama tiga jam memicu longsor yang menimbun sedikitnya 25 warga dan menewaskan dua orang.

Menurut Dwikorita, pergerakan tanah di Banjarnegara sudah lama berlangsung dan memburuk karena keberadaan blue clay dengan mineral smektit, khususnya montmorillonite, yang mengembang ekstrem saat basah.

Ia meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama memasuki puncak musim hujan.

"Hentikan pemotongan lereng untuk jalan atau permukiman selama musim hujan. Pemerintah daerah perlu melakukan pemeriksaan berkala dan menyusun rencana evakuasi dini," ujarnya.

"Keselamatan manusia harus menjadi yang utama. Lereng-lereng rawan longsor harus terus dipantau, terutama saat curah hujan tinggi seperti sekarang," tutupnya.

Update Pencarian Korban Longsor Banjarnegara Hari Keenam

Pencarian korban longsor di Dusun Situkung, Desa dan Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara, Jawa Tengah, kembali dilanjutkan pada Jumat (21/11/2025).

Tim SAR gabungan menambah kekuatan dengan pengerahan belasan alat berat untuk mempercepat pencarian.

Badan SAR Nasional melaporkan jumlah korban meninggal mencapai 10 orang hingga hari keenam pencarian.

Sebanyak 18 warga lainnya masih belum ditemukan dan penyisiran terus dilakukan di titik-titik yang berpotensi terdapat korban.

Fokus Pencarian di Sektor A dan C

Kepala Kantor Basarnas Semarang, Budiono, menyampaikan bahwa total ada 10 korban meninggal dunia, termasuk dua body part yang ditemukan tim hingga pencarian hari keenam.

Pihaknya kini masih berupaya mengevakuasi 18 korban lain yang diduga tertimbun material longsor.

Ia menjelaskan, operasi pencarian dilakukan secara manual bersama ratusan relawan dan didukung belasan alat berat.

Fokus pencarian tetap berada di sektor A dan C berdasarkan hasil assessment serta keterangan warga.

"Karena di sektor itu terindikasikan terdapat korban," katanya saat pencarian hari keenam, Jumat (21/11/2025).

Tim akan menyusuri area dari sektor A hingga C sepanjang proses pencarian hari ini.

Budiono mengingatkan bahwa korban sebelumnya juga ditemukan di sektor C yang jaraknya sekitar satu kilometer dari rumah di sektor A.

17 Alat Berat dan 15 Alkon Dikerahkan

Budiono menjelaskan bahwa pengerahan alat berat ditingkatkan untuk memaksimalkan pencarian.

"Alat berat yang digunakan saat ini ada 17 dan masih perjalanan ada 5," jelasnya.

Selain itu, sebanyak 15 alkon turut dikerahkan untuk mendukung pencarian manual.

Tim juga menurunkan anjing pelacak K-9 untuk menyisir area terdampak longsor yang luas.

Menurut Budiono, luasan area terdampak yang mencapai 10 hektare serta tebalnya material longsor menjadi kendala utama pencarian.

Kondisi tanah yang masih labil juga membuat proses evakuasi harus dilakukan dengan ekstra hati-hati.

Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul “Fenomena Blue Clay Penyebab Utama Longsor Situkung Banjarnegara, Apakah Itu?” dan “Percepat Pencarian Korban Longsor Banjarnegara, 17 Alat Berat Dikerahkan”.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.