Hati-hati Sering Minum Obat Pereda Nyeri Lebih dari 15 Kali Sebulan Bisa Sebabkan Masalah Serius

Ilustrasi minum obat.
Ilustrasi minum obat.

 Obat pereda nyeri menjadi salah satu obat yang paling banyak disediakan dirumah. Obat ini sering mejadi pilihan solusi cepat ketika sakit kepala. Namun hati-hati terlalu sering mengonsumsi obat pereda nyeri justru bisa memperburuk keadaan.

Neurolog, yang juga pendiri Healthpil.com, Dr. Rahun Chawla mengimbau masyarakat untuk berhati-hati jika mengonsumsi obat pereda nyeri lebih dari 10 hingga 15 hari dalam sebulan.

“Kalau kamu sudah minum obat pereda nyeri lebih dari 10–15 hari dalam sebulan, STOP! Periksakan diri ke ahli saraf untuk mencari tahu penyebab utamanya,” kata dia dikutip dari laman Hindustan Times, Selasa 18 November 2025.

Bahaya Tersembunyi dari Terlalu Sering Minum Pereda Nyeri

Menurut Dr Chawla, otak bisa terbiasa dengan obat-obatan tersebut, sehingga kamu merasa butuh meminumnya terus-menerus hanya untuk merasa normal. Kondisi ini bisa memicu medication overuse headache (MOH), merusak fungsi hati dan ginjal, bahkan membuat sakit kepala semakin sering dan lebih parah.

“Minum obat pereda nyeri setiap sakit kepala tanpa tahu penyebabnya? Bagaimana kalau saya bilang obat pereda nyeri justru bisa memperparah keluhanmu? Medication overuse headache saat obat berubah menjadi penyakit itu sendiri,” tulis dia.

Lingkaran Setan Pereda Nyeri

Dr Chawla mengaku hampir setiap hari bertemu pasien yang terjebak dalam kondisi ini. Mereka minum obat pereda nyeri setiap hari tanpa diagnosis jelas atau tanpa rencana penanganan yang tepat. Ia menyebut fenomena ini sebagai epidemi sunyi yang sebenarnya bisa dibalik jika terdeteksi lebih awal.

Solusinya? Konsultasi ke ahli saraf, lalu dapatkan diagnosis yang tepat, dan ikuti penanganan yang sesuai penyebab aslinya. Otak dan tubuhmu akan sangat berterima kasih.

“Setiap hari di poliklinik, kami bertemu pasien sakit kepala kronis yang minum pereda nyeri hampir setiap hari selama berbulan-bulan tanpa konsultasi dengan ahli saraf, atau hilang dari kontrol, atau berpindah-pindah dokter tanpa riwayat yang jelas. Mereka akhirnya terjebak pada ‘universitas medis WhatsApp’,” kata dia.

Banyak Kasus Ternyata Bukan Sakit Kepala Biasa

Ia menambahkan bahwa sebagian besar pasien seperti ini sebenarnya menderita somatoform disorder, tension-type headache, atau migraine kronis. Namun, tidak jarang ditemukan kasus yang lebih jarang seperti:

  • IIH (Idiopathic Intracranial Hypertension)
  • Vaskulitis sistem saraf pusat (CNS vasculitis)
  • Pachymeningitis

Semua kondisi tersebut sebetulnya bisa dikendalikan dengan kontrol rutin ke ahli saraf. Sayangnya, banyak pasien mengabaikan evaluasi medis dan enggan minum obat pencegah sakit kepala karena takut efek samping jangka panjang. Lama kelamaan, frekuensi sakit kepala meningkat dan mereka makin sering mengonsumsi pereda nyeri.

Saat Obat Justru Menjadi Penyebab Sakit Kepala

Dr Chawla memperingatkan bahwa akan ada titik di mana sakit kepala muncul justru karena terlalu sering minum obat pereda nyeri. Pemakaian analgesik berulang dapat menyebabkan:

  • Jalur rasa nyeri di otak menjadi lebih sensitif
  • Ambang rasa sakit menjadi lebih rendah
  • Sistem trigeminovaskular menjadi hiper-responsif
  • Gejala putus obat (withdrawal) antara satu dosis dan dosis berikutnya
  • Sakit kepala pantulan (rebound headache)

Akhirnya, otak lupa bagaimana cara mengatur rasa sakit secara normal dan menjadi bergantung pada obat. Dr Chawla menyebut bahwa 20–30% pasien sakit kepala kronis yang datang ke klinik neurologi mengalami medication overuse headache.

Risiko Jangka Panjang Penggunaan Obat Berlebihan

Menurut Dr Chawla, pemakaian pereda nyeri secara berlebihan dalam jangka panjang dapat menimbulkan masalah kesehatan serius:

  • Paracetamol, NSAID, dan obat kombinasi dapat merusak hati dan ginjal
  • Meningkatkan risiko gastritis, tukak lambung, dan memperburuk migrain
  • Paracetamol berlebihan adalah salah satu penyebab paling umum kerusakan hati akibat obat
  • NSAID seperti diclofenac bisa menyebabkan gangguan ginjal, retensi cairan, perdarahan lambung, dan tekanan darah naik
  • Reseptor rasa sakit makin sensitif sehingga sakit kepala semakin sering dan parah

“Kalau kamu sudah minum obat pereda nyeri lebih dari 10–15 hari per bulan, berhentilah! Segera temui ahli saraf, periksa kondisi tubuhmu, dan tangani penyebab utamanya,” tulis dia.