Belajar dari Kasus Ammar Zoni, Psikolog Ungkap Penyebab Orang Sulit Lepas dari Narkoba

Kasus yang menjerat aktor Ammar Zoni kembali menjadi sorotan publik. Untuk keempat kalinya, sang aktor terseret kasus narkoba.
Kini, Ammar resmi dipindahkan ke Lapas Super Maximum Security Nusakambangan, setelah diduga terlibat dalam jaringan peredaran narkoba di dalam penjara.
“Motif yang diperoleh dari AZ ketika konsumsi narkotika jenis sabu, ganja adalah untuk pelampiasan. Ketika yang bersangkutan mengalami masalah rumah tangga, maka ia gunakan narkotika tersebut,” kata Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes M. Syahduddi, menurut laporan , Kamis (16/10/2025).
Pemindahan ini menjadi babak baru dari perjalanan panjang kasus narkoba yang menjeratnya sejak 2017.
Kasus narkoba yang dialami Ammar Zoni menyisakan pertanyaan dari sisi psikologis. Mengapa ada orang yang sulit lepas dari narkoba?
Terkait hal tersebut, psikolog mengungkap penyebab orang kecandun berulang atau relapse dalam penyalahgunaan narkoba.
Penyebab orang sulit lepas dari narkoba
Kepribadian yang impulsif bisa memicu relapse
Berkaca dari kasus Ammar Zoni, Psikolog ungkap tipe kepribadian seseorang yang rentan kambuh pada narkoba. Simak selengkapnya.
Sani Budiantini Hermawan, S.Psi, psikolog menuturkan, bahwa kecenderungan seseorang untuk kembali menggunakan narkoba, atau disebut relapse, sering kali berkaitan erat dengan faktor kepribadian.
“Kepribadian yang rentan itu biasanya orang-orang yang impulsif, yang ingin sensasi, yang enggak bisa menghadapi kehampaan atau kesepian,” ujar Sani kepada Kompas.com, Kamis (16/10/2025).
Menurutnya, individu dengan karakter seperti ini kerap mencari pelampiasan untuk mengisi kekosongan emosional. Salah satu bentuknya adalah kembali menggunakan zat adiktif karena memberikan efek “rasa senang” sementara.
“Ada juga kepribadian yang punya luka batin, jadi melampiaskan hal itu kepada narkoba karena dia nggak mau kehilangan sebagai bentuk pelarian atau distraction-nya (pengalihan),” tambahnya.
Artinya, bagi sebagian orang, narkoba bukan hanya masalah fisik, tetapi juga mekanisme pertahanan diri untuk menghindari rasa sakit emosional yang belum selesai.
Trauma dan lingkungan jadi pemicu kambuh
Selain faktor kepribadian, Sani menyebut bahwa trauma masa lalu dan lingkungan sosial juga memainkan peran besar.
“Luka batin yang berasal dari trauma masa lalu bisa membuat seseorang mencari kenyamanan lewat zat-zat tertentu,” jelasnya.
“Dan bahkan ketika sudah ingin sadar pun, orang bisa relapse lagi karena pengaruh lingkungan lebih besar,” tambahnya.
Hal ini bisa menjelaskan mengapa kasus seperti yang dialami Ammar Zoni kerap berulang.
Dalam situasi tekanan emosional atau lingkungan yang tidak mendukung pemulihan, seseorang dengan kepribadian impulsif dan luka batin yang belum sembuh akan lebih mudah kembali tergoda.
Kerusakan fungsi otak akibat kecanduan
Lebih lanjut, faktor biologis juga tak kalah penting. Kecanduan yang sudah berlangsung lama dapat memengaruhi fungsi otak, sehingga membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih atau menahan dorongan.
“Ketika orang memakai zat itu kan ada rasa happy, rasa senang. Nah, ketika zatnya diputus, akan muncul rasa sepi, kecemasan, dan hampa. Makanya orang bisa relapse,” kata Sani.
Menurutnya, pada tahap tertentu, kemampuan otak untuk menilai risiko pun ikut menurun.
“Ada orang yang secara psikologis masih bisa mengerem karena tahu risikonya, tapi ada juga yang tidak bisa berpikir logis lagi, karena otaknya sudah rusak akibat kecanduan,” lanjutnya.
Kondisi ini membuat seseorang bisa mengulangi perilaku berisiko tanpa memedulikan konsekuensinya, bahkan ketika ia sudah pernah ditangkap atau direhabilitasi.
Pemulihan bukan yanya tentang rehabilitasi
Kasus seperti ini mengingatkan bahwa kecanduan narkoba bukan sekadar persoalan moral atau hukum.
Namun masalah medis dan psikologis yang memerlukan pendekatan menyeluruh, baik rehabilitasi fisik, terapi psikologis, serta dukungan sosial.
Dengan kata lain, pemulihan sejati hanya bisa terjadi jika akar luka emosionalnya juga disembuhkan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.