Psikolog Ungkap 4 Trauma yang Bisa Dialami Korban Kasus Deepfake AI Porno di Semarang

deepfake ai sman 11 semarang, deepfake ai sma semarang, penyalahgunaan deepfake ai, penyalahgunaan deepfake ai picu trauma, trauma korban deepfake ai porno di semarang, Psikolog Ungkap 4 Trauma yang Bisa Dialami Korban Kasus Deepfake AI Porno di Semarang, 1. Konten deepfake bisa rusak citra diri dan privasi korban, 2. Rasa malu dan terhina bisa berujung trauma emosional, 3. Gangguan kepercayaan diri dan kesulitan menjalin hubungan sehat, 4. Efek trauma bisa berlangsung lama 

Kasus video deepfake AI di Semarang baru-baru ini kembali membuka mata publik terhadap bahaya penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan. 

Seorang alumni SMAN 11 Semarang, Chiko Radityatama Agung Putra, menjadi sorotan setelah menyebarkan video hasil rekayasa AI yang menampilkan wajah guru dan teman-temannya dalam bentuk video tak senonoh.

Video tersebut diunggah melalui akun media sosial X (Twitter) milik pelaku dan sejumlah korban telah melaporkan kasus tersebut ke Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Jawa Tengah.

Trauma korban deepfake

Di balik viralnya kasus ini, ada luka psikologis mendalam yang dialami para korban. 

Menurut Psikolog Meity Arianty, dampak yang muncul tidak hanya sebatas rasa malu dan marah, tetapi bisa berkembang menjadi trauma jangka panjang yang mengganggu kesejahteraan mental seseorang.

1. Konten deepfake bisa rusak citra diri dan privasi korban

Meity menjelaskan, video deepfake AI yang digunakan untuk tujuan seksual atau eksploitasi dapat merusak identitas dan privasi seseorang secara serius.

“Konten deepfake AI ini bisa memicu trauma, terutama karena sifatnya yang merusak citra diri dan privasi seseorang,” jelas Meity saat diwawancarai Kompas.com, Jumat (17/10/2025).

Bagi korban, penyebaran konten semacam itu seolah menghapus kendali atas tubuh dan reputasi mereka di ruang publik. 

Meskipun video tersebut merupakan hasil manipulasi, dampak sosial dan emosionalnya terasa nyata.

“Manipulasi gambar atau video yang digunakan untuk tujuan eksploitasi seksual dapat memengaruhi rasa harga diri dan kepercayaan diri korban, dan ini bisa berlanjut hingga dewasa,” tambahnya.

2. Rasa malu dan terhina bisa berujung trauma emosional

Psikolog yang berpraktik di Depok ini menyebutkan, pengalaman menjadi korban deepfake dapat menimbulkan perasaan terhina, cemas, dan bahkan memicu gangguan PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder).

“Trauma bisa menciptakan perasaan terhina, cemas, dan terisolasi, serta meningkatkan risiko gangguan mental seperti depresi, kecemasan sosial, dan PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder),” ujarnya.

Korban biasanya merasa tidak lagi memiliki kontrol terhadap dirinya sendiri, terutama karena konten yang sudah tersebar sulit dihapus sepenuhnya dari internet. 

Situasi ini dapat menimbulkan ketakutan berlebih, rasa malu, serta keinginan untuk menjauh dari dunia sosial maupun digital.

Dalam beberapa kasus, gejala trauma yang dialami juga bisa muncul dalam bentuk insomnia, kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari, hingga kesulitan mempercayai orang lain.

3. Gangguan kepercayaan diri dan kesulitan menjalin hubungan sehat

Lebih jauh, Meity menjelaskan, korban video deepfake kerap kehilangan rasa aman di dunia digital dan kesulitan untuk menjalin hubungan yang sehat di kemudian hari.

“Korban juga dapat merasa tidak aman di dunia digital, mengganggu kemampuan seseorang untuk menjalin hubungan sehat dan merasakan kontrol atas identitas mereka,” kata Meity.

Ketika rasa percaya diri dan keamanan psikologis terganggu, korban akan cenderung menutup diri dari lingkungan sosial. 

Rasa takut terhadap stigma masyarakat juga membuat mereka sulit untuk bangkit tanpa dukungan emosional dan profesional.

4. Efek trauma bisa berlangsung lama 

Meity juga mengungkap beberapa penelitian yang menemukan bahwa paparan terhadap konten pornografi yang dibuat tanpa izin, terutama dengan manipulasi wajah atau tubuh seseorang, dapat berefek cukup lama.

“Penelitian menunjukkan, paparan konten pornografi yang tidak sah, terutama yang melibatkan manipulasi citra diri, dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis dalam jangka panjang,” ungkapnya.

Ia menambahkan, trauma emosional semacam ini seringkali sulit pulih tanpa penanganan yang tepat. 

“Bahkan bisa menyebabkan trauma emosional yang sulit sembuh tanpa intervensi psikologis yang tepat,” ujarnya.

Pentingnya dukungan dan intervensi psikologis

Dalam menghadapi kasus seperti ini, Meity menekankan pentingnya dukungan sosial dan intervensi psikologis bagi korban. 

Mereka perlu mendapatkan pendampingan agar tidak merasa sendirian menghadapi tekanan yang timbul akibat penyalahgunaan teknologi AI.

Keluarga, teman, serta pihak sekolah dapat berperan penting dengan menciptakan lingkungan yang aman untuk berbicara dan memulihkan diri. 

Di sisi lain, penegakan hukum terhadap pelaku juga menjadi bentuk validasi dan perlindungan bagi korban.

Kasus deepfake di Semarang menjadi peringatan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu diiringi kesadaran etika penggunaannya.

Perlu upaya bersama untuk meningkatkan literasi digital dan empati sosial, agar teknologi AI digunakan secara bijak dan tidak disalahgunakan untuk merugikan orang lain.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.