BMKG Ungkap Faktor Pemicu Banjir yang Rendam Kawasan Muria Raya
Banjir melanda sejumlah wilayah di Muria Raya, Jawa Tengah, setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut hampir sepanjang hari dalam beberapa waktu terakhir.
Muria Raya adalah sebutan untuk wilayah metropolitan di Jawa Tengah bagian utara yang mencakup beberapa kabupaten (Juwana, Jepara, Kudus, Pati, Rembang, Blora) atau sering disebut juga eks-Karesidenan Pati.
Peristiwa ini terjadi di tengah puncak musim hujan yang berlangsung pada Januari hingga Februari 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat curah hujan tinggi disertai angin kencang sebagai pemicu utama.
Kondisi tersebut meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor di wilayah terdampak.
Muria Raya Masuk Zona Curah Hujan Tinggi
BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang menyebutkan, kawasan Muria Raya memang menjadi salah satu wilayah dengan curah hujan tinggi selama periode puncak musim hujan.
Intensitas hujan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir dinilai cukup signifikan dan meluas di sejumlah daerah Jawa Tengah.
Forecaster BMKG Ahmad Yani Semarang, Rani Puspita, menjelaskan bahwa berdasarkan data pengamatan, hujan dengan intensitas tinggi tercatat di sejumlah wilayah, terutama Pantura Timur, kawasan pegunungan atau dataran tinggi, serta Solo Raya.
“Untuk Muria Raya sendiri, faktor topografi sangat berpengaruh. Wilayahnya berada di dataran tinggi, sehingga ketika ada gangguan dinamika atmosfer, curah hujan di sana cenderung lebih tinggi,” ujar Rani, Selasa (13/1/2026), dilansir dari TribunJateng.com.
Durasi Hujan Panjang Picu Banjir dan Longsor
Rani menyampaikan bahwa hujan di kawasan Muria tidak hanya lebat, tetapi juga berlangsung dalam durasi yang panjang.
Kondisi ini menjadi pemicu utama terjadinya bencana hidrometeorologi, termasuk banjir dan tanah longsor.
“Di beberapa hari terakhir, hujan terjadi dari pagi hingga dini hari. Intensitasnya fluktuatif, dari ringan, sedang, sampai lebat, tapi terjadi terus-menerus sepanjang hari. Ini yang meningkatkan risiko longsor dan banjir,” jelasnya.
BMKG mencatat, di sejumlah wilayah Pantura Timur seperti Jepara dan Kudus, curah hujan bahkan sempat mencapai kategori ekstrem, yakni lebih dari 100 milimeter per hari.
Angin Kencang di Wilayah Pesisir
Selain hujan lebat, BMKG juga mencatat kecepatan angin maksimum mencapai 22 knot atau sekitar 40 kilometer per jam.
Kecepatan tersebut dinilai cukup kencang, khususnya untuk wilayah perairan dan aktivitas penerbangan.
“Kalau normalnya sekitar 20 kilometer per jam. Jadi yang tercatat saat ini sudah di atas rata-rata,” kata Rani.
Prakiraan Cuaca Tiga Hari ke Depan
Untuk tiga hari ke depan, BMKG memprakirakan wilayah Pantura, termasuk Kota Semarang, masih berpotensi diguyur hujan ringan hingga sedang.
Sementara itu, wilayah Pantura Timur diperkirakan masih berpeluang mengalami hujan dengan intensitas lebih tinggi.
Rani menegaskan, hujan lebat yang terjadi di Jawa Tengah saat ini tidak dipengaruhi langsung oleh siklon tropis.
Kondisi tersebut dipicu oleh pertemuan angin di atmosfer serta pergerakan massa udara dari Asia menuju selatan yang memperkuat pembentukan awan hujan.
Imbauan BMKG kepada Masyarakat
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada namun tidak panik, terutama warga yang tinggal di daerah rawan banjir dan longsor.
“Masyarakat diharapkan terus memantau informasi cuaca terbaru melalui kanal resmi BMKG, baik website maupun aplikasi Info BMKG, serta mengikuti arahan pemerintah daerah apabila terjadi kondisi darurat,” pungkasnya.
Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul "Hujan Berdurasi Panjang Jadi Penyebab Banjir di Kawasan Muria Raya".
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang