Trump Masih Narsis di Tengah Anjloknya Tingkat Kepuasan Publik
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan pidato malam yang jarang digelar dari Gedung Putih pada Rabu, 17 Desember 2025, dengan menyoroti klaim keberhasilan pemerintahannya di tengah melemahnya tingkat persetujuan publik terhadap kinerjanya, khususnya di bidang ekonomi.
Dalam pidato berdurasi kurang dari 20 menit tersebut, Trump membanggakan sejumlah capaian selama hampir setahun masa jabatan keduanya, sembari menyalahkan pemerintahan Demokrat sebelumnya atas tingginya harga kebutuhan pokok dan berbagai persoalan ekonomi yang masih dirasakan masyarakat.
"Sebelas bulan lalu, saya mewarisi kekacauan, dan sekarang saya sedang memperbaikinya," Trump dilansir CNA, Kamis.
Pidato itu disampaikan saat Partai Republik bersiap menghadapi pemilihan paruh waktu yang diperkirakan berlangsung ketat tahun depan. Namun, Trump hanya sedikit menawarkan kebijakan baru untuk meredam kenaikan biaya hidup.
VIVA Militer: Joe Biden dan Donald Trump
Sebaliknya, ia kembali menyalahkan mantan Presiden Joe Biden, kebijakan perdagangan sebelumnya, imigrasi, serta apa yang ia sebut sebagai sistem yang korup.
Dengan latar dekorasi liburan di Ruang Resepsi Diplomatik Gedung Putih, Trump juga menyinggung isu imigrasi, kejahatan kekerasan, dan hak-hak transgender, dengan nada keluhan yang mencerminkan ketidakpuasan terhadap kritik publik.
Meski demikian, Trump memuji kinerja pemerintahannya dalam sejumlah isu, mulai dari penurunan penyeberangan perbatasan hingga klaim penurunan harga beberapa komoditas. Ia berjanji kondisi Amerika Serikat akan lebih kuat pada tahun mendatang.
Di antara sedikit inisiatif kebijakan yang diumumkan, Trump menyatakan pemerintahannya akan menyalurkan “dividen prajurit” sebesar US$1.776 kepada sekitar 1,45 juta personel militer AS dalam waktu dekat.
Ia juga kembali mendorong usulan Partai Republik untuk memberikan bantuan tunai langsung kepada masyarakat guna membayar asuransi kesehatan, alih-alih subsidi melalui Undang-Undang Perawatan Terjangkau (Affordable Care Act), meski usulan tersebut belum mendapat dukungan cukup di Kongres.
"Saya ingin uang itu langsung diberikan kepada masyarakat agar mereka bisa memilih perawatan kesehatan sendiri. Satu-satunya pihak yang dirugikan adalah perusahaan asuransi," kata Trump.
Secara mengejutkan, Trump hanya menyinggung secara singkat isu luar negeri. Ia menyebut perang di Gaza, namun tidak membahas konflik di Ukraina maupun meningkatnya ketegangan dengan Venezuela, padahal isu global menjadi fokus utama pada tahun pertamanya kembali menjabat.
Penilaian Publik terhadap Ekonomi Memburuk
Pidato tersebut menjadi upaya Trump merespons kekhawatiran publik terkait keterjangkauan hidup, isu yang kerap ia sebut sebagai narasi Demokrat. Meski mengakui harga masih tinggi, Trump optimistis ekonomi AS berada di ambang “ledakan besar”.
“Saya akan menurunkan harga-harga itu dengan sangat cepat,” ujarnya, seraya menyebut kebijakan pajak, tarif, serta rencananya mengganti Ketua Federal Reserve Jerome Powell sebagai faktor pendorong pemulihan ekonomi.
Namun, data terbaru menunjukkan tantangan ekonomi masih signifikan. Inflasi tahunan AS, yang sempat turun ke level terendah empat tahun sebesar 2,3 persen pada April, kembali meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Pertumbuhan ekonomi memang mulai pulih setelah sempat terkontraksi, tetapi pertumbuhan lapangan kerja melambat dan tingkat pengangguran naik ke level tertinggi dalam empat tahun.
Presiden AS Donald Trump berlakukan tarif masuk barang impor ke AS
Kondisi tersebut tercermin dalam jajak pendapat Reuters/Ipsos terbaru yang menunjukkan hanya 33 persen warga dewasa AS menyetujui cara Trump menangani perekonomian.
Partai Demokrat pun menilai pidato Trump minim solusi konkret. Senator Mark Warner dari Virginia menyebut pidato tersebut sebagai “upaya menyedihkan untuk mengalihkan perhatian,” sementara Gubernur California Gavin Newsom, yang digadang-gadang sebagai kandidat presiden potensial 2028, menyindir Trump dengan memposting kata “Saya” lebih dari 700 kali di media sosial.
Meski demikian, Trump tetap mengklaim telah menarik investasi hingga US$18 triliun dan menyebut kebijakan tarifnya sebagai kunci kebangkitan ekonomi. "Satu tahun lalu negara kita mati. Sekarang kita adalah negara terpanas di mana pun di dunia," katanya.
Pidato tersebut disampaikan sehari sebelum rilis data inflasi terbaru dari Biro Statistik Tenaga Kerja, yang diperkirakan akan kembali menjadi ujian bagi klaim pemulihan ekonomi pemerintahan Trump.
Setelah menyentuh titik terendah empat tahun terakhir sebesar 2,3 persen pada bulan April, hanya tiga bulan setelah masa jabatan kedua Trump, inflasi tahunan sejak saat itu terus meningkat.
Secara umum, data pemerintah baru-baru ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi telah pulih sebagian setelah mengalami kontraksi selama beberapa bulan pertama tahun ini.
Namun, hal ini juga menunjukkan bahwa pertumbuhan lapangan kerja telah melambat selama masa jabatan kedua Trump, pengangguran telah meningkat ke level tertinggi dalam empat tahun, dan harga konsumen tetap tinggi.